Tampilkan postingan dengan label Renungan 2012 02. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan 2012 02. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2012

Mazmur 131 : 1 – 3


BERHARAP KEPADA TUHAN

Daud adalah orang yang rendah hati, dia tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk menyombongkan diri atas berkenannya Allah kepadanya. Dia adalah orang yang Allah pilih, kedekatannya dengan Allah menjadikan dia orang yang diberkati, dia bisa mengalahkan Goliat dan bisa mengalahkan berlaksa – laksa orang dalam peperangan, bisa mengejar hal – hal yang tinggi, tetapi dalam nas ini dia menyatakan sebaliknya “Tuhan aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal – hal yang terlalu besar atau hal – hal yang terlalu ajaib bagiku (ayat 1).

Bagaimana dengan manusia di jaman sekarang ? Kita seringkali berdebat dengan Allah ketika menemukan kesulitan dalam perjalanan hidup. Hal ini menunjukkan bagaimana kualitas pandangan kita terhadap Allah. Penghormatan itu sangat ditentukan oleh bagaimana kita bersikap. Iman kita dapat diketahui dari cetusan-cetusan hati dan sikap kita. Ketika beriman kepada Tuhan maka akan ada banyak hal yang hendak Tuhan singkapkan. Daud sangat berpotensi untuk sombong maka Tuhan tekukkan lututnya terlebih dahulu sehingga Daud tahu bagaimana merendahkan diri di hadapan Allah. Janganlah kita menjadi orang yang semakin tahu Firman Tuhan justru menjadi orang yang melawan Allah. Problema iman kita adalah ketika merasa dekat dengan Allah justru menjadi merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa dari Allah.


Daud berkata aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku (ayat 2), hal ini untuk menggambarkan relasinya dengan Allah yang seperti anak yang disapih. Bagi orang Israel, anak disapih pada usia 2 atau 3 tahun. Anak yang disapih pasti mengalami tangisan, gejolak karena harus putus dengan sumber hidupnya. Bagi seorang anak, ibunya adalah sumber ketersediaan segalanya baginya. Pada saat menyusu, seorang anak mendengar irama detakan jantung ibunya yang dapat menenangkan dia. Anak yang menyusu adalah sedang belajar mencintai demi untuk mendapatkan sesuatu. Tetapi begitu disapih, anak harus belajar untuk tetap mencintai, mempercayai dan tetap tidak beranjak dari ibunya. Daud juga mengajak kita untuk berharap kepada Tuhan dari sekarang sampai selama-lamanya (ayat 3). Dia menganggap Allah sebagai Allah anugerah karena masih diberi kesempatan untuk tetap berharap kepada~Nya. Amin (KAP) 


Sabtu, 06 Oktober 2012

Imamat 7 : 22 – 8 : 17



LEMAK DAN DARAH

Kalau ditanya kepada orang batak makanan favorit tentunya sebahagian besar mengatakan adalah sang-sang atau padar (panggang darah). Jawaban ini tentu mengarah kepada makanan yang diberi darah dalam mengolah masakan tersebut. Bahkan dalam pesta adat tanpa mempersiapkan makanan ini maka akan terasa hambar acara yang ditampilkan oleh tuan rumah, apalagi tanpa namargoar tentu pestanya akan menjadi tidak sempurna dalam adat yang berjalan. Bagimana kalau dikaitkan dengan nas ini ? apakah makan lemak dan darah dibenarkan. Dalam perjanjian lama Tuhan berfirman kepada Musa katakanlah kepada orang Israel: segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing janganlah kamu makan (ayat 22-23). Selanjutnya dalam nas ini dikatakan bahwa orang yang melanggar larangan ini apalagi memakan makanan yang dipergunakan untuk mempersembahkan korban api-apian bagi Tuhan maka nyawa orang yang memakan itu haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya (ayat 25-27).

Pada saat datang orang Farisi dan ahli taurat kepada Yesus dan berkata bahwa murid Yesus telah melanggar adat istiadat nenek moyang mereka, namun jawab Yesus “hai orang –orang munafik ! benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”. Lalau Yesus memanggil orang banyak dan berkata “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:7-11). Pengertian ini ditegaskan lagi oleh Yesus bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang ke jamban, tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Sungguh mendalam pengertian yang disampaikan oleh Tuhan Yesus,  namun masih saja orang berupaya mencari kebenaran yang tidak didasarkan pada alkitab tetapi hanya dalam pengertiannya sendiri. Kiranya kita yang membaca renungan ini semakin dewasa iman dan kepercayaan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk menyempurnakan Firman Tuhan yang telah ditaburkan sebagai Firman yang hidup. Puji Tuhan selamanya. Amin (KAP)