Tampilkan postingan dengan label Renungan 2012 01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan 2012 01. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Yosua 10 : 1 - 28


JANGAN TAKUT !!  ALLAH MENOLONG UMAT~NYA

Sekalipun Bangsa Israel melakukan kesalahan dengan mengikat perjanjian dengan bangsa Gibeon (Yosua 9:14) Namun Allah tetap menolong umat~Nya membela mereka. Seringkali kegagalan, yang menyebabkan kita tidak sampai pada kehendak Allah yang sempurna, dipakai~Nya sebagai kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan dan kasih~Nya kepada kita. Kalau saja Yosua mengabaikan Firman Tuhan yang disampaikan kepadanya “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyerahkan mereka kepadamu. Tidak seorangpun dari mereka yang akan dapat bertahan menghadapi engkau.” (ayat 8) tentu saja kemenangannya tidak akan dirasakan. Justru Yosua berdoa untuk suatu mujizat, dan Allah mengabulkan doanya (ayat 12). Orang percaya tidak boleh ragu-ragu berdoa memohon agar Tuhan akan bekerja secara luar biasa untuk menolong mereka. Umat Allah hidup di dalam dunia yang bermusuhan dan jahat dan dihadapkan dengan berbagai tantangan dan kesulitan sehingga mujizat kadang-kadang diperlukan agar rencana dan tujuan~Nya bagi mereka digenapi.

Cara tepat yang dipakai Allah untuk memperpanjang siang hari itu sungguh luar biasa. Allah dapat memperlambat perputaran bumi, memiringkan bumi pada porosnya seperti di utara di mana matahari tidak terbenam, atau menyebabkan sinar matahari membias. Cara apa pun yang dilakukan oleh~Nya, perpanjangan hari itu merupakan jawaban yang luar biasa atas suatu doa. Allah yang menciptakan bumi dan benda-benda angkasa dengan fungsi-fungsi masing-masing dapat juga menahan gerakan alami semua itu untuk mencapai maksud-Nya (Yesaya 38 : 7–8). Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa Tuhan mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel adalah Tuhan (Ayat 12-14).

Dari penjelasan di atas dapat di ketahui bahwa ada 4 peristiwa penting dalam nas ini yaitu (1). Jangan takut menghadapi musuh yang banyak, (2). Berdoa/ berbicara kepada Tuhan untuk meminta pertolongan, (3). Mataharipun berhenti berputar atas permintaan dalam doa itu. (4). Pertempuranpun dimenangkan oleh pasukan Yosua. Tentu melawan bangsa – bangsa yang besar ini tidaklah mudah begitu jika tanpa penyertaan Tuhan, Lima Raja berkumpul dan bersatu menyerang namun Yosua bersama tentaranya yang gagah perkasa tetap bergerak maju dan menyerang, bahkan Tuhan melemparkan batu-batu besar dari langit untuk menghancurkan mereka dengan hujan batu. Kalau sudah Tuhan berkenan maka jangan takut, Allah menolong umat~Nya. Amin. (KAP)

Kamis, 26 April 2012

Kisah Paras Rasul 2 : 37 – 42


BERTOBATLAH DAN MEMBERI DIRIMU DIBAPTIS

Pertobatan, pengampunan dosa, dan baptisan merupakan syarat-syarat mula-mula untuk menerima karunia Roh Kudus. Akan tetapi, tuntutan Petrus bahwa para pendengarnya harus dibaptiskan dahulu di dalam air sebelum menerima janji Roh Kudus jangan dipandang sebagai syarat mutlak untuk kepenuhan Roh, demikian pula baptisan dalam Roh bukan akibat langsung dari baptisan dalam air. Dalam situasi ini, Petrus menuntut baptisan air sebelum menerima janji itu karena dalam pemikiran para pendengar Yahudi, upacara baptisan dianggap sebagai termasuk dalam keputusan pertobatan. Akan tetapi, baptisan air tidak mendahului baptisan Roh dalam peristiwa yang dicatat dalam Pasal 9 : 17-18 (Rasul Paulus) dan pasal 10 : 44-48 (keluarga Kornelius). Setiap orang percaya setelah bertobat karena dosanya dan dengan iman menerima Yesus Kristus, harus menerima secara pribadi baptisan Roh Kudus. Di dalam nas ini karunia Roh Kudus jelas didambakan, dicari, dan diterima untuk diri sendiri; satu-satunya perkecualian diterima Perjanjian Baru mungkin terdapat dalam kasus Kornelius. Oleh karena itu, baptisan dalam Roh jangan dianggap sebagai karunia yang diberikan secara otomatis kepada seseorang yang percaya kepada Kristus.

Seruan pertobatan ada juga dituliskan dalam nas lain seperti Markus 1 : 15, Matius 3 :2, Markus 6 : 12, Lukas 5 : 32, Lukas 13 : 3 semuanya sangat memberi pedoman hidup untuk segera bertobat, karena pertobatan itu adalah suatu sikap untuk kembali kepada jalan kebenaran dan hidup. Karena memang itu adalah langkah awal untuk melakukan hubungan baik dengan Allah sehingga adanya suatu proses pendewasaan iman menjadi lebih baik dari sebelumnya. Begitu pula dengan baptisan, jelas dikatakan bahwa “satu Tuhan satu iman, satu baptisan” (Efesus 4 :5). Jadi pertobatan bagi yang sudah dibaptis tidak perlu melakukan baptisan ulang karena hanya satu kali dalam baptisan itu sendiri. Untuk itu marilah kita yang sudah dibaptis menjadikan pertobatan itu bagian dari pembaptisan yang sudah kita terima sebelumnya.

Tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan tanpa berbalik kepada Allah dengan pertobatan untuk memutuskan semua hubungan persekutuan jahat, meninggalkan dunia yang fasik, serta bersatu dengan Kristus dan umat~Nya dan memberi diri kepada pekerjaan Allah. Amin (KAP)


Rabu, 25 April 2012

Roma 8 : 22 – 27


PENGHARAPAN

Paulus dalam nas ini mengatakan ada 3 jenis keluhan yaitu keluhan ciptaan (ayat 22), orang percaya (ayat 23) Dan Roh Kudus (ayat 26). Ciptaan Allah dikiaskan sebagai seorang ibu yang bersalin. Memang gambaran itu sangat tepat, karena penderitaan yang dialami sangat susah, tetapi ada tujuan dan harapan yang indah, sama seperti pengalaman seorang ibu yang mau melahirkan. Lebih lanjut mengenai rintihan yang ke dua, yaitu rintihan orang percaya yang hidup menurut Roh Allah adalah kehadiran Roh Kudus dalam kita dan juga karya Roh Kudus dalam diri kita yang diuraikan dalam nas ini  menyebut bahwa Allah menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh karena Roh~Nya yang diam di dalam kita. Sekarang secara tidak lengkap Roh Allah melayani kita, atau "memimpin" kita, sehingga tubuh jasmani kita dipakai untuk menyatakan hidup Allah, tetapi mengingat apa yang dikatakan dalam ayat 26 rupanya pelayanan Roh zaman ini tidak menutup semua "kelemahan-kelemahan kita". Kalau tubuh jasmani kita sudah dibangkitkan, maka kita akan menyatakan hidup Allah secara sempurna. Dalam hidup kita harus puas dengan buah sulung Roh. Tetapi secara praktis, hasil tersebut tidak memuaskan, sehingga kita juga merintih dalam hati.

Orang percaya yang hidup menurut Roh Allah memang "merintih", karena tidak puas dengan kerohanian dirinya sendiri, tetapi keadaan tidak puas tersebut diimbangi dengan unsur pengharapan yang dimiliki. Tetapi Paulus mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya pengharapan merupakan sesuatu yang belum dilihat, atau belum dialami. Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun (ayat 25). Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya berdoa; tetapi roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan – keluhan yang tidak terucapkan. 

Bukan hanya itu saja, tetapi kita juga bermegah dalam kesengsaraan karena kita tahu bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan. "Paulus tidak menawarkan kehidupan Kristen yang bebas penderitaan. Dia menawarkan kehidupan Kristen yang susah, di mana kita merintih, tetapi rintihan kita disertai dengan pengharapan, dan pengharapan kita disertai dengan ketekunan. Jadi kesabaran menghasilkan suatu watak yang kuat dalam diri kita serta menolong kita supaya senantiasa lebih mempercayai Allah setiap kali kita bersabar, sampai akhirnya pengharapan dan iman kita menjadi kuat dan teguh. Amin (KAP)

Sabtu, 21 April 2012

Bilangan 15 : 1 - 31

PERSEMBAHKAN YANG TERBAIK BAGI TUHAN

Pada waktu Tuhan berfirman kepada Musa untuk disampaikan kepada orang Israel ada 2 hal yang penting yaitu (1). Korban api-apian (ayat 1-21) dan (2). Dosa yang tidak disengaja (ayat 22-31).  Untuk hal yang pertama adalah persembahan korban api-apian bagi Tuhan bertujuan menghasilkan bau yang menyenangkan hati Tuhan baik korban bakaran atau korban sembelihan, baik untuk membayar suatu nazar khusus atau sebagai persembahan sukarela atau pada waktu perayaan-perayaan (ayat 3). Sedangkan untuk hal kedua adalah berkaitan dengan dosa yang dilakukan tidak sengaja yang melalaikan salah satu dari perintah Tuhan yang telah di Firmankan kepada Musa maka akibatnya harus melakukan pengampunan dosa dengan melakukan korban persembahan untuk menghapus dosa, imam harus mengadakan perdamaian bagi segenap umat Israel sehingga mereka beroleh pengampunan (ayat  25). Namun Sebaliknya jika perbuatan itu dilakukan dengan sengaja baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista Tuhan, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya. Sebab ia telah memandang hina terhadap Tuhan dan merombak perintah~Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahan akan tertimpa atasnya (ayat 30-31)

Bagaimana dengan nas ini dimasa sekarang ? tentu korban persembahan yang terbaik adalah tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan dihadapan Allah dan dan dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan dihadapan Allah  (Roma 12 : 1-2). Oleh sebab itu marilah kita, oleh Dia senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kita lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban – korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah (Ibrani 13 : 15-16).

Demikian pula dalam hidup kita sehari – hari juga ada perbuatan yang dilakukan tanpa sengaja yang melanggar hukum positif, adapun kesalahan ini biasanya dibedakan hukumannya dengan perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Kalau perbuatan sengaja hukumannya lebih besar dibandingkan dengan perbuatan tidak sengaja dan perbuatan tidak sengaja itu cendrung disebut dengan pelanggaran bukan kelompok kejahatan. Jelasnya memang perbuatan sengaja sudah pasti hukuman lebih berat daripada perbuatan tidak sengaja. Hal ini berbanding lurus dengan nas ini makanya ada peluang untuk pengampunan dosa dari ketidaksengajaan, sedangkan perbuatan yang sengaja harus dimusnahkan atau dilenyapkan dari muka bumi. Amin (KAP)

Rabu, 07 Maret 2012

Imamat 5 : 1 - 6 : 13




MENANGGUNG KESALAHAN SENDIRI

Dalam hukum positif kesalahan biasanya dibedakan antara perbuatan sengaja dan perbuatan tidak sengaja, jika perbuatan itu telah dilakukan maka unsur tidak sengaja masih dapat dikatakan sebagai alasan pemaaf dalam arti masih dapat dikategorikan perbuatan yang tidak dapat dihukum misalnya disebabkan membela diri atau keadaan memaksa. Berbeda dengan nas ini ada 4 kategori dimana apabila seoarang berbuat dosa, yakni (1). jika ia mendengar seorang mengutuki, dan ia dapat naik saksi karena ia melihat atau mengetahuinya, tetapi ia tidak mau memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri. (2). Apabila seseorang kena pada sesuatu yang najis, baik bangkai binatang liar yang najis, atau bangkai hewan yang najis, atau bangkai binatang yang mengeriap yang najis, tanpa menyadari hal itu, maka ia menjadi najis dan bersalah. (3). Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apapun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya maka ia bersalah. (4). Atau apabila seseorang bersumpah teledor dengan bibirnya hendak berbuat yang buruk atau yang baik, sumpah apapun juga yang diucapkan orang dengan teledor, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah dalam salah satu perkara itu (ayat 1-4).  Ini menunjukkan bahwa kesalahan itu tidak dipandang dari sengaja atau tidak sengaja tetapi didasarkan kepada peristiwa itu telah terjadi maka seseorang itu bersalah.

Namun apabila seseorang bersalah dalam salah satu perkara di atas, maka orang itu  haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya dan haruslah ia mempersembahkan kepada Tuhan sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi korban penghapus dosa. Jadi pengampunan dosa sangat dipengaruhi oleh “pengakuan dosa” supaya dapat dihapus dosanya, dan dilaksanakan oleh imam mengadakan perdamaian bagi orang itu karena dosanya (ayat 5-6).

 Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang ? Oleh karena semua orang tidak luput dari dosa maka mari kita serahkan hidup kita hanya kepada Tuhan, dengan memohon pengampunan dosa melalui doa yang kita panjatkan baik secara pribadi maupun melalui doa safaat atau melalui “perjamuan kudus”. Dia lah Yesus penebus dosa kita. Amin (KAP)

Selasa, 06 Maret 2012

MENOLONG ORANG LAIN BUKAN TINDAKAN BODOH


Ketika kecil saya mempunyai hobi nonton film kungfu, pada waktu beranjak SMP saya sudah bisa mencari uang sendiri walau dalam dalam bentuk sederhana sehingga hobi saya dapat tersalurkan untuk nonton di bioskop tanpa minta uang dengan orang tua.

Pada suatu ketika malam minggu akan diputar film kungfu kesenangan saya yang dibintangi oleh Cheng Lung dan Fhushen pada waktu itu sangat terkenal. Dengan semangat yang menggebu saya persiapkan diri dengan membawa uang secukupnya saya menuju bioskop. Namun diperjalanan tiba - tiba ada seorang tua yang dengan memelas kepada saya menyatakan bahwa dia "lapar"belum makan dan minta pertolongan saya. Mendengar kata "lapar" terhenyuh hati saya. Benarkah ??? apa dia bohong, pikiranku hanya sepintas mencurigai orang itu. Namun hati kecil saya berkata "tolong dia" tentunya sangat berlawanan dengan pikiran saya, bagaimana mau nonton pasti bisa batal karena uang hanya cukup untuk nonton.

Tidak banyak berpikir dan spontan dengan memenangkan suarahati saya serahkan uang itu kepada orang tua yang memerlukan pertolongan, dan akhirnya saya pulang ke rumah kembali berjalan kaki "MEMBATALKAN ACARA MENONTON di bioskop.

Ke esokan harinya saya menceritakan peristiwa itu kepada teman - teman di sekolah. Hampir 100% mereka mengatakan saya BODOH mau mengambil tindakan demikian, merugikan diri sendiri tidak jadi nonton. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya iba dengan orang tua itu.

Saudara ku bagaimana tanggapan anda atas peristiwa saya ini, apakah anda sama dengan teman - teman saya mengatakan bahwa tindakan saya bodoh atau ada kata lain yang sejenisnya. Yang pasti Menolong orang lain bukan tindakan bodoh. Salam damai 

Imamat 6 : 14 – 7 : 21



KORBAN PERSEMBAHAN KEPADA ALLAH

Korban persembahan adalah bertujuan untuk memulian Allah, dalam nas ini dijelaskan bahwa ada beberapa korban persembahan kepada Allah antara lain yaitu (1). dengan korban sajian” yang dalam pelaksanaannya dibawa kehadapan Tuhan ke depan mezbah, inilah yang dilakukan oleh anak-anak harun. Semua korban sajian persembahan itu harus habis dibakar sehingga baunya menyenangkan hati Tuhan (6:14-15). Disamping itu ada pula (2). “korban penebus salah” yaitu korban untuk persembahan maha kudus, ditempat orang menyembelih korban bakaran disitulah harus disembelih korban penebus salah dan darahnya haruslah disiramkan pada mezbah itu sekelilingnya (7:1-2). Lebih lanjut juga ada (3).  “korban keselamatan yang harus dipersembahkan orang kepada Tuhan. Jikalau ia mempersembahkan  untuk memberi syukur haruslah beserta korban syukur itu roti bundar yang tidak beragi yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi yang diolesi dengan minyak, serta roti bundar dari tepung yang terbaik yang teraduk yang diolah dengan minyak (7:11)

Bagaimana dengan korban persembahan kita dimasa sekarang ini ? apakah masih relevan  dan perlu melakukan hal yang sama seperti masa nas di atas, tentunya kita harus menjawabnya dengan dasar Firman Tuhan pula. Tentang persembahan yang benar dikatakan “demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12 :1-2). Begitu pula dalam Ibrani 13:15-16 dikatakan pula sebab itu marilah kita, oleh Dia senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban – korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.

Tuhan Yesus Kristus telah mengorbankan diri-Nya sekali untuk selamanya sebagai korban penebus dosa, dan kita sebagai pengikut Kristus haruslah berkorban atas dasar itu. Mari aplikasikan dalam hidup sehari – hari. Tuhan memberkati kita semua. Amin (KAP)

Imamat 5 : 1 - 6 : 13



MENANGGUNG KESALAHAN SENDIRI

Dalam hukum positif kesalahan biasanya dibedakan antara perbuatan sengaja dan perbuatan tidak sengaja, jika perbuatan itu telah dilakukan maka unsur tidak sengaja masih dapat dikatakan sebagai alasan pemaaf dalam arti masih dapat dikategorikan perbuatan yang tidak dapat dihukum misalnya disebabkan membela diri atau keadaan memaksa. Berbeda dengan nas ini ada 4 kategori dimana apabila seoarang berbuat dosa, yakni (1). jika ia mendengar seorang mengutuki, dan ia dapat naik saksi karena ia melihat atau mengetahuinya, tetapi ia tidak mau memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri. (2). Apabila seseorang kena pada sesuatu yang najis, baik bangkai binatang liar yang najis, atau bangkai hewan yang najis, atau bangkai binatang yang mengeriap yang najis, tanpa menyadari hal itu, maka ia menjadi najis dan bersalah. (3). Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apapun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya maka ia bersalah. (4). Atau apabila seseorang bersumpah teledor dengan bibirnya hendak berbuat yang buruk atau yang baik, sumpah apapun juga yang diucapkan orang dengan teledor, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah dalam salah satu perkara itu (ayat 1-4).  Ini menunjukkan bahwa kesalahan itu tidak dipandang dari sengaja atau tidak sengaja tetapi didasarkan kepada peristiwa itu telah terjadi maka seseorang itu bersalah.

Namun apabila seseorang bersalah dalam salah satu perkara di atas, maka orang itu  haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya dan haruslah ia mempersembahkan kepada Tuhan sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi korban penghapus dosa. Jadi pengampunan dosa sangat dipengaruhi oleh “pengakuan dosa” supaya dapat dihapus dosanya, dan dilaksanakan oleh imam mengadakan perdamaian bagi orang itu karena dosanya (ayat 5-6).

 Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang ? Oleh karena semua orang tidak luput dari dosa maka mari kita serahkan hidup kita hanya kepada Tuhan, dengan memohon pengampunan dosa melalui doa yang kita panjatkan baik secara pribadi maupun melalui doa safaat atau melalui “perjamuan kudus”. Dia lah Yesus penebus dosa kita. Amin (KAP)

Senin, 06 Februari 2012

Mazmur 18 : 37 - 45



ALLAH PEMBELA YANG AGUNG

Dalam hidup banyak hal yang bisa terjadi, ada kalanya kita diperhadapkan pada hal – hal yang rumit bahkan kita sering berada dalam situasi yang sangat sulit. Persoalan kecil bisa menjadi besar, hal yang tidak masalah akan menjadi masalah, hubungan baik menjadi retak dan lain sebagainya. Bagaimana kita menyikapi persoalan ini ? tentu perlu kita mencari jalan keluar untuk setiap persoalan kita, tentunya kita membutuhkan pembela yang setia melindungi kita dari masalah – masalah tersebut. Ada orang yang minta pertolongan dengan kekuatan illah lain bahkan sampai menyangkal akan Tuhan. Tetapi yang benar adalah kita mencari pembelaan hanya kepada Tuhan. Yang pasti semua orang akan mencari pembela yang agung dan setia. “Kau berikan tempat lapang untuk langkahku dan mata kakiku tidak goyah. Aku mengejar musuhku sampai kutangkap mereka, dan tidak berbalik sebelum mereka kuhabiskan” (ayat 37-38).  Begitu kuatnya sang pembela itu, yang telah melindungi dengan kekuatan yang luar biasa, sampai aku diberikan kemampuan untuk bisa meremukkan mereka sehingga mereka tidak dapat bangkit lagi bahkan rebah di bawah kakiku. Bahkan dengan keperkasan untuk berperang Engkau tundukkan ke bawah kuasaku (ayat 39).

Lebih lanjut nas ini menjelaskan bahwa semua musuh lari tunggang langgang dan orang – orang yang membenci menjadi binasa, walaupun mereka berteriak minta tolong tetapi tidak ada yang menyelamatkan, mereka berteriak kepada Tuhan, tetapi tidak menjawab mereka. (40 – 42). Peristiwa dalam nas ini menunjukkan bahwa begitu perkasanya dan tak terkalahkan oleh lawan, menggiling mereka sampai halus mencampakkan seperti lumpur di jalan. Tidak ada satu kekuatan lain yang mampu menghalaunya. Bahkan Bangsa – bangsa yang tidak dikenal menjadi hamba. Kalau sudah demikian apa lagi yang membuat kita takut dan gentar karena Allah adalah pembela yang Agung, dari segala macam perkara dapat kita selesaikan atas pertolongan-Nya. Oleh sebab itu marilah kita yang sudah dibenarkan karena iman, maka kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menjadi penebus dosa manusia. Amin (KAP) 

Mazmur 18 : 30 - 36

ALLAH PERISAI BAGI SEMUA ORANG

Siapa yang berani mengandalkan dirinya sendiri dalam hidup maka akan kecewa karena tidak ada seorangpun yang mampu mengatasi segala sesuatu tanpa pertolongan Tuhan, demikian pernyataan yang sering diucapkan oleh rohaniawan baik dalam kotbah maupun dalam pelayanan konselling dengan jemaat. Benarkah demikian ? Tentu bagi orang yang tidak atau kurang mengenal Tuhan akan membantahnya dengan mengatakan bahwa “semuanya yang saya dapatkan ini adalah hasil jerih payah dengan kerja keras  !! dia mengatakan dirinya hebat, pintar, dan lain sebagainya. Sedangkan sebahagian orang ada yang mengatakan’ semua yang saya peroleh adalah berkat pertolongan Tuhan”. Berdasarkan nas ini tertulis “karena dengan Engkaulah aku berani menghadapi gerombolan, dan dengan Allahku aku berani melompati tembok. Adapun Allah jalannya sempurna; janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Sebab siapakah Allah selain dari Tuhan dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita ? (ayat 30-32).

 Allah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit. Yang mengajar tanganku berperang sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga (ayat 33-35), setiap orang yang bersikap berserah kepada-Nya tentu akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa dalam setiap langkah, rintangan sebesar apapun akan mampu dihadapi, bahkan sampai dengan perkara yang di luar kemampuan akan dapat di atasi dengan baik.  Bagaimana dengan diri kita ? apakah hidup kita mengandalkan Tuhan ? Selayaknya hidup kita ini akan binasa oleh dunia, hanya berkat pertolongan-Nya kita mampu menjalaninya, kita sadari atau tidak bahwa tangan Tuhan selalu menjaga agar kita kuat menghadapinya. “Tuhan adalah kekuatanku bersama Dia kutak akan goyah” demikian salah satu bait syair lagu yang sering kita nyanyikan, tentu ini bukan hanya sekedar kalimat tetapi iman percaya kita yang meyakinkan itu, tidak ada kekuatan lain selain Allah, biar bumi bergoyang dan langit runtuh.

Oleh karena itu mari kita serahkan hidup kita hanya kepada Tuhan, Dia berikan perisai keselamatan kepada kita, tangan kanan-Nya menyokong kita dan kemurahan-Nya membuat kita besar (ayat 36). Kalau sudah Tuhan sebagai perisai mengapa kita harus takut menghadapi dunia ini. Tuhan beserta kita. Amin (KAP)