Tampilkan postingan dengan label Batak 01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batak 01. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2012

China VS Batak

ikatan China dan Batak dengan menemukan Korelasi bahasa Mandarin dengan bahasa Batak Yaitu Sebagai berikut : 
* Pendahuluan = Tha Moe Lai.
* Adek = Ang Gie.
* Kakak = Ang Kang.
* Paman = Toe Lang.
* Istri paman = Nan Toe Lang.
* Kapan = An Dhi Khan.
* Kemarin = Nan Thoa Rhy.
* Tadi = Nan Khin Ing.
* Sekarang = Xao Na Rhy.
* Kedinginan = Man Cay Nga Lie.
* Pergi ke Pesta = Mha Khan Chak Chang.
* Banyak Gaya = Xie Tan Mie.
* Abu Arang = Xie Rha Boen.
* Org y diBenci = Xie Tha Fu Leong.
* Berbicara = Mhang Kha Tay.
* Ingus = Mhon Mhon Mie.
* Kesakitan = A Mhang Oei.
* Permisi = Chan Tha Bie.
* dari tadi = Xian Na Kien
* Penutup = Ng Acay Bei..
 
Ada lagi yang lain 
gak punya duit = Thang Mhar Hei Peng
Kucing = Hu Tieng
 Nenek = O Poeng Bo Ru
Kakek = O Poeng Ba Oa 

Kamis, 09 Juni 2011

ADAT BATAK

Tata Cara dan Urutan Pernikahan Adat Na Gok :

1. Mangarisika Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain. 

2. Marhori-hori Dinding/marhusip Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum. 

3. Marhata Sinamot  Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang pada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor). 

4. Pudun Sauta Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari : 1. Kerabat marga ibu (hula-hula) 2. Kerabat marga ayah (dongan tubu) 3. Anggota marga menantu (boru) 4. Pengetuai (orang-orang tua)/pariban   5. Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon. 

5. Martumpol (baca : martuppol) Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon). 

6. Martonggo Raja atau Maria Raja Adalah suatu kegiatan pra pesta/ acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/ acara yang bertujuan untuk Mempersiapkan kepentingan pesta/ acara yang bersifat teknis dan non teknis. Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/ acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan. Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.   

7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan) Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tata cara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/ kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen) 

8. Pesta Unjuk Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar : 1. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.   2. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak. 

9. Mangihut di ampang (dialap jual) Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria. 

10. Ditaruhon Jual Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal. 

11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon) 1. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria. 2. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru 

12. Paulak Unea  a. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan). b. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/ rumahnya dan selanjutnya memulai hidup baru. 

13. Manjahea Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.  

14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga) Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.

Senin, 07 Februari 2011

Instrumen dan Repertoar Gondang

Instrumen dan Repertoar Gondang

Gondang sabangunan atau disingkat gondang dalam masyarakat Batak Toba artinya menunjuk seperangkat alat musik (instrumen) tradisional yang dipergunakan pada saat menari (manortor) dalam suatu upacara. Tetapi istilah gondang juga dipakai untuk komposisi lagu, serta jenis tarian/tortor yang dibawakan kerabat dalam upacara. Dengan demikian gondang menunjuk pada 4 pengertian :
1. instrument musik
2. komposisi dan repertoar (untaian komposisi lagu)
3. jenis tortor kerabat
 
Pargonsi adalah para musisi yang memainkan instrumen gondang. Instrumen gondang sabangunan disebut juga ‘parhohas na ualu’ (delapan perangkat). Angka delapan punya makna penting dalam pemahaman Batak karena merujuk pada delapan mata angin (desa na ualu). Instrumen gondang terdiri dari :
1) taganing
2) sarune
3) gordang
4) ihutan
5) oloan
6) panggora
7) doal
8) hesek 
Ada lagi satu instrumen yang kadang dipakai sebagai pelengkap disebut odap

Taganing adalah seperangkat (lima buah) gendang berbentuk silinder (membranophone) yang dipukul dengan kayu. Pemain taganing memiliki peran dan tanggung jawab istimewa karena disamping memberi ritme (aba-aba) juga memainkan melodi suatu lagu bersama dengan sarune. Dialah dirigen dan pemberi semangat semua musisi, disamping harus menguasai seluruh repertoar gondang. Gordang juga gendang yang bentuknya lebih besar yang berfungsi sebagai pelengkap taganing dalam variasi ritme. Temponya selalu cepat sehingga tidak dapat diikuti penari. Penari mengikuti ritme ogung.

Sarune merupakan instrument tiup dari kayu berlidah ganda (double reed aerophone) yang memainkan melodi suatu lagu. Pemain sarune juga istimewa karena tanggung jawab penguasaan repertoar sama dengan pemain taganing.

Alat musik oloan, ihutan, panggora dan doal adalah gong dalam berbagai ukuran. Perannya juga bersifat ritmis. Begitu juga halnya odap. Ogung oloan yang bernada rendah menyajikan bunyi dengan ritme tetap agar dituruti oleh ogung yang lain. Karena itu disebut ‘oloan’ yang artinya diikuti. Ia memimpin semua ritme ogung. Oloan disambut oleh Ogung Ihutan (=yang mengikuti) atau disebut juga ‘pangalusi’ (=jawaban). Peranan ihutan hampir sama dengan oloan tetapi dengan nada lebih tinggi Disambut lagi dengan Ogung Panggora (= yang berseru, memberi efek kejut) dan Doal yang memberi variasi ritme tambahan. Hesek (hesek) kelihatannya seperti tidak penting namun terasa kurang pas tanpa kehadirannya untuk menyempurnakan keseluruhan ritme. Dua pukulan hesek berbunyi dalam satu pukulan doal sehingga memberi efek sinkopis yang harmonis. Panggora akan berbunyi bersama-sama oloan pada pukulan kedua dan sekali ia berbarengan dengan ihutan.

Dalam pengertian repertoar, suatu rangkaian musik yang berhubungan satu dengan berikutnya, disebut ‘Si Pitu Gondang’ yang terdiri dari tujuh lagu berurutan sehubungan dengan ritual agama Batak purba. Tidak diiringi dengan tarian. Bisa dimainkan keseluruhan tanpa henti tetapi bisa dengan jeda. Beberapa jenis repertoar asli untuk ritual lama sekarang sudah sangat jarang diselenggarakan sehubungan dengan pengaruh agama Kristen. Bahkan pada awal nya para misionaris melarang pelaksanaan gondang karena dianggap membangkitkan kembali gairah agama suku. Kalau pada masa zending kekhawatiran itu mungkin beralasan karena orang Batak yang dikristenkan baru melangkah setapak kedalam agama baru dari dunia lama. Kini pada generasi kelima bahkan keenam, kecemasan semacam itu kiranya berlebihan sebab pada umumnya generasi sekarang tidak merasakan lagi aroma agama purba dan semata-mata melihatnya dari segi kesenian belaka. Gereja agaknya sudah agak melunak dan memperbolehkan dengan syarat dimulai doa oleh pendeta atau pengurus gereja. Diskursus soal teologi Kristen mengenai gondang akan dibicarakan dibagian lain.

Rangkaian ini selalu dimulai oleh yang punya hajat (‘suhut’) membuka upacara dengan meminta ‘Tua ni Gondang’ (introduksi) artinya memohon tuah dari Tuhan untuk gondang yang akan diselenggarakan. Dengan ini maka upacara dimulai secara resmi. Repertoar selalu Gondang Mula-mula yang memulai mohon restu dari Maha Pencipta dan hadirin, dengan menutup kedua telapak tangan didepan dada. Disusul kemudian Gondang Somba-somba untuk memberi hormat takzim dengan menyedekap kedua telapak tangan yang mulai terbuka. Penari berputar dan berdiri ditempat. Dibagian tengah repertoar ada Gondang Pasu-pasu memberi berkat dan restu kepada kelompok boru (pihak kerabat pengambil isteri).

Dalam kelompok Pasu-pasu termasuk Gondang Sampur Marmeme untuk permohonan agar Boru diberi banyak keturunan, dan Gondang Sampur Marorot agar kelompok Boru dapat memelihara dan merawat anak-anaknya agar selalu sehat walafiat. Gondang Saudara termasuk juga pasu-pasu yang menggambarkan permohonan kepada yang Maha Kuasa untuk kemakmuran. Pada tahap akhir adalah komposisi Gondang Sitio-tio/Hasahatan (finale) menggambarkan kecerahan dan segala permohonan segera terwujud.

Repertoar asli yang antara lain memuat Gondang Mulajadi, Gondang Batara Guru, Gondang Mangalabulan dsb sangat jarang diperagakan. Mungkin akan dapat anda saksikan dalam upacara penganut agama Parmalim yang diselenggarakan pada waktu tertentu di desa Hutatinggi di Laguboti.
Semua kerabat dapat meminta gondang untuk menari misalnya ada kelompok tuan rumah disebut gondang Suhut, gondang Boru, gondang Hula-hula dan juga untuk kelompok muda-mudi diberi kesempatan untuk menari disebut Gondang Naposo.

Uning-uningan
Perlu ditambahkan bahwa dalam suatu pelaksanaan ritual lama pada umumnya hanya melibatkan orangtua meskipun ada diberi kesempatan muda-mudi berpartisipasi dengan acara Gondang Naposo. Pelaksanaan upacara bisa berhari-hari, mungkin tujuh hari. Ditengah-tengah waktu senggangnya para pemuda juga berlatih semacam ensembel disebut ‘uning-uningan’. Uning-uningan bukan termasuk ensembel untuk ritual tetapi lebih bersifat hiburan. Meskipun demikian dalam perkembangan selanjutnya disebut juga gondang yaitu Gondang Hasapi. Hasapi adalah kecapi yang memainkan melodi dalam uning-uningan. Ada juga penyanyi yang membawakan lagu-lagu kisah cinta, penderitaan, cita-cita dsb. Ensembel uning-uningan (gondang hasapi) terdiri dari alat musik :
1. hasapi (kecapi)
2. sarune getep (alat musik tiup dari kayu, lebih pendek dari sarune)
3. sulim (suling)
4. garantung (alat musik pukul dari beberapa kayu berbentuk pipih)
5. tulila
6. hesek
7. dll
 
Sebagai catatan penutup adalah kisah seorang tua bermarga Samosir, mantan pemain ‘opera tradisional’ Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang seluruh hidupnya diabdikan sebagai pemain musik tradisional gondang dan uning-uningan. Ia mengeluh karena sering merasa dilecehkan pihak pengundang yang menawar upah jasa dengan harga sangat rendah dibanding dengan musik keyboard. Untuk menawar keyboard, orang Batak bersedia membayar diatas Rp 2 juta tapi untuk gondang dibayar kurang dari Rp 1 juta, malah Rp 700,000, padahal delapan pemain gondang itu seharian keringatan.! Bisa dibayangkan bahwa tanpa ada penghargaan dari orang Batak sendiri maka perlahan-lahan semua pargonsi akan beralih profesi dan punahlah gondang sabangunan itu.

Horas..!!

Referensi:
1. (‘Einer Studienreise zur Erforschung der rituellen Gondang-Musik der Batak auf Nord Sumatra’ , diterbitkan di Hamburg)
2. (‘Musical and functional change in the gondang sabangunan tradition of the Protestant Toba Batak 1860s–1990s)

Jumat, 12 November 2010

Silsilah Dan Asal Usul Marga-Marga Batak dari Si Raja Batak

Silsilah Dan Asal Usul Marga-Marga Batak dari Si Raja Batak


Horas...Somba marhula hula, Manat mardongan tubu, Elek marboru..


Berikut adalah silsilah marga-marga batak yang berasal dari Si Raja Batak yang disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987. Silsilah Raja Batak ini dicoba diterjemahkan dalam bentuk postingan biasa, semoga tidak membingungkan bagi pembaca yang kebetulan ingin mencari asal mula marganya SI RAJA BATAK dan keturunannya.

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu :

1. GURU TATEA BULAN.
2. RAJA ISOMBAON.GURU TATEA BULAN

Dari istrinya yang bernama SI BORU BASO BURNING, GURU TATEA BULAN memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :

- Putra :
a. SI RAJA BIAK-BIAK, pergi ke daerah Aceh.
b. TUAN SARIBURAJA.
c. LIMBONG MULANA.
d. SAGALA RAJA.
e. MALAU RAJA.

- Putri :
1. SI BORU PAREME, kawin dengan TUAN SARIBURAJA.
2. SI BORU ANTING SABUNGAN, kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA, putra RAJA ISOMBAON.
3. SI BORU BIDING LAUT, juga kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA.
4. SI BORU NAN TINJO, tidak kawin (banci).

TATEA BULAN artinya "TERTAYANG BULAN" = "TERTATANG BULAN".
RAJA ISOMBAON (RAJA ISUMBAON) RAJA ISOMBAON artinya RAJA YANG DISEMBAH. Isombaon kata dasarnya somba (sembah).

Semua keturunan SI RAJA BATAK dapat dibagi atas 2 golongan besar :
a. Golongan TATEA BULAN = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga GOLONGAN HULA-HULA = MARGA LONTUNG.
b. Golongan ISOMBAON = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga GOLONGAN BORU = MARGA SUMBA.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera SI SINGAMANGARAJA), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan SI RAJA BATAK.

SARIBURAJA dan Marga-marga Keturunannya SARIBURAJA adalah nama putra kedua dari GURU TATEA BULAN. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama SI BORU PAREME dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis).
Mula-mula SARIBURAJA kawin dengan NAI MARGIRING LAUT, yang melahirkan putra bernama RAJA IBORBORON (BORBOR). Tetapi kemudian SI BORU PAREME menggoda abangnya SARIBURAJA, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.
Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu LIMBONG MULANA, SAGALA RAJA, dan MALAU RAJA, maka ketiga bersaudara tersebut sepakat untuk membunuh SARIBURAJA. Akibatnya SARIBURAJA menyelamatkan diri dan pergi mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan SI BORU PAREME yang sedang dalam keadaan hamil.

Ketika SI BORU PAREME hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, Tetapi di hutan tersebut SARIBURAJA kebetulan bertemu kembali dengan SI BORU PAREME.
SARIBURAJA datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan SI BORU PAREME di dalam hutan. SI BORU PAREME kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama SI RAJA LONTUNG.

Dari istrinya sang harimau, SARIBURAJA memperoleh seorang putra yang diberi nama SI RAJA BABIAT. Di kemudian hari SI RAJA BABIAT mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga BAYOANGIN, karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya.

SARIBURAJA kemudian berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus. SI RAJA LONTUNG, Putra pertama dari TUAN SARIBURAJA. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu :

- Putra :
a. TUAN SITUMORANG, keturunannya bermarga SITUMORANG.
b. SINAGA RAJA, keturunannya bermarga SINAGA.
c. PANDIANGAN, keturunannya bermarga PANDIANGAN.
d. TOGA NAINGGOLAN, keturunannya bermarga NAINGGOLAN.
e. SIMATUPANG, keturunannya bermarga SIMATUPANG.
f. ARITONANG, keturunannya bermarga ARITONANG.
g. SIREGAR, keturunannya bermarga SIREGAR.

- Putri :
a. SI BORU ANAKPANDAN, kawin dengan TOGA SIHOMBING.
b. SI BORU PANGGABEAN, kawin dengan TOGA SIMAMORA.

Karena semua putra dan putri dari SI RAJA LONTUNG berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama LONTUNG SI SIA MARINA, PASIA BORUNA SIHOMBING SIMAMORA. SI SIA
MARINA = SEMBILAN SATU IBU.

Dari keturunan SITUMORANG, lahir marga-marga cabang LUMBAN PANDE, LUMBAN NAHOR, SUHUTNIHUTA, SIRINGORINGO,
SITOHANG, RUMAPEA, PADANG, SOLIN.

Dari keturunan SINAGA, lahir marga-marga cabang SIMANJORANG, SIMANDALAHI, BARUTU. Dari keturunan PANDIANGAN, lahir
marga-marga cabang SAMOSIR, GULTOM, PAKPAHAN, SIDARI, SITINJAK, HARIANJA.

Dari keturunan NAINGGOLAN, lahir marga-marga cabang RUMAHOMBAR, PARHUSIP, BATUBARA, LUMBAN TUNGKUP, LUMBAN SIANTAR, HUTABALIAN, LUMBAN RAJA, PUSUK, BUATON, NAHULAE.

Dari keturunan SIMATUPANG lahir marga-marga cabang
TOGATOROP (SITOGATOROP), SIANTURI, SIBURIAN.

Dari keturunan ARITONANG, lahir marga-marga cabang OMPU SUNGGU, RAJAGUKGUK, SIMAREMARE.

Dari keturunan SIREGAR, lahir marga-marga cabang SILO, DONGARAN, SILALI, SIAGIAN, RITONGA, SORMIN.

SI RAJA BORBOR Putra kedua dari TUAN SARIBURAJA, dilahirkan
oleh NAI MARGIRING LAUT. Semua keturunannya disebut marga BORBOR. Cucu RAJA BORBOR yang bernama DATU TALADIBABANA (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
1. DATU DALU (SAHANGMAIMA), Keturunan DATU DALU melahirkan marga-marga berikut :
a. PASARIBU, BATUBARA, HABEAHAN, BONDAR, GORAT.
b. TINENDANG, TANGKAR.
c. MATONDANG.
d. SARUKSUK.
e. TARIHORAN.
f. PARAPAT.
g. RANGKUTI.

2. SIPAHUTAR, keturunannya bermarga SIPAHUTAR.
3. HARAHAP, keturunannya bermarga HARAHAP.
4. TANJUNG, keturunannya bermarga TANJUNG.
5. DATU PULUNGAN, keturunannya bermarga PULUNGAN.
6. SIMARGOLANG, keturunannya bermarga SIMARGOLANG.

Keturunan DATU PULUNGAN melahirkan marga-marga LUBIS dan HUTASUHUT. LIMBONG MULANA dan Marga-marga Keturunannya LIMBONG MULANA adalah putra ketiga dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga LIMBONG. Dia mempunyai 2 orang putra, yaitu PALU ONGGANG dan LANGGAT LIMBONG.
Putra dari LANGGAT LIMBONG ada 3 orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga SIHOLE dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga HABEAHAN. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu LIMBONG.

SAGALA RAJA Putra keempat dari GURU TATEA BULAN. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga SAGALA.

LAU RAJA dan Marga-marga Keturunannya LAU RAJA adalah putra kelima dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga MALAU. Dia mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. PASE RAJA, keturunannya bermarga PASE.
b. AMBARITA, keturunannya bermarga AMBARITA.
c. GURNING, keturunannya bermarga GURNING.
d. LAMBE RAJA, keturunannya bermarga LAMBE. Salah seorang keturunan LAU RAJA diberi nama MANIK RAJA, yang kemudian menjadi asal-usul lahirnya marga MANIK.

TUAN SORIMANGARAJA dan Marga-marga KeturunannyaTUAN SORIMANGARAJA adalah putra pertama dari RAJA ISOMBAON. Dari ketiga putra RAJA ISOMBAON, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
a. SI BORU ANTING MALELA (NAI RASAON), putri dari GURU TATEA BULAN.
b. SI BORU BIDING LAUT (NAI AMBATON), juga putri dari GURU TATEA BULAN.
c. SI BORU SANGGUL HAOMASAN (NAI SUANON).

SI BORU ANTING MALELA melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DJULU (OMPU RAJA NABOLON), gelar NAI AMBATON.

SI BORU BIDING LAUT melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DIJAE (RAJA MANGARERAK), gelar NAI RASAON.
SI BORU SANGGUL HAOMASAN melahirkan putra yang bernama TUAN SORBADIBANUA, gelar NAI SUANON.

NAI AMBATON (TUAN SORBA DJULU / OMPU RAJA NABOLON) Nama (gelar) putra sulung TUAN SORIMANGARAJA lahir dari istri pertamanya yang bernama NAI AMBATON. Nama sebenarnya adalah OMPU RAJA NABOLON, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga NAI AMBATON menurut nama ibu leluhurnya.NAI AMBATON mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. SIMBOLON TUA, keturunannya bermarga SIMBOLON.
b. TAMBA TUA, keturunannya bermarga TAMBA.
c. SARAGI TUA, keturunannya bermarga SARAGI.
d. MUNTE TUA, keturunannya bermarga MUNTE (MUNTE, NAI MUNTE, atau DALIMUNTE). Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung) :

a. Dari SIMBOLON : TINAMBUNAN, TUMANGGOR, MAHARAJA, TURUTAN, NAHAMPUN, PINAYUNGAN. Juga marga-marga BERAMPU dan PASI.
b. Dari TAMBA : SIALLAGAN, TOMOK, SIDABUTAR, SIJABAT, GUSAR, SIADARI, SIDABOLAK, RUMAHORBO, NAPITU.
c. Dari SARAGI : SIMALANGO, SAING, SIMARMATA, NADEAK, SIDABUNGKE.
d. Dari MUNTE : SITANGGANG, MANIHURUK, SIDAURUK, TURNIP, SITIO, SIGALINGGING.

Keterangan lain mengatakan bahwa NAI AMBATON mempunyai 2 orang putra, yaitu SIMBOLON TUA dan SIGALINGGING.
SIMBOLON TUA mempunyai 5 orang putra, yaitu SIMBOLON, TAMBA, SARAGI, MUNTE, dan NAHAMPUN. Walaupun keturunan NAI AMBATON sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan NAI AMBATON.
Catatan mengenai OMPU BADA, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung, OMPU BADA tersebut adalah keturunan NAI AMBATON pada sundut kesepuluh.Menurut keterangan dari salah seorang keturunan OMPU BADA (MPU BADA) bermarga GAJAH, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut :
a. MPU BADA ialah asal-usul dari marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, dan BARASA.
b. Keenam marga tersebut dinamai SIENEMKODIN (Enem = enam, Kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan MPU BADA pun dinamai SIENEMKODIN.
c. MPU BADA bukan keturunan NAI AMBATON, juga bukan keturunan SI RAJA BATAK dari Pusuk Buhit.
d. Lama sebelum SI RAJA BATAK bermukim di Pusuk Buhit, OMPU BADA telah ada di tanah Dairi. Keturunan MPU BADA merupakan ahli-ahli yang trampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
e. Keturunan MPU BADA menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah Dairi dan Tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK) : nama (gelar) putra kedua dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri kedua TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI RASAON. Nama sebenarnya ialah RAJA MANGARERAK, tetapi hingga sekarang semua keturunan RAJA MANGARERAK lebih sering dinamai orang NAI RASAON. RAJA MANGARERAK mempunyai 2 orang putra, yaitu RAJA MARDOPANG dan RAJA MANGATUR.

Ada 4 marga pokok dari keturunan RAJA MANGARERAK :
a. Dari RAJA MARDOPANG, menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga SITORUS, SIRAIT, dan BUTAR BUTAR.
b. Dari RAJA MANGATUR, menurut nama putranya, TOGA MANURUNG, lahir marga MANURUNG. Marga PANE adalah marga cabang dari SITORUS.
NAI SUANON (TUAN SORBADIBANUA) : nama (gelar) putra ketiga dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri ketiga TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI SUANON. Nama sebenarnya
ialah TUAN SORBADIBANUA, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai TUAN SORBADIBANUA. TUAN SORBADIBANUA mempunyai 2 orang istri dan memperoleh 8 orang putra. Dari istri pertama (putri SARIBURAJA) :
a. SI BAGOT NI POHAN, keturunannya bermarga POHAN.
b. SI PAET TUA.
c. SI LAHI SABUNGAN, keturunannya bermarga SILALAHI.
d. SI RAJA OLOAN.
e. SI RAJA HUTA LIMA. Dari istri kedua (BORU SIBASOPAET, putri Mojopahit) :
a. SI RAJA SUMBA.
b. SI RAJA SOBU.
c. TOGA NAIPOSPOS, keturunannya bermarga NAIPOSPOS. Keluarga TUAN SORBADIBANUA bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, TUAN SORBADIBANUA menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata SI RAJA HUTA LIMA terkena oleh lembing SI RAJA SOBU. Hal tersebut
mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh TUAN SORBADIBANUA. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang 3 orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki gunung Dolok Tolong sebelah barat.
Keturunan TUAN SORBADIBANUA berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.

Keturunan SI BAGOT NI POHAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. TAMPUBOLON, BARIMBING, SILAEN.
b. SIAHAAN, SIMANJUNTAK, HUTAGAOL, NASUTION.
c. PANJAITAN, SIAGIAN, SILITONGA, SIANIPAR, PARDOSI.
d. SIMANGUNSONG, MARPAUNG, NAPITUPULU, PARDEDE.

Keturunan SI PAET TUA melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. HUTAHAEAN, HUTAJULU, ARUAN.
b. SIBARANI, SIBUEA, SARUMPAET.
c. PANGARIBUAN, HUTAPEA

Keturunan SI LAHI SABUNGAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. SIHALOHO.
b. SITUNGKIR, SIPANGKAR, SIPAYUNG.
c. SIRUMASONDI, RUMASINGAP, DEPARI.
d. SIDABUTAR.
e. SIDABARIBA, SOLIA.
f. SIDEBANG, BOLIALA.
g. PINTUBATU, SIGIRO.
h. TAMBUN (TAMBUNAN), DOLOKSARIBU, SINURAT, NAIBORHU, NADAPDAP, PAGARAJI, SUNGE, BARUARA, LUMBAN PEA, LUMBAN GAOL.

Keturunan SI RAJA OLOAN melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. NAIBAHO, UJUNG, BINTANG, MANIK, ANGKAT, HUTADIRI, SINAMO, CAPA.
b. SIHOTANG, HASUGIAN, MATANIARI, LINGGA, MANIK.
c. BANGKARA.
d. SINAMBELA, DAIRI.
e. SIHITE, SILEANG.
f. SIMANULLANG.

Keturunan SI RAJA HUTA LIMA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. MAHA.
b. SAMBO.
c. PARDOSI, SEMBIRING MELIALA.

Keturunan SI RAJA SUMBA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. SIMAMORA, RAMBE, PURBA, MANALU, DEBATARAJA, GIRSANG, TAMBAK, SIBORO.
b. SIHOMBING, SILABAN, LUMBAN TORUAN, NABABAN, HUTASOIT, SITINDAON, BINJORI.

Keturunan SI RAJA SOBU melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. SITOMPUL.
b. HASIBUAN, HUTABARAT, PANGGABEAN, HUTAGALUNG, HUTATORUAN, SIMORANGKIR, HUTAPEA, LUMBAN TOBING, MISMIS.

Keturunan TOGA NAIPOSPOS melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. MARBUN, LUMBAN BATU, BANJARNAHOR, LUMBAN GAOL, MEHA, MUNGKUR, SARAAN.
b. SIBAGARIANG, HUTAURUK, SIMANUNGKALIT, SITUMEANG.

***DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)

Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga
dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut: "Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang; Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan", artinya: "Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput; Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji". Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
a. MARBUN dengan SIHOTANG.
b. PANJAITAN dengan MANULLANG.
c. TAMPUBOLON dengan SITOMPUL.
d. SITORUS dengan HUTAJULU - HUTAHAEAN - ARUAN.
e. NAHAMPUN dengan SITUMORANG.

CATATAN TAMBAHAN:

1. Selain PANE, marga-marga cabang lainnya dari SITORUS adalah BOLTOK dan DORI.

2. Marga-marga PANJAITAN, SILITONGA, SIANIPAR, SIAGIAN, dan PARDOSI tergabung dalan suatu punguan (perkumpulan) yang bernama TUAN DIBANGARNA.
Menurut yang saya ketahui, dahulu antar seluruh marga TUAN DIBANGARNA ini tidak boleh saling kawin. Tetapi entah kapan ada perjanjian khusus antara marga SIAGIAN dan PANJAITAN, bahwa sejak saat itu antar mereka (kedua marga itu) boleh saling kawin.

3. Marga SIMORANGKIR adalah salah satu marga cabang dari PANGGABEAN. Marga-marga cabang lainnya adalah LUMBAN RATUS dan LUMBAN SIAGIAN.

4. Marga PANJAITAN selain mempunyai ikatan janji (padan) dengan marga SIMANULLANG, juga dengan marga-marga SINAMBELA dan SIBUEA.

5. Marga SIMANJUNTAK terbagi 2, yaitu HORBOJOLO dan HORBOPUDI. Hubungan antara kedua marga cabang ini tidaklah harmonis alias bermusuhan selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang. (mereka yang masih bermusuhan sering dikecam oleh batak lainnya dan dianggap batak bodoh)

6. TAMPUBOLON mempunyai putra-putra yang bernama BARIMBING, SILAEN, dan si kembar LUMBAN ATAS & SIBULELE. Nama-nama dari mereka tersebut menjadi nama-nama marga cabang dari TAMPUBOLON (sebagaimana biasanya cara pemberian nama marga cabang pada marga-marga lainnya).

7. Pada umumnya, jika seorang mengatakan bahwa dia bermarga SIAGIAN, maka itu adalah SIAGIAN yang termasuk TUAN DIBANGARNA, jadi bukan SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari SIREGAR ataupun LUMBAN SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari PANGGABEAN. Selanjutnya biasanya marga SIAGIAN dari TUAN DIBANGARNA akan bertarombo kembali menanyakan asalnya dan nomor keturunan. Kebetulan saya marga SIAGIAN dari PARPAGALOTE.

8. Marga SIREGAR, selain terdapat di suku Batak Toba, juga terdapat di suku Batak Angkola (Mandailing). Yang di Batak Toba biasa disebut "Siregar Utara", sedangkan yang di Batak Angkola (Mandailing) biasa disebut "Siregar Selatan".

9. Marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, BARASA, NAHAMPUN, TUMANGGOR, ANGKAT, BINTANG, TINAMBUNAN, TINENDANG, BARUTU, HUTADIRI, MATANIARI, PADANG, SIHOTANG, dan SOLIN juga terdapat di suku Batak Pakpak (Dairi).

10. Di suku Batak Pakpak (Dairi) terdapat beberapa padanan marga yaitu:
a. BUNUREA disebut juga BANUREA.
b. TUMANGGOR disebut juga TUMANGGER.
c. BARUTU disebut juga BERUTU.
d. HUTADIRI disebut juga KUDADIRI.
e. MATANIARI disebut juga MATAHARI.
f. SIHOTANG disebut juga SIKETANG.

11. Marga SEMBIRING MELIALA juga terdapat di suku Batak Karo. SEMBIRING adalah marga induknya, sedangkan MELIALA adalah salah satu marga cabangnya.

12. Marga DEPARI juga terdapat di suku Batak Karo. Marga tersebut juga merupakan salah satu marga cabang dari SEMBIRING.

13. Jangan keliru (bedakan):
a. SITOHANG dengan SIHOTANG.
b. SIADARI dengan SIDARI.
c. BUTAR BUTAR dengan SIDABUTAR.
d. SARAGI (Batak Toba) tanpa huruf abjad "H" dengan SARAGIH (Batak Simalungun) ada huruf abjad "H".

14. Entah kebetulan atau barangkali memang ada kaitannya, marga LIMBONG juga terdapat di suku Toraja di pulau Sulawesi.

15. Marga PURBA juga terdapat di suku Batak Simalungun.

Mauliate godang, Horas.........

Senin, 08 November 2010

Tandok Raksasa

Tandok Raksasa

Oktober 15, 2009
Tandok raksasa dari Tobasa
Tandok raksasa dari Tobasa

Media Online Bersama Toba dot Com- “Mari kita lestarikan dan pertahankan kebanggaan kita pada nilai dan seni budaya,” sebutnya Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Sekretaris Daerah Propinsi RE. Nainggolan pada saat pembukaan Pesta Danau Toba Tahun 2009 yang ditandai dengan pemukulan gondang batak bertempat di Open Stage Parapat – Sumatera Utara. Dalam sambutan Gubsu dikatakan, mari kita sukseskan Pesta Danau Toba 2009 untuk mempromosikan potensi budaya dan pariwisata di Sumatera Utara, juga kita jadikan sebagai ajang seni, budaya, pariwisata andalan Sumatera Utara sekaligus sebagai sarana mempererat silaturahmi antar etnis yang ada dengan berbagai budayanya.

Dalam acara itu, kontingen Kabupaten Toba Samosir menampilkan atraksi yang menakjubkan para penonton yaitu dengan hadirnya patung sigale-gale raksasa yang sedang menortor di tengah open stage tersebut dan tidak kalah menariknya lagi yaitu adanya tandok raksasa yang berukuran tinggi sekitar 2 meter dan diameter 65 cm.

Tandok Raksasa
Tandok Raksasa
Tandok raksasa tersebut hasil anyaman Reni br. Manurung dan diserahkan kepada Sekdaprop Sumatera Utara RE Nainggolan.

Jumat, 05 November 2010

Ulos

Kamis, 24 Januari 2008


Ulos

1. HASIL PERADABAN
.
Ulos (lembar kain tenunan khas tradisional Batak) pada hakikatnya adalah hasil peradaban masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu. Menurut catatan beberapa ahli ulos (baca: tekstil) sudah dikenal masyarakat Batak pada abad ke-14 sejalan dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Hal itu dapat diartikan sebelum masuknya alat tenun ke Tanah Batak masyarakat Batak belum mengenal ulos (tekstil). Itu artinya belum juga ada budaya memberi-menerima ulos (mangulosi). Kenapa? Karena nenek-moyang orang Batak masih mengenakan cawat kulit kayu atau tangki. Pertanyaan: lantas apakah yang diberikan hula-hula kepada boru pada jaman sebelum masyarakat Batak mengenal alat tenun dan tekstil tersebut?
.
Pertanyaan itu hendak menyadarkan komunitas Kristen-Batak untuk menempatkan ulos pada proporsinya. Ulos pada hakikatnya adalah hasil sebuah tingkat peradaban dalam suatu kurun sejarah. Ulos pada awalnya adalah pakaian sehari-hari masyarakat Batak sebelum datangnya pengaruh Barat. Perempuan Batak yang belum menikah melilitkannya di atas dada sedangkan perempuan yang sudah menikah dan punya anak atau laki-laki cukup melilitkannya di bawah dada (buha baju). Ulos juga dipakai untuk mendukung anak (parompa), selendang (sampe-sampe) dan selimut (ulos) di malam hari atau di saat kedinginan.
.
Dalam perkembangan sejarah nenek-moyang orang Batak mengangkat kostum atau tekstil (pakaian) sehari-hari ini menjadi simbol dan medium pemberian hula-hula kepada boru (pihak yang lebih dihormat kepada pihak yang lebih menghormat).
.
2. MAKNA AWAL
.
Secara spesifik pada masa pra-kekeristenan ulos atau tekstil sehari-hari itu dijadikan medium (perantara) pemberian berkat (pasu-pasu) dari mertua kepada menantu/
anak perempuan, kakek/nenek kepada cucu, paman (tulang) kepada bere, raja kepada rakyat. Sambil menyampaikan ulos pihak yang dihormati ini menyampaikan kata-kata berupa berkat (umpasa) dan pesan (tona) untuk menghangatkan jiwa si penerima. Ulos sebagai simbol kehangatan ini bermakna sangat kuat, mengingat kondisi Tanah Batak yang dingin. Dua lagi simbol kehangatan adalah: matahari dan api.
.
Bagi nenek-moyang Batak yang pra-Kristen selain ulos itu an sich yang memang penting, juga kata-kata (berkat atau pesan) yang ingin disampaikan melalui medium ulos itu. Kita juga mencatat secara kreatif nenek-moyang Batak juga menciptakan istilah ulos na so ra buruk (ulos yang tidak bisa lapuk), yaitu tanah atau sawah. Pada keadaan tertentu hula-hula dapat juga memberi sebidang tanah atau ulos yang tidak dapat lapuk itu kepada borunya. Selain itu juga dikenal istilah ulos na tinonun sadari (ulos yang ditenun dalam sehari) yaitu uang yang fungsinya dianggap sama dengan ulos.
.
Ulos yang panjangnya bisa mencapai kurang lebih 2 meter dengan lebar 70 cm (biasanya disambung agar dapat dipergunakan untuk melilit tubuh) ditenun dengan tangan. Waktu menenunnya bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan tergantung tingkat kerumitan motif. Biasanya para perempuan menenun ulos itu di bawah kolong rumah. Sebagaimana kebiasaan jaman dahulu mungkin saja para penenun pra-Kristen memiliki ketentuan khusus menenun yang terkait dengan kepercayaan lama mereka. Itu tidak mengherankan kita, sebab bukan cuma menenun yang terkait dengan agama asli Batak, namun seluruh even atau kegiatan hidup Batak pada jaman itu. (Yaitu: membangun rumah, membuat perahu, menanam padi, berdagang, memungut rotan, atau mengambil nira). Mengapa? Karena memang mereka pada waktu itu belum mengenal Kristus! Sesudah nenek moyang kita mengenal Kristus, mereka tentu melakukan segala aktivitas itu sesuai dengan iman Kristennya, termasuk menenun ulos!
.
3. PERGESERAN MAKNA ULOS
.
Masuknya Injil melalui para misionaris Jerman penjajahan Belanda harus diakui sedikit-banyak juga membawa pergeseran terhadap makna ulos. Nenek-moyang Batak mulai mencontoh berkostum seperti orang Eropah yaitu laki-laki berkemeja dan bercelana panjang dan perempuan Batak (walau lebih lambat) mulai mengenal gaun dan rok meniru
pola berpakaian Barat. Ulos pun secara perlahan-lahan mulai ditinggalkan sebagai kostum atau pakaian sehari-hari kecuali pada even-even tertentu. Ketika pengaruh Barat semakin merasuk ke dalam kehidupan Batak, penggunaan ulos sebagai pakaian sehari-hari semakin jarang. Apa akibatnya? Makna ulos sebagai kostum sehari-hari (pakaian) berkurang namun konsekuensinya ulos (karena jarang dipakai) jadi malah dianggap “keramat”. Karena lebih banyak disimpan ketimbang dipergunakan, maka ulos pun mendapat bumbu “magis” atau “keramat”. Sebagian orang pun mulai curiga kepada ulos sementara sebagian lagi menganggapnya benar-benar bertuah.
.
4. ULOS DAN KEKRISTENAN
.
Bolehkah orang Kristen menggunakan ulos? Bolehkah gereja menggunakan jenis kostum atau tekstil yang ditemukan masyarakat Batak pra-Kristen? Jawabannya sama dengan jawaban Rasul Paulus kepada jemaat Korintus: bolehkah kita menyantap daging yang dijual di pasar namun sudah dipersembahkan di kuil-kuil (atau jaman sekarang disembelih dengan doa dan kiblat agama tertentu)? Jawaban Rasul Paulus sangat tegas: boleh. Sebab makanan atau jenis pakaian tidak membuat kita semakin dekat atau jauh dari Kristus (II Korintus 8:1-11). Pertanyaan yang sama diajukan oleh orang Yahudi-Kristen di gereja Roma: bolehkah orang Kristen makan babi dan atau bercampur darah hewan dan semua jenis binatang yang diharamkan oleh kitab Imamat di Perjanjian Lama? Jawaban Rasul Paulus: boleh saja. Sebab Kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita Roh Kudus (Roma 14:17). Analoginya sama: bolehkah kita orang Kristen memakai ulos? Jawabnya : boleh saja. Sebab Kerajaan Allah bukan soal kostum, jenis tekstil atau mode tertentu, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
.
Sebagaimana telah dikatakan di atas, pada masa lalu ulos adalah medium (pengantara) pemberian berkat hula-hula kepada boru. Pada masa sekarang, bagi kita komunitas Kristen-Batak ulos bukan lagi medium, tetapi sekedar sebagai simbol atau tanda doa (permohonan berkat Tuhan) dan kasih hula-hula kepada boru. Dengan atau tanpa memberi ulos, hula-hula dapat berdoa kepada Allah dan Tuhan Yesus Kristus memohon berkat untuk borunya. Ulos adalah simbol doa dan kasih hula-hula kepada boru. Kedudukannya sama dengan simbol-simbol lainnya: bunga, cincin, sapu tangan, tongkat dll.
.
5. NILAI ULOS BAGI KITA ORANG KRISTEN MODEREN
.
Sebab itu bagi kita komunitas Kristen-Batak moderen ulos warisan leluhur itu tetap bernilai atau berharga minimal karena 4 (empat) hal:
.
Pertama: siapa yang memberikannya. Ulos itu berharga karena orang yang memberikannya sangat kita hargai atau hormati. Ulos itu adalah pemberian mertua atau tulang atau hula-hula kita. Apapun yang diberikan oleh orang-orang yang sangat kita hormati dan menyayangi kita - ulos atau bukan ulos - tentu saja sangat berharga bagi kita.
.
Kedua: kapan diberikan. Ulos itu berharga karena waktu, even atau momen pemberiannya sangat penting bagi kita. Ulos itu mengingatkan kita kepada saat-saat khusus dalam hidup kita saat ulos itu diberikan: kelahiran, pernikahan, memasuki rumah dll. Apapun pemberian tanda yang mengingatkan kita kepada saat-saat khusus itu – ulos atau bukan ulos - tentu saja berharga bagi kita.
.
Ketiga: apa yang diberikan. Ulos itu berharga karena tenunannya memang sangat khas dan indah. Ulos yang ditenun tangan tentu saja sangat berharga atau bernilai tinggi karena kita tahu itu lahir melalui proses pengerjaan yang sangat sulit dan memerlukan ketekunan dan ketrampilan khusus. Namun tidak bisa dipungkiri sekarang banyak sekali beredar ulos hasil mesin yang mutu tenunannya sangat rendah.
.
Keempat: pesan yang ada dibalik pemberian ulos. Selanjutnya ulos itu berharga karena
dibalik pemberiannya ada pesan penting yang ingin disampaikan yaitu doa dan nasihat. Ketika orangtua atau mertua kita, atau paman atau ompung kita, menyampaikan ulos itu dia menyampaikan suatu doa, amanat dan nasihat yang tentu saja akan kita ingat saat kita mengenakan atau memandang ulos pemberiannya itu.
.
Disini kita tentu saja harus jujur dan kritis. Bagaimana mungkin kita menghargai ulos yang kita terima dari orang yang tidak kita kenal, pada waktu sembarangan secara masal, dengan kualitas tenunan asal-asalan? Tidak mungkin. Sebab itu komunitas Batak masa kini harus serius menolak trend atau kecenderungan sebagian orang “mengobral ulos”: memberi atau menerima ulos secara gampang. Ulos justru kehilangan makna karena terlalu gampang memberi atau menerimanya dan atau terlalu banyak. Bagaimana kita bisa menghargai ulos sebanyak tiga karung?
.
6. SIAPA MEMBERI - SIAPA MENERIMA?
.
Dalam Batak ulos adalah simbol pemberian dari pihak yang dianggap lebih tinggi kepada pihak yang dianggap lebih rendah. Namun keadaan kadang membingungkan. Ulos diberikan juga justru kepada orang yang dianggap pemimpin atau sangat dihormati. Dalam kultur Batak padahal ulos tidak pernah datang dari “bawah”. Lantas mengapa kita kadang memberi ulos kepada pejabat yang justru kita junjung, atau kepada pemimpin gereja yang sangat kita hormati? Bukankah merekalah yang seharusnya memberi ulos (mangulosi)? Kebiasaan memberi ulos kepada Kepala Negara atau Eforus (pimpinan gereja) selain mereduksi makna ulos juga sebenarnya merendahkan posisi kepala negara dan pemimpin gereja itu.
.
7. HANYA SALAH SATU CIRI KHAS
.
Ulos memang salah satu ciri khas Batak. Namun bukan satu-satunya ciri kebatakan. Bahkan sebenarnya ciri khas Batak yang terutama bukanlah ulos (kostum, tekstil),
tetapi bius dan horja, demokrasi, parjambaran, kongsi dagang, dan dalihan na tolu. Posisi ulos menjadi sentral dan terlalu penting justru setelah budaya Batak mengalami reduksi yaitu diminimalisasi sekedar ritus atau seremoni pernikahan yang sangat konsumtif dan eksibisionis. Hanya dalam rituslah kostum atau tekstil menjadi dominan. Dalam aksi sosial atau perjuangan keadilan politik, ekonomi, sosial dan budaya kostum nomor dua. Inilah tantangan utama kita: mengembangkan wacana atau diskursus kebatakan kita yang lebih substantif atau signifikan bagi kemajuan masyarakat dan bukan sekadar meributkan asesori atau kostum belaka.
.
8. ULOS DITERIMA DENGAN CATATAN
.
Ekstrim pertama: Sebagian orang Kristen-Batak menolak ulosnya karena dianggap sumber kegelapan. Padahal darah Tuhan Yesus yang tercurah di Golgota telah menebus dan menguduskan tubuh dan jiwa serta kultur Batak kita. Ulos artinya telah boleh dipergunakan untuk memuliakan Allah Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus.
.
Ekstrim yang lain: Sebagian orang Kristen-Batak mengeramatkan ulosnya. Mereka menganggap ulos itu keramat, tidak boleh dijual, tidak boleh dipakai. Mereka lupa bahwa Kristus-lah satu-satunya yang berkuasa dan boleh disembah, bukan warisan nenek moyang termasuk ulos.
.
Sikap kristiani: Tantangan bagi kita komunitas Kristen-Batak sekarang adalah menempatkan ulos pada proporsinya: kostum atau tekstil khas Batak. Tidak lebih tidak kurang. Bukan sakral dan bukan najis. Jangan ditolak dan jangan dikeramatkan! Jangan dibuang dan jangan cuma disimpan!
.
Sumber :
(Pdt Daniel.T.A.Harahap)
http://rumametmet.com

Poso-poso

Kamis, 07 Februari 2008


Poso-poso

KELAHIRAN ANAK adalah suatu even yang sangat ditunggu-tunggu suatu keluarga. Apalagi bagi komunitas Batak yang menganggap kesuburan (hagabeon) cenderung sebagai nilai tertinggi dalam hidup, tentu saja kelahiran anak adalah peristiwa yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan. Itulah sebabnya jaman dahulu di Tanah Batak bila suatu anak lahir (dahulu tentunya di rumah sendiri dengan bantuan bidan atau sibaso, bukan di RS) maka ayah si anak akan segera membelah kayu secara demonstratif, walaupun tengah malam, di depan rumahnya dengan menimbulkan suara keras. Jendela rumah pun dibuka lebar-lebar dan asap pun membubung dari perapian dapur. Inilah suatu tanda kepada segenap penghuni kampung telah terjadi kelahiran atau kehidupan baru.
.
1. MANGALLANG HAROAN atau MANGALLANG ESEK-ESEK
.
Keluarga yang mendapat anak pun secara spontan segera memotong ayam dan memasak nasi kemudian mengetok pintu rumah para tetangga sekaligus kerabat walau tengah malam atau dinihari mengundang makan. Ibu-ibu se kampung pun spontan berdatangan bersama anak-anak. Inilah yang dinamakan mangallang haroan atau mangharoani (menikmati makanan kedatangan). Di daerah Silindung disebut mangallang indahan esek-esek. Jamuan ini bersifat sangat spontan dan seadanya. Jika tidak ada ayam di kandang maka sayur labu siam dan ikan asin pun jadi. Sebab itu mangharoani benar-benar suatu pesta ungkapan sukacita yang spontan dan tulus dari suatu komunitas yang saling mengasihi atas kehidupan baru. Sementara itu di luar selama tiga malam para bapak mandungoi (bergadang) atau “melek-melekan” sambil bercengkerama dan “berjudi” sesamanya untuk menjaga si bayi dan ibunya dari kemungkinan ancaman kepada si bayi dan ibunya. Beberapa hari kemudian orangtua si perempuan (ompung bao) pun dan kerabat yang lain datang membawa aek ni unte (harafiah air asam) yaitu sejenis makanan sayuran bangun-bangun yang diberi asam dan disantan dengan campuran daging ayam untuk memulihkan raga ibu si anak dan menderaskan ASI. Selain jamuan spontan mangharoani, di Toba dikenal juga tradisi mangambit atau marambit (harafiah: menggendong), jamuan resmi yang diadakan keluarga untuk menyambut kelahiran si bayi dengan memotong babi. Pada kesempatan inilah keluarga dapat menyampaikan permohonan kepada ompungbao (ompung dari pihak perempuan) agar menghadiahkan sepetak tanah yang disebut sebagai indahan arian (makan siang) kepada cucunya atau seekor kerbau/ lembu yang disebut batu ni ansimun (biji ketimun, yang dapat berkembang-biak). Namun berhubung tanah yang dapat dibagi-bagikan semakin lama semakin sempit, maka tradisi mangambit ini berangsur hilang.
.
2. MANUTU AEK dohot MANGALAP GOAR
.
Sesudah beberapa minggu keluarga yang mendapat anak akan menentukan hari (maniti ari) untuk membawa anak yang baru lahir itu pertama kali ke mata air keramat atau homban (biasanya setiap kampung memiliki mata air keramat di tengah sawah) dipimpin oleh seorang dukun (datu). Inilah yang dinamakan upacara manutu aek. Melalui ritus ini keluarga menyampaikan persembahan kepada dewa-dewa terutama dewi air Boru Saniang Naga yang merupakan representasi kuasa Mulajadi na Bolon dan roh-roh leluhur untuk menyucikan si bayi dan menjauhkannya dari kuasa-kuasa jahat. Juga sekaligus meminta agar semakin banyak bayi yang dilahirkan (gabe). Acara ini dilanjutkan dengan memberikan nama atau mambahen goar kepada si bayi, yang juga dengan meminta rekomendasi dukun (datu). Bila dukun mengatakan nama itu tidak berakibat baik kepada si anak, maka orangtuanya pun akan mengganti nama itu. Beberapa umpasa yang sering diucapkan:
.
Dangka ni bulu godang pinangait-aithon.
Sai simbur magodang ma ibana dao ma panahit-nahiton.
.
Ijuk ma tarup ni sopo godang basbason tarup ni sopo balian.
Sai simbur ma ibana magodang pengpeng laho matua jala dao ma parsahitan.
.
Bagi kita komunitas Kristen-Batak jelas acara manutu aek bertentangan dengan iman kristiani kita sebab itu harus ditinggalkan. Begitu juga upacara mamampe goar (memberi nama) yang melibatkan dukun (datu). Kita percaya hanya darah Kristus sajalah yang dapat membersihkan dan menyucikan kita dari dosa dan kejahatan, dan melindungi kita dari segala bahaya. Upacara manutu aek dan mangalap goar biasanya dilanjutkan dengan membawa si bayi ke pekan (maronan, mebang). Kita tahu pada jaman dahulu pekan atau pasar (onan) terjadi satu kali seminggu. Onan adalah simbol pusat kehidupan dan keramaian, sekaligus simbol kedamaian. Ke sanalah orangtua si bayi membawa anak yang baru lahir itu. Orangtua si bayi sengaja membeli lepat (lapet) atau pisang di pasar dan membagi-bagikan kepada orang yang dikenalnya sebagai tanda syukur dan sukacitanya. Sebaliknya kerabat yang menjumpainya juga membekali si bayi dengan oleh-oleh kecil. Bagi kita komunitas Batak-Kristen moderen yang paling penting adalah menangkap makna atau nilai yang terkandung di dalam tradisi maronan atau mebang ini
yaitu: memperkenalkan dan membawa anak masuk kepada realitas atau dunia sekitarnya.
.
3. MEBAT atau MANGEBATI
.
Sesudah anak cukup kuat untuk dibawa berjalan-jalan maka keluarga pun memilih hari untuk membawanya untuk mengunjungi atau melawat (mebat, mangebati) kepada ompungnya (terutama ompung bao) dan keluarga lain seperti tulang. Keluarga ini pun membawa makanan (baca: memotong seekor babi) kepada ompung si bayi. Pada kesempatan ini ompungbao dapat memberikan ulos parompa (ulos kecil untuk menggendong atau mendukung anak bayi). Bagi kita komunitas Kristen-Batak moderen tradisi mebat (melawat) ini tentu juga baik untuk dipertahankan. Sebab makna yang terkandung dalam tradisi mebat ini adalah mendekatkan si anak secara emosional kepada kerabatnya, terutama ompungbao dan tulangnya.
.
4. PAIAS RERE
.
Ada kalanya suatu keluarga muda tinggal di rumah atau kampung mertuanya dan melahirkan anak di sana. Ada kebiasaan pada jaman dahulu, keluarga mengadakan jamuan paias rere (membersihkan tikar) untuk mertuanya sebagai tanda terima kasih atas kerepotan mertua mengurus bayi yang baru lahir. Bagi keluarga Kristen-Batak moderen yang menganut kesetaraan laki-laki dan perempuan, tentu saja adat paias rere ini harus dikritisi dan diberi makna baru hanya sebagai ucapan terima kasih. Sebab bagi kita anak laki-laki dan perempuan sama dan setara.
.
5. ULOS PAROMPA
.
Ulos parompa adalah ulos yang diberikan oleh ompung bao kepada cucunya. Pada jaman dahulu ulos kecil ini memang benar-benar fungsional atau digunakan untuk menggendong (mangompa) si bayi sehari-hari. Namun sekarang dalam prakteknya ulos parompa tinggal merupakan simbol kasih ompung bao sebab komunitas Batak moderen sudah menggunakan tempat tidur bayi, kain panjang batik, gendongan dan ayunan untuk menggendong bayi.
.
Ada kebiasaan komunitas Batak sekarang terutama di kota-kota untuk mengobral ulos parompa. Bukan hanya ompung bao, tetapi seolah-olah semua hula-hula harus memberikan ulos parompa kepada bayi yang baru lahir. Obral ulos ini hanya mengurangi makna ulos parompa.
.
7. PANDIDION NA BADIA
.
Inilah isi Pengakuan Iman (Konfessi) HKBP tentang baptisan kudus:
.
Kita percaya dan menyaksikan : Baptisan kudus adalah perantaraan anugerah Allah kepada manusia, sebab melalui baptisan orang percaya menerima keampunan dosa, kelahiran kembali, kelepasan dari maut dan kuasa iblis, serta hidup yang kekal. Dengan ajaran ini kita menyaksikan: anak kecil pun harus dibaptiskan karena dengan pembabtisan itu mereka juga masuk ke dalam persekutuan orang-orang yang ditebus oleh Yesus. Ini juga berhubungan dengan pembekatan anak-anak oleh Tuhan Yesus. (Kis 2:41, 10:48, 16:33, Roma 6:4, I Kor 10:4, Titus 3:5, Ibrani 11:29, I Pet 3:21).
.
Dengan penjelasan di atas jelaslah bagi kita bahwa Pandidion na Badia (baptisan kudus) berbeda sama sekali dengan tradisi manutu aek dan mamampe goar. Baptisan adalah sakramen yang menjadikan seorang anak masuk ke dalam Kerajaan Allah, pewaris segala berkat, dan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Pemberian nama adalah hak dan urusan orangtua si bayi. Sebab itu baptisan bukanlah “mengambil nama” (mangalap goar) dari gereja. Gereja membabtiskan si bayi untuk masuk Kerajaan Allah bukan memberikan nama si bayi. Nama bisa saja berganti. Namun babtisan tetap sekali untuk selamanya.
.
Dalam Roma 6:4 melalui pandidion na badia atau baptisan kita dijadikan satu atau sepokok (sanghambona) dengan Kristus yang mati (bagi dosa) dan Kristus yang bangkit (hidup bagi Allah). Sebab itu dasar baptisan adalah mempersatukan orang percaya dengan kematian dan kehidupan Kristus. Sebab itu sama seperti kematian Kristus, babtisan itu pun bagi kita hanya terjadi sekali untuk selama-lamanya. Sebagai orang-orang Kristen-Batak sebaiknya kita tidak mencampur-adukkan atau menggabung Baptisan Kudus (Pandidion na Badia) dengan adat Batak (mebat, memberikan ulos parompa, dll). Baptisan itu adalah peristiwa yang sungguh besar dan mulia bagi orang beriman yang tidak dapat lagi ditambah-tambah dengan makna yang lain. Melalui baptisan seorang pindah dari kematian kepada kehidupan, dari perhambaan dosa kepada Kerajaan Allah. Jika komunitas Kristen-Batak ingin menyampaikan kasih kepada anak atau penghormatan kepada orangtua sebaiknya dilakukan di kesempatan lain.
.
Kita harus mengatakan dengan berani, jujur dan penuh kesantunan bahwa kegiatan-kegiatan adat yang dilakukan komunitas Kristen-Batak yang dilakukan di rumah persis sesudah acara Babtisan Kudus sangat merugikan makna baptisan sebagai sakramen, yang merupakan sarana keselamatan, hidup baru, pengampunan dan pewarisan Kerajaan Allah.
.
Oleh: Daniel T.A. Harahap

Dalihan Na Tolu

Kamis, 24 Januari 2008


Dalihan Na Tolu

DALIHAN NA TOLU (TUNGKU TIGA BATU)
.
DALIHAN NA TOLU pada dasarnya berarti tungku (tataring) yang terbuat dari tiga buah batu yang disusun. Tiga buah batu itu mutlak diperlukan menopang agar belanga atau periuk tidak terguling. Selanjutnya di kemudian hari istilah dalihan na tolu ini dipergunakan untuk menunjuk kepada hubungan kekerabatan yang diakibatkan oleh pernikahan, yaitu dongan tubu (pihak kawan semarga), hula-hula (pihak “pemberi perempuan”) dan boru (pihak “penerima perempuan”). Sebab itu dalihan na tolu adalah konstruksi sosial yang diciptakan oleh suatu masyarakat dan budaya Batak. Dalihan na tolu bukanlah wahyu atau sesuatu yang alami dan terjadi dengan sendirinya. Dalihan na tolu adalah produk budaya Batak.
.
1. BERKEMBANG DALAM SEJARAH
.
Jika kita melihat secara kritis kultur Batak termasuk dalihan na tolu sebenarnya bukan sesuatu yang statis atau beku tetapi juga mengalami pergeseran dan perkembangan dalam sejarah. Sebagai contoh penghormatan terhadap hula-hula justru semakin kuat dengan datangnya kekristenan. Mengapa? Sebab sulit kita membayangkan bahwa nenek moyang kita dapat memberi penghormatan yang sama tingginya kepada tiap hula-hula jika dia memiliki istri lebih dari satu. Lebih sulit lagi membayangkan nenek-moyang kita dapat menghormati hula-hula dari selir (rading) atau istri yang diperolehnya secara paksa dari peperangan atau bekas hambanya. Namun dengan masuknya kekristenan yang membuat pernikahan orang Batak menjadi monogami dan permanen (abadi) maka dampaknya penghormatan terhadap hula-hula juga semakin kuat. Semakin baik pernikahan maka penghormatan kepada hula-hula juga semakin baik.
.
Contoh lain menunjukkan pergeseran dalihan na tolu: Pada jaman dahulu tidak semua even pertemuan Batak dihadiri oleh tulang atau hula-hula (kecuali pesta besar). Hal ini dapat dimaklumi karena hula-hula atau tulang tinggal di kampung yang lain yang jauh (kecuali bagi sonduk hela, orang yang menetap di kampung hula-hulanya). Namun keadaan ini berubah dengan migrasi orang Batak ke luar Tapanuli. Kampung dan kota di luar Tapanuli bersifat majemuk (multi marga, multi suku). Banyak orang kini tinggal sekampung atau bahkan bertetangga dengan hula-hula atau tulang-nya. Apakah
dampaknya? Interaksi antara hula-hula dan boru semakin intensif. Jika ada acara di rumah banyak orang jadi sungkan jika tidak mengundang tulang atau hula-hula yang kebetulan menjadi tetangga atau tinggal sekota dengannya.
.
Pada jaman dahulu ketika nenek moyang kita masih menetap di Tanah Batak kampung identik dengan marga. Artinya “dongan sahuta” hampir identik dengan “dongan tubu”. Namun dengan migrasi orang Batak ke Sumatera Timur dan kota-kota lain keadaan berubah. Dongan sahuta tidak lagi otomatis dongan tubu (kawan semarga). Dampak perubahan demografi ini peranan dongan sahuta (parsahutaon) yang terdiri dari multi marga ini semakin besar di kota-kota. Jonok dongan partubu jumonok dongan parhundul.
.
2. MANAT MARDONGAN TUBU, ELEK MARBORU, SOMBA MARHULA-HULA
.
Jika kita perhatikan kampung-kampung tradisional di Tapanuli dihuni oleh orang-orang yang semarga. Dongan tubu karena itu adalah teman untuk mengerjakan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Sebab itu kita harus memperlakukan dongan tubu secara hati-hati (manat). Kehati-hatian pada dasarnya adalah bentuk lain dari sikap hormat. Nasihat ini relevan sebab justru kehati-hatian sering kali hilang karena merasa terlalu dekat atau akrab. Hau na jonok do na masiososan. Selanjutnya Elek marboru merupakan nasihat bahwa boru harus senantiasa dielek atau dianju (dibujuk). Boru adalah penopang dan penyokong. Sebab itu mereka senantiasa diperlakukan dengan ramah-tamah dan lemah-lembut agar mereka tidak sakit hati dan kemudian membiarkan hula-hula-nya. Namun sebaliknya: Bagi orang Batak pra-Kristen hula-hula memang dipandang sebagai mata ni ari bisnar, sumber berkat dan kesejahteraan, sebab itu harus disembah (somba marhula-hula).
.
Lantas bagaimana dengan kita orang Kristen? Prinsip-prinsip dalihan na tolu ini dapat terus kita pertahankan sebagai kontsruksi budaya yang positif. Namun makna somba marhula-hula harus kita beri warna baru. Sebab bahasa Batak tidak membedakan istilah hormat dan sembah. Sementara sebagai orang Kristen kita mengakui bahwa Tuhanlah sumber berkat satu-satunya. Hula-hula atau mertua hanyalah salah satu (baca: bukan satu-satunya) saluran atau distributor berkat yang dipakai Tuhan.
.
Selanjutnya sebagai orang Kristen dan moderen, kita juga harus memperkaya prinsip dalihan na tolu ini dengan semangat egalitarian (kesetaraan). Pada dasarnya tiap-tiap orang, tanpa kecuali, harus kita hormati. Tiap-tiap orang (apapun suku, ras, profesi, pendidikan, jenis kelamin, agama dan tingkat ekonominya) pantas mendapat hormat. Kita wajib menghormati hula-hula, melindungi boru dan memperlakukan hati-hati dongan tubu kita tanpa memandang latar belakang ekonominya, pendidikan, pangkat atau jabatannya.
.
3. SIRKULASI PERAN DAN JABATAN
.
Inti atau substansi kultur dalihan na tolu adalah sirkulasi dan distribusi peran dan jabatan. Dalam kultur Batak setiap orang tidak mungkin terus-menerus dihormati sebagai hula-hula. Hari ini menjadi boru, esok menjadi dongan tubu, lusa menjadi hula-hula. Hari ini duduk dilayani besok melayani. Tidak ada orang yang mutlak selama-lamanya (dondon pate) dihormati. Tidak ada juga orang yang selama-lamanya berada di bawah melayani!
.
Masyarakat Batak sangat sadar akan arti ruang atau tempat dan even. Peran dan kedudukan seseorang sangat dinamis sebab tergantung ruang dan even (ulaon). Sirkulasi peran dan jabatan ini merupakan kontribusi masyarakat Batak bagi gereja dan masyarakat. Bahwa semua orang harus bergantian melayani dan dilayani, menghormati dan dihormati. Tidak ada yang terus-menerus boleh menjadi kepala atau pemimpin.
.
Ini sangat relevan dengan dunia modernitas. Kepemimpinan moderen tergantung kepada even dan ruang dan waktu. Tidak ada orang yang boleh mengklaim menjadi pemimpin di setiap even, di semua ruang dan sepanjang waktu. Ini juga relevan dengan iman Kristen yang memandang semua manusia setara di hadapan Tuhan (Gal 3:28) dan harus diperlakukan dengan hormat dan kasih (Roma 12:10, II Pet 1:7, Yoh 13:14, 34)
.
4.HUKUM BERBALASAN POSITIF
.
Selanjutnya dalihan na tolu merupakan perwujudan prinsip hukum berbalasan. Sisoli-soli do uhum siadapari do gogo. Saling berbalas adalah hukum dan saling berganti merupakan kekuatan. Boru memberikan juhut (daging) dan hula-hula menyambut dan memberikan boras dohot dengke (beras dan ikan). Boru memberikan piso-piso (uang) dan hula-hula merespons dengan memberi doa memohon berkat. Hula-hula memberikan ulos dan boru membalas dengan uang.
.
Prinsip berbalasan positif (sisoli-soli) ini bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kesejahteraan bersama. Beban dan keuntungan dibagi dan dipikul bersama. Hula-hula, dongan tubu dan boru harus sama-sama bersukacita dan beruntung. Tidak boleh ada pihak yang ingin menang dan nikmat sendiri!
.
Namun prinsip dalihan na tolu tetap harus dimurnikan senantiasa dengan KASIH AGAPE atau kasih tanpa mengharapkan balasan yang diajarkan Yesus. Yesus memang tidak pernah melarang kita membalas yang baik (seluruh ayat Alkitab hanya melarang membalas yang jahat), namun Dia menghendaki agar kita belajar juga mengasihi dan memberi tanpa mengharapkan balasan (pamrih).
.
5. KESETARAAN PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI
.
Tuhan Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan sebagai citra Allah (Kej 1:27). Laki-laki dan perempuan sama dan setara di hadapanNya (Gal 3:28). Kekristenan mengajarkan bahwa perempuan bukanlah manusia kelas dua atau bagian laki-laki. Perempuan juga bukan properti milik laki-laki yang dapat dijadikan objek transaksi atau perjanjian jual-beli. Sebab itu komunitas Kristen-Batak juga harus menempatkan dalihan na tolu dalam konteks kesetaraan (hadosan) dan keadilan (hatigoran) laki-laki dan perempuan.
.
Pada jaman dahulu hula-hula dianggap sebagai pemberi perempuan. Namun di jaman modern perempuan yang bebas dan otonom karena itu tidak boleh dijadikan objek apalagi “diserah-terimakan”. Perempuan adalah subjek atau pribadi. Pernikahan karena itu kini dianggap perjanjian dua pihak yang setara. Akibatnya secara tak langsung makna hula-hula pun bergeser bukan lagi sebagai “marga pemberi perempuan” namun “marga asal perempuan”.
.
Sinamot atau tuhor (uang mahar pernikahan( karena itu bukanlah keuntungan yang diperoleh dari transaksi perempuan tetapi harus diartikan sebagai biaya (cost) yang diperlukan untuk menciptakan sukacita bersama.
.
6. GEREJA MENCEGAH CHAOS
.
Gereja HKBP memiliki anggota yang mayoritas Batak (minimal sampai saat ini). Anggota HKBP karena itu juga dalam hidupnya menghayati dalihan na tolu. Salah satu prinsip dalihan na tolu adalah melarang pernikahan yang semarga. Gereja HKBP menerima prinsip melarang pernikahan semarga ini agar tidak terjadi chaos atau kekacauan di masyarakat. Sebagaimana dikatakan Rasul Paulus agar semuanya berlangsung secara teratur (I Kor 14:40) dan rapih tersusun (Ef 4:16)
.
7. DEPOLITISASI DAN DOMESTIKASI ADAT
.
Dahulu yang disebut adat Batak adalah segala sesuatu konsep, nilai, ide, hasil karya dan kegiatan orang Batak (menanam padi, membangun rumah, membuka kampung baru, berperang, mengikat perjanjian antar marga dll). Dalam perkembangan terakhir makna adat telah mengalami proses depolitisasi dan domestikasi. Kini adat Batak direduksi atau diminimalisasi menjadi sekedar ritus domestik (rumah tangga): ritus pernikahan, kelahiran dan kematian. Apa akibatnya? Peranan dalihan na tolu menjadi sangat dominan atau menonjol walaupun pada prakteknya kurang berpengaruh kepada kehidupan ekonomi dan politik komunitas Kristen-Batak itu sendiri. Sebab itu tantangan bagi kita sekarang adalah mencari dan menemukan hakikat atau esensi adat Batak itu sendiri agar tidak larut dan hanyut dalam ritus atau seremoni konsumtif belaka.
.
Sumber :
( Pdt. Daniel T.A. Harahap)
Home: http://rumametmet.com

1 komentar:

qartha mengatakan...
SEGI BAHASA Andorang so ta hata i dalihan na tolu ni ompunta i, denggan do ra molo ta parsiajari kembali hata Batak i asa tangkas antusanta "Aha do sasintongna lapatan ni Somba Marhula-hula?" Anggo Manat Mardongan Tubu dohot Elek Marboru ndang pola sihataan be dison. Ai ndang adong na kontroversial disi Tonga ima hata Batak ni Tengah. Boras ima hata Batak ni beras. Monang ima hata Batak ni menang. Jora ima hata Batak ni jera. Tongkar ima hata Batak ni tengkar. Portibi ima hata Batak ni pertiwi (anggo "dunia" hata Arab do i). Porang ima hata Batak ni perang. Podang ima hata Batak ni pedang. Jadi molo SOMBA? Somba ima hata Batak ni SEMBAH. Jadi molo tadok lapatan ni Somba ima Hormat, berarti na lagi manegai bahasa do hita on nuaeng disi. Ai SANGAP do hata Batak ni hormat, jala asing do lenting ni si dua hata on. Ditoru ni Somba ma lenting ni sangap. Alana holan tu Debata do hita boi marsomba, anggo tu dongan jolma ndang boi. Alai molo sangap: boi tu Debata, boi tu dongan jolma. DITORU NI SOMBA MA LENTING NI SANGAP. Dungi molo tadok lapatan ni Somba Marhula-hula ima Hormat kepada hula-hula, berarti NA LAGI MANEGAI KEASLIAN NI ADAT I DO HITA NUAENG DISI. Ingkon botul-botul do hita menyembah tu hula-hula i, ndang cukup holan menghormati. I do aslina. Alana, dihaporseai ompunta i do ia hula-hula ni Batak ima mual ni nasa pasupasu. SEGI HAPORSEAON Di buku 1 Musa 1-2 i tangkas do ta jaha disi : ianggo portibi on dohot nasa isina Debata do na manompa i. Ibana do na manompa hita on sian tano, jala mulak tusi do hita on haduan molo dung mate. Ndada mulak tu jabu ni hula-hula ni Batak i manang tu jabu ni tulang ni Batak. Dia ma olo halak i manjalo bangkenta na busuk i. Debata do na manompa indahan, dengke, sayur-sayuran, buah-buahan, d.n.a. Jadi Debata Jahowa do MUAL NI NASA PASUPASU, ndada hula-hula ni Batak manang tulang ni Batak. SEGI HAMAJUON NI BATAK Ia hamajuon ni bangsonta, bangso Batak, ndada ala burju ni rohanta mardalihan na tolu. Hamajuonta i ima ala ni haroro ni angka par Barita Nauli tu hutanta di tingki naung salpu. Ai disamping ni na mar Barita Nauli i nasida, dipajongjong nasida do angka parsingkolaan laho mamboan bangsonta sian keterbelakangan (primitif) tu hamajuon songon na ta bereng si nuaeng on. Ndang boi soadahononta i !!! Ingkon paboahononta i tu angka gellengta di jabunta be. Di ginjang ni i asa diboto hamuna : Ia Haroro ni angka par Barita Nauli i NDADA ALA ADONG UNDANGAN sian ompunta sijolojolo tubu manang sian tulang ni Batak manang sian hula-hula ni Batak. TUHAN JESUS DO NA MANURU NASIDA MANADINGHON HUTA NASIDA DI LUAT NA DAO LAHO PARARATHON HATANA DI HUTANTA (MAT. 28:19-20). PELAKSANAANNA Tong do songon di zaman ni ompunta i. SAI NAENG DO SONGON DEBATA HULA-HULA NI BATAK I TA BAEN. KESIMPULAN Jadi daripada sai holan na manegai keaslian adat i hita on, tumagon ma TABAEN ADAT BATAK NA IMBARU, na berdasarkan hata ni Debata na tarsurat di Bibel i. Unang be berdasarkan tona ni ompunta i. Jala unang be tapadomu agama dohot adat ni ompunta i, songon sintasinta ni angka dongan na naeng padomuhon Teologi dohot dalihan na tolu. Ai nga godang sian hita on na mansai timbo singkolana (Prof.DR), boasa sai holan tu ompunta i hita on marguru (maksudhu melestarikan adat ni ompunta i). Boasa ndang mampu hita mamungka adat na imbaru nang pe naung timbo be singkolanta, hape ia ompuntai mampu do nasida mamungka adat nang pe so adong singkolana? JESUS I DO GURU, ndada ompunta sijolojolo tubu (Joh. 13:13). Molo nga ta haporseai Ibana sebagai Tuhan, ingkon bahenonta do Ibana sebagai Guru di ngolu siapari. Ndada ompunta i, ndada angka par Barita Nauli i. Holan na patandahon Tuhan Jesus i do tugas ni angka par Barita Nauli i. Na ro sian Ginjang, ima na mangatasi saluhutna i (Joh. 3:31). Ai IBANA do Debata na gabe jolma. Jala IBANA do na sorang di Bethlehem huhut tarsilang di dolok Golgata. Ndada ompunta sijolojolo tubu, ndada siraja batak, ndada Prof.DR. Schreiber, ndada Martin Luther, dll. Huhilala diboto hamu do salah satu strategi penginjilan tu angka suku na tertinggal ima "Mengalah untuk menang". Mengalah do angka par Barita Nauli di segi bahasa dohot adat nasida. Hata Batak ta i do dipangke nasida laho pararathon Barita Nauli i. Jala dijalo nasida do adat naung pinungka ni ompunta i ima na so maralo tu Hata ni Debata. Angka na maralo tu Hata ni Tuhan i, manigor dibolonghon nasida. ALAI NDANG I NA GABE GURU DI HITA. NDANG PARBARITA NAULI I NA GABE GURU DI HITA. JESUS I DO GURU, ndada ompunta sijolojolo tubu manang par Barita Nauli i (Joh. 13:13). Ndang adong labanta molo ta lestarihon adat na pinungka ni ompunta i. Tong do muruk nasida aut sugari diboto nasida naung ta ganti lapatan ni Somba Marhulahula manang naung ta segai hata Batak i, sian sembah hian gabe holan hormat. Haru pinggolni iba hansit do mambege hatorangan ni angka panditanta taringot tu lapatan ni somba marhula2. Apalagi ompunta i. Pintor muruk do nasida molok diboto nasida ulaonta i. Ndang hea diajari Tuhan Jesus angka siseanNa i manegai manang aha. Alai boasa diajari pandita ni HKBP ruas i manegai hata batak dohot adat batak na pinungka ni ompunta i? Jadi molo naung toho hita gabe Kristen : TUMAGON MA TA BAEN ADAT BATAK NA IMBARU NA BERDASARKAN HATA NI DEBATA NA TARSURAT DI BIBEL I, ndang berdasarkan tona ni ompunta i. Jesus i do GURU, ndada ompunta sijolojolo tubu. NDANG DILOAS IBANA HITA MENGABDI KEPADA DUA TUAN, IMA TUHAN DEBATA DOHOT OMPUNTA SIJOLOJOLO TUBU. Ingkon tu IBANA do hita marguru, ndada tu ompunta i. Mauliate.