Tampilkan postingan dengan label Kutipan Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan Tulisan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 November 2010

Etika Kristen

Manajemen Kita

27 Oktober 2010

Etika Kristen

St_Paul_Preaching_in_Athens_(1515).jpg
Ilustrasi, Paulus Sedang Berdialog Di Atena
Reformata.com - SEPERTI sudah dibahas  sebelumnya, masalah etika  adalah masalah moral, yaitu soal benar dan salah dalam suatu tindakan. Nilai-nilai yang menjadi standar seseorang dalam mene-tapkan sesuatu benar atau salah sudah barang tentu berbeda-beda bergantung kepada latar belakang, lingkungan, keyakinan dan kedewasaan seseorang.
Satu sumber utama etika adalah Alkitab yang menghasilkan etika Kristen. Etika Kristen berdasarkan kehendak-kehendak Allah seperti yang diwahyukan kepada manusia melalui Alkitab. Karena Allah adalah Sang Pencipta dan yang maha-kuasa, mahatahu dan kekal, etika Kristen bersifat mutlak, yaitu selalu benar, tidak bergantung kepada waktu, tempat dan lingkungan. Etika Kristen juga bersifat mengikat bagi umat-Nya, yaitu menuntut umat mematuhinya.
Berbeda dari sistem-sistem etika lain, etika Kristen berpusat kepada tugas (‘duty centered’) atau aturan tidak kepada hasil dari tindakan. Dalam sistem ini aturan-aturan adalah utama. Aturan-aturan etika yang akan mene-tapkan hasil, bukan sebaliknya. Aturan-aturan menjadi dasar seseorang bertindak. Dan aturan-aturan dipandang baik tidak bergantung kepada hasil dari menjalankannya. Dan bahkan suatu hasil harus dinilai berda-sarkan aturan-aturan yang ada. Seseorang boleh kaya, namun jika itu didapat dari korupsi, dia adalah orang yang beretika buruk. Dia lebih buruk dibandingkan dengan orang miskin yang mendapatkan penghasilannya dari usaha-usaha yang jujur.
Lawan dari sistem etika duty centered adalah end centered atau berpusat kepada tujuan. Dalam sistem ini yang lebih utama adalah hasil dari suatu tindakan. Dengan kata lain hasil yang diinginkan akan menetapkan aturan-aturan yang diambil dan hasil menjadi dasar tindakan seseorang. Suatu aturan dinilai baik karena memberikan hasil yang diharapkan. Karena itu kadang-kadang demi hasil aturan dilanggar, sehingga aturan-aturan sering tidak bersifat mutlak.
Di dalam sistem etika Kristen ada prinsip adanya hukum moral yang lebih tinggi karena adanya suatu kebaikan atau prinsip yang lebih tinggi daripada yang lain. Misalnya, manusia dituntut untuk mengasihi Allah lebih dari manusia (Lihat Matius 22: 36 – 38) bahkan dirinya sendiri. Lukas 14: 26 bahkan mengatakan “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Sudah barang tentu kita harus hati-hati dalam menerapkan prinsip ini, tidak dengan semena-mena tapi dengan hati-hati dan dengan hati yang tulus.
Manusia harus mengasihi sesama manusia lebih daripada materi (lihat Matius 22: 39), termasuk harta, posisi, prestasi, nama, waktu, dsb. Manusia bagi Alkitab adalah utama sedangkan materi ada-lah sekunder. Alam se-mesta dengan segala isinya dicipta Tuhan untuk dieksplor oleh manusia dan diguna-kan untuk kesejahtera-annya (Kejadian 1: 28). Untuk menebus manu-sia dari akibat dosa Allah rela mengirimkan Anak-Nya yang tung-gal, Yesus Kristus, datang ke dunia, men-derita bahkan mati di kayu salib yang hina. Karena Allah begitu mengutamakan manusia, orang percaya pun harus mengutamakan sesama manusia.
Manusia diminta mengasihi orang lain lebih daripada dirinya seperti diungkapkan dalam ayat yang sering disebut sebagai the golden rule dalam hubungan antarmanusia (Matius 7: 12). Kita diminta memiliki empati terhadap orang lain dan memperlakukan mereka seperti keinginan kita sendiri untuk diperlakukan orang lain. Manusia pada dasarnya memiliki sifat ego-sentris, sedang orang yang mau ikut Yesus harus menyangkal diri, yaitu tidak memusatkan perhatian pada diri sendiri tetapi kepada sesama manusia.
Dan walaupun Alkitab juga memerintahkan manusia tunduk kepada pemerintah, namun manusia harus mematuhi Allah lebih daripada pemerintah (KPR 5: 29). Kisah pembunuhan bayi-bayi oleh Firaun dalam Keluaran 1 menjadi ilustrasi sikap ini. Para bidan Yahudi yang takut Allah tidak mematuhi perintah Firaun itu sehingga bayi Musa selamat. Kisah Daniel yang tidak mau menyem-bah patung Darius sehingga akhirnya harus dihukum dimasuk-kan ke dalam kandang singa, dan kisah Sadrak, Mesak dan Abednego yang menolak perintah menyembah patung yang dibuat Raja Nebukadnesar juga menggambarkan manusia harus lebih taat kepada Allah daripada kepada pemerintah, raja atau pemimpin ketika apa yang mereka perintahkan tidak etis, yaitu bertentangan dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan.
Banyak orang tidak ingin membahas masalah etika karena di negeri yang korup ini etika sulit dijalankan. Banyak orang melakukan hal-hal yang tidak etis tapi dianggap biasa oleh banyak orang. Namun orang percaya harus concern dengan etika dan hidup berdasarkan etika kristiani jika dia ingin berkenan kepada Allah dan memberikan dampak di lingkungannya. Tuhan memberkati.v

Minggu, 31 Oktober 2010

Penyebab Tewasnya Firaun

Ini Dia Penyebab Tewasnya Firaun Tutankhamun

 
i
 
4 Votes
Quantcast

Penyebab kematian firaun Mesir yang paling populer, Raja Tutankhamun, akhirnya terungkap. Setelah dua tahun uji DNA dan CT scan pada mumi Raja Tut, dia dipastikan tewas karena komplikasi luka di kaki dan diperparah oleh penyakit malaria. Kenyataan lain yang terungkap, kemungkinan orang tua Tut adalah sepasang kakak adik.
http://ambassadors.net/archives/images/King_Tut_face_tomb.jpg
Studi DNA dan CT scan itu dipublikasikan dalam terbitan Journal of the American Medical Association, Rabu, 17 Februari 2010. Dua tahun pengujian terhadap mumi Tut, yang berusia 3.300 tahun, dan 15 mumi lain membantu mengakhiri mitos seputar firaun itu, yang masih berusia 10 tahun saat diangkat menjadi raja.
http://ambassadors.net/archives/images/whole_tut_vrt.jpg
Meski hanya memerintah Mesir selama sembilan tahun, Tut menarik perhatian publik. Kuburannya dipenuhi perhiasan dan artifak, termasuk topeng pemakaman yang terbuat dari emas, pada tahun 1922.
Studi menyebutkan bahwa Firaun Akhenaten, raja yang berupaya mengubah paham religius Mesir dari memuja banyak dewa menjadi satu dewa, sebagai ayah kandung Tut. Ibunya adalah salah satu adik perempuan Akhenaten.
Tut dinobatkan menjadi firaun pada usia 10 tahun pada 1333 Sebelum Masehi (SM). Dia memerintah selama sembilan tahun di masa-masa penting dalam sejarah Mesir Kuno.
Spekulasi berkembang terkait kematiannya pada usia 19 tahun. Sebuah lubang di tengkoraknya menambah spekulasi bahwa dia dibunuh. Hingga hasil CT scan tahun 2005 menunjukkan bahwa lubang tersebut kemungkinan diperoleh dari proses mumifikasi. Scan juga mengungkap kondisi patah tulang kaki yang dialami Tut.
http://ambassadors.net/archives/images/TUTANKH_AMUN_KING_TUT_CT_PRIVATE_MUMMY_HEAD_SCAN_(AD_000004.jpg
http://ambassadors.net/archives/images/TUTANKH_AMUN_KING_TUT_CT_PRIVATE_MUMMY_HEAD_SCAN_(AD_000003.jpg
http://ambassadors.net/archives/images/TUTANKH_AMUN_KING_TUT_CT_PRIVATE_MUMMY_HEAD_SCAN_(AD_000012.jpg
Tes terbaru memberikan gambaran bahwa firaun memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena penyakit bawaan. Kematiannya disebabkan komplikasi patah tulang dan malaria akut. DNA parasit malaria ditemukan di beberapa mumi.
“Patah tulang kaki karena jatuh kemungkinan menimbulkan kondisi menjadi berbahaya ketika infeksi malaria terjadi,” tulis artikel tersebut.
“Tutankhamun mengidap beberapa kelainan. Dia dibayangkan sebagai sosok muda, tetapi raja itu berada dalam kondisi lemah hingga memerlukan tongkat untuk berjalan.”
Sumber :
AP – dunia.vivanews.com / ambassadors.net

Senin, 25 Oktober 2010

Jawaban.com

Recharge Your Soul

Benih Dalam Kehidupan

MONDAY, 25 OCTOBER 2010

Total View : 294 times

Jika Anda menanam kejujuran, Anda akan menuai kepercayaan
Jika Anda menanam kebaikan, Anda akan menuai teman
Jika Anda menanam kerendahan hati, Anda akan menuai penghargaan
Jika Anda menanam ketekunan, Anda akan menuai kepuasan
Jika Anda menanam pertimbangan, Anda akan menuai cara pandang
Jika Anda menanam kerja keras, Anda akan menuai kesuksesan
Jika Anda menanam pengampunan, Anda akan menuai pemulihan hubungan
Jika Anda menanam iman di dalam Kristus, Anda akan menuai buah-buah roh
Jadi perhatikan benih apa yang Anda tanam saat ini; Apa yang Anda tanam saat ini akan menentukan apa yang akan Anda tuai nanti. 
Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. ~ Galatia 6:7
Sumber : Fathershands.com