Tampilkan postingan dengan label Jalan Kebenaran dan Hidup 01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Kebenaran dan Hidup 01. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Amos 8 : 11 – 12


LAPAR dan HAUS Akan FIRMAN TUHAN


Lapar dan haus merupakan sesuatu kondisi yang selalu terjadi dalam kebutuhan tubuh jasmani kita manusia, tubuh akan pulih kembali kuat setelah kita makan dan minum sesuai dengan porsinya. Ini dilakukan berulang – ulang setiap hari sampai dengan akhir hidup kita. Tubuh juga bisa sakit jika tidak makan dan minum. Begitu pentingnya masalah ini dalam kehidupan, tidak ada yang bisa hidup tanpa makan dan minum. Disamping kebutuhan Jasmani ternyata kita juga memerlukan kebutuhan rohani yaitu Firman Tuhan supaya dalam kehidupan adanya keseimbangan keduanya, yaitu untuk melakukan yang terbaik buat Tuhan dan untuk keselamatan yang kekal buat diri kita.   

Firman Tuhan dapat kita temukan dalam alkitab, penginjil dan pengkotbah di gereja, dengan mudah kita dapatkan dan yang terpenting adalah kesadaran kita akan mendengarkan dan melaksanakan firman Tuhan, karena iman tumbuh dari pendengaran dan iman yag teguh datang dari penderitaan. Jadi memang firman Tuhan itu merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Bagaimana halnya jika mengalami kelaparan yaitu lapar akan firman Tuhan. Mungkin kita akan mengatakan tidak mengapa kalau lapar akan firman Tuhan, yang penting adalah kebutuhan fisik tubuh.   

Sesungguhnya, waktu akan datang,” demikianlah Firman Tuhan Allah, “Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air. Melainkan akan mendengarkan Firman Tuhan (ayat 11). Mereka akan akan mengembara dari laut ke laut dan menjelajah dari utara ke timur untuk mencari firman Tuhan tetapi tidak mendapatkannya (ayat 12). Tentu makna dari nas ini adalah orang membutuhkan firman Tuhan tetapi tidak menemukannya, bahkan sampai mencari ke penjuru dunia namun tidak didapatkan. Jadi harus bagaimana mengatasi kelaparan akan firman Tuhan ? tentunya adalah mari kita perlengkapi hidup kita akan firman Tuhan, supaya kita sudah siap menghadapi kelaparan jika melanda negeri ini, kapanpun itu terjadi. Kiranya Tuhan memberkati hidup kita. Amin (KAP)

Selasa, 07 Desember 2010

Matius 21 : 28-31a

           MENDENGAR PERCAYA LALU BERBUATLAH

          “Berbahagialah orang yang mendengarkan Firman Tuhan serta memeliharanya”. Kalimat ini selalu kita dengar dalam ibadah minggu di Gereja. Semua jemaat tanpa kecuali mendengar perkataan ini dari liturgis, tentunya ini berkaitan dengan makna iman percaya yaitu “mendengar” dan “menjalankan”. Bukan hanya mendengar tetapi tidak menjalankan. Demikian pula ketika Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang anak laki- laki yang disuruh oleh orang tuanya melakukan sesuatu pekerjaan di kebun anggur, apa yang terjadi. Ternyata anak yang sulung menjawab ya tetapi tidak melakukannya. Sedangkan anak yang kedua menjawab aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan lalu pergi juga. Siapakah diantara mereka yang melakukan kehendak bapaknya ???                
         
          Sikap seperti si anak sulung seringkali dilakukan orang bahkan dengan lantangnya dia menjawab : “ya saya siap, Tuhan untuk melaksanakannya, tetapi apa yang terjadi dalam kenyataannya. Sikapnya tidak sesuai dengan ucapan dan tidak menjalankannya. Ada juga orang yang menjawab “tidak” tetapi karena dia menyesal dan bertobat maka ia berbalik menjalankan perintah Tuhan. Inilah yang kerab terjadi dalam kehidupan kita, percaya hanya di mulut, mengatakan ya hanya di mulut tetapi tidak menjalankannya. Padahal kita harus satu sikap antara ucapan dengan perbuatan,sehingga menunjukkan kualitas orang percaya.

Itulah sebabnya dikatakan dalam nas ini bahwa sesungguhnya pemungut – pemungut cukai dan perempuan - perempuan sundal akan mendahului kamu nasuk ke dalam kerajaan Allah. Sebab Yohannes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut – pemungut cukai dan perempuan – perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan tidak juga percaya kepadanya (ayat 31-32).

Menyesal dan mengakui kesalahan lebih berharga daripada merasa benar dalam berbuat dan tidak pernah mengakui kesalahan,Tuhan bukan menghendaki kematian orang fasik tetapi pertobatan yang diharapkan. Percayalah Tuhan memberkati. Amin (KAP)   

Senin, 06 Desember 2010

Matius 15 : 1-6


ADAT  TIDAK MENGALAHKAN FIRMAN ALLAH  

          Ketika beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem datang kepada Yesus untuk komplain terhadap perbuatan murid – muridNya yang melanggar adat istiadat nenek moyang mereka karena tidak membasuh tangan sebelum makan. Lalu Yesus merespon dengan mengatakan  “mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman : hormatilah Ayah dan Ibumu; dan lagi siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti di hukum mati. Tetapi kamu berkata : barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk memeliharamu, sudah digunakan untuk persembahan Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu.  (ayat 1-6).

          Tindakan mereka untuk menjebak dan mencobai Yesus dengan perkara- perkara yang disampaikan tentunya supaya bisa menangkap dan menghakimi Yesus atas kesalahan yang dicari – cari. Sungguh perbuatan keji dan munafik, seolah – olah mereka mau membenarkan diri dan menyalahkan dan menghakimi  orang lain. Tuhan Yesus sangat bijaksana dalam menangggapinya dengan membalikkan pertanyaan itu kepada diri mereka maka dapat kita katakan “kena batunya” atau “senjata makan tuan”

Sampai sekarang perbuatan seperti ahli Taurat dan orang Farisi masih kita temukan di lingkungan kita, apalagi orang batak yang banyak mengagungkan adat istiadat daripada Firman Allah. Ada orang yang marah apabila dikatakan tidak beradat. Kalau dikatakan “dang pargareja” responnya biasa - biasa saja dan tidak marah. Kiranya nas ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, janganlah kita mengutamakan adat daripada Tuhan, dan jangan munafik, apalagi sampai membelakangi Firman Tuhan dalam hal – hal tertentu yang dihadapkan kepada adat istiadat manusia. Adat itu perlu tetapi lebih perlu Firman Tuhan atau dengan perkataan lain bahwa adat itu baik tetapi belum tentu benar sedangkan Firman Tuhan itu benar dan pasti baik. Amin(KAP)

Sabtu, 06 November 2010

Bilangan 14:11-20

Kamis, 17 Juni 2010


DOA PENUH MAKNA


Pdt.G.Panjaitan.STh.MSi

Berdoa adalah salah satu jalan yang kita pakai untuk membangun komunikasi dengan Tuhan. Banyak makna yang terkandung dalam doa. Pemakaian kata “berdoa” dapat bermakna ““Memanggil seseorang datang mendekat”. Ini biasanya dilakukan dalam hubungan suami –istri, sehingga orang yang berdoa itu hendaknya memiliki keintiman dengan Tuhan. Berdoa juga bermakna ”memberikan saran atau usul” . Ini biasanya dilakukan dalam hubungan sahabat yang dekat. Apabila kita berdoa, kita sedang memberikan saran atau usul kepada Tuhan tetapi Tuhan juga menentukan menerima usul seseorang yang dikasihiNya atau tidak. Ketika Allah ingin memusnahkan Sodom dan Gomora, maka Abraham datang kepada Tuhan dengan suatu usul ( Kejadian 18: 16- 33).

Doa juga bermakna ”mengajukan permohonan”. Suatu kali raja Hizkia sedang sakit, dan hampir mati. Kemudian Tuhan mengutus nabi Yesaya, dan berfirman kepadanya: “Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi." Lalu Hizkia menangis dan berdoa kepada Tuhan (Yesaya 38: 1- 8). Hal yang sama dilakukan Musa, seperti dalam teks minggu ini. Ketika Tuhan bermaksud untuk memukul dan meleyapkan bangsa Israel ( Im 14:14) Musa mengajukan permohonan dengan alasan-alasan. Kita berdoa berarti kita mengajukan permoonan dan kita mempunyai cukup alasan untuk disampaikan kepadaNya.

Doa juga bermakna i “memeriksa”, jadi, berdoa adalah memeriksa diri kita di hadapan Tuhan. Ketika Daud telah jatuh dalam dosa perzinahan dan pembunuhan yang direncanakan, maka Daud membuka hatinya dihadapan Tuhan. Ia menerima teguran nabi Natan dan akhirnya Daud mengaku dosa dihadapan Tuhan. Daud bersedia menerima teguran dan sekaligus memeriksa dirinya ( Mazmur 51). Doa juga bermakna i “memberitahukan apa yang ada didalam hati”. Jadi, berdoa adalah memberitahukan apa yang ada didalam hati kita kepada Tuhan. Kadadang susah dengan kata-kata yang jelas namun Paulus juga mengatakan “sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapka” (Rom 8:26) Amin. 


Selasa, 19 Oktober 2010

Mazmur 128 :1 - 6


TAKUTLAH AKAN TUHAN

(Suatu cara untuk menjadikan hidup bahagia)
(Mazmur 128:1-6)

Hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Kata ini tidak asing di telinga kita karena manusia di dunia selalu mengharapkan kehidupan lebih baik dari saat ini. Orang banyak melakukan hal untuk mendapatkan hidup yang baik seperti menggapai ilmu setinggi-tingginya, mencari pekerjaan yang baik dengan pendapatan yang cukup bahkan lebih.

Kehidupan lebih baik bukan sekadar harapan tetapi juga perjungan manusia untuk dirinya dan terlebih untuk orang yang disayanginya. Sebut saja salah satunya dalam sebuah keluarga, seorang ayah akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya, bukan hanya dirinya yang diperjuangankan tetapi kebutuhan istri terlebih anaknya dan pendidikan anaknya. Setiap orangtua tentunya ingin anaknya menjadi lebih baik dari dirinya (orangtuanya) saat ini. Oleh karena itu maka sang ayah dan ibu akan memeras tenaga dan pikiran/memutar otak hingga ada istilah ”kepala jadi kaki, kaki jadi kepala” yang mengungkapkan bahwa seseorang akan memperjuangkan jiwa dan tubuh untuk kemajuan dan kebaikan orang yang disayanginya.

Setiap manusia akan memperjuangkan apa yang baik untuk dirinya dan orang yang disayangi terutama keluarga. Mulai dari lingkup kecil yang merupakan pondasi awal yaitu keluarga yang terdiri dari seorang suami, istri dan anak, jika tidak dibina dalam harapan hidup lebih baik maka keluarga tidak maju berkembang kearah yang lebih baik. Jadi pondasi yang kuat dibuat dari suami, istri atau orang tua agar anak yang dianugrahi Tuhan dapat merasakan pancaran tanggungjawab dalam kasih untuk mendapatkan hidup yang lebih baik secara bersama-sama atau bersatu. Memang dengan usaha dan pikirian manusia dapat berinteraksi dan mengapai yang diharapkan tetapi akan sulit dan tidak seimbang jika manusia tidak menyertai Tuhan dalam settiap langkah, rencana yang kita gumuli saat ini.

Akan terasa bedanya jika kita mengandalkan kemampuan diri dengan kemampuan yang berasal diberkati oleh Tuhan. Kali ini kita diajak berrefleksi, bahwa hidup yang lebih baik tidak melulu didapat dari dunia, namun dapat dirasakan di dunia ini, yaitu berasal dari Tuhan yang dapat membuat hidup manusia berbahagia. Tentunya ada ketentuan yang berlaku sesuai dengan Firman Tuhan yaitu takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya (ay.1) dalam kehidupan kita sehari-hari.
 
Bagaimanakah pemahaman takut akan Tuhan? Takut dalam hal ini bukanlah seperti kita takut melihat sesuatu yang menakutkan yang dapat mengancam jiwa kita, akan tetapi takut yang dimaksud adalah menghormati Tuhan dengan cara mengenal, memahami, lalu berperilaku seperti yang Dia inginkan. Dalam hal ini adalah menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan dan bukan diri kita yang menjadi pusat kehidupan.

Dengan takut akan Tuhan pasti menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Kita terlalu sering menempatkan diri kita menjadi pusat kehidupan kita. Terlalu sering kita melakukan apa yang kita inginkan dan mengacuhkan apa yang Tuhan inginkan dari kita. Melakukan apa saja yang kita inginkan bukanlah suatu jaminan bahwa hidup kita menjadi bahagia dan lebih baik. Dengan takut akan Tuhan berarti ada peraturan yang harus kita turuti dalam hidup ini.

Apakah kebahagiaan kita jika takut akan Tuhan? Adalah jika kita mampu menikmati hasil jerih payah kita. Fenomena yang terjadi pada masa kini adalah kecenderungan manusia yang tidak dapat menikmati apa yang telah diperolehnya. Perilaku manusia pada masa kini adalah selalu merasa kekurangan sehingga sifat kekurangan menjadikan manusia jatuh dalam ketamakan.

Dengan dapat menikmati apa yang ada padanya maka manusia akan mampu mengucap syukur pada Tuhan. Segala sesuatu yang ada padanya dirasakan sebagai karunia Tuhan yang sangat berharga dan untuk itu akan dipelihara dengan sunguh-sungguh. Hal inilah yang menjadikan hidup manusia menjadi bahagia dan lebih baik. Bukan harta yang banyak atau jabatan yang tinggi yang membuat hidup lebih baik akan tetapi takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya.  Amin.

Kamis, 14 Oktober 2010

1 Yohanes 2 : 28-29



          TINGGAL DALAM KRISTUS 
DAN  
BERBUAT KEBENARAN   
         
         
Nas ini sungguh mengusik pikiran kita karena bagaimana mungkin kita bisa tinggal dalam Kristus padahal Kristus itu tidak terlihat, tentunya kalau kita artikan secara harafiah memang tidak bisa tetapi arti dan makna  sesungguhnya bahwa Kristus harus selalu berada di hati kita sehingga tindak tanduk dan perbuatan kita bersandarkan hanya kepada Kristus Yesus. Halangan rintangan akan dapat dihalau dengan suka cita walau pahit sekalipun. Mengapa kita tinggal di dalam Kristus ? supaya apabila ia menyatakan diriNya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya (ayat 28).

Untuk lebih tegasnya nas ini juga mengajarkan kita untuk menjadi orang benar, karena Dia adalah benar, dan setiap orang yang berbuat kebenaran, lahir daripadaNya (ayat 29). Jadi tidak ada kebenaran lain selain yang bersumber dari Kristus, kalau kita mendengar atau melihat orang bersaksi kebenaran tetapi tidak bersumber dari Kristus maka sudah pasti itu bukan kebenaran. Tegas sekali dikatakan bahwa “tidak ada kebenaran yang lain” selain kebenaran Kristus.

Seringkali kita mengambil kesimpulan sendiri atas kebenaran, dan berani pula mengatakan sesuatu itu benar, apalagi yang disampaikan bukan berdasarkan iman percaya yang berasal dari Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita renungkan kembali perbuatan kita yang banyak menyimpang bahkan cendrung mempercayai kebenaran dunia yang banyak menjanjikan sesuatu yang indah, padahal akibatnya sangat buruk bagi kita. “Akan tetapi kita tahu, bahwa anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal yang benar; dan kita ada di dalam yang benar, di dalam anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal” (1 Yohanes 5 ayat 20) amin. (KAP)

Jumat, 01 Oktober 2010

RENUNGAN 0004

Setiap manusia unik adanya. Setiap individu dan nafas kehidupan ciptaan termulia ini sesungguhnya ada dalam rancangan yang sempurna dari Allah. Masing-masing kaya dengan talenta, bakat dan anugerah untuk mengubah manusia lain dan bahkan dunia. Sedemikian berharganya manusia hingga Allah yang Mulia mau merendahkan diri, turun ke dunia dan kemudian mati dalam usaha penyelamatan. Semua bagi memulihkan hidup manusia. Hubungan yang terputus antara manusia dengan Tuhan telah disambung.

Manusia telah menerima anugerah dan kasih karunia Allah. Nilai dan harga setiap nafas dipulihkan di hadapan Allah. Tidak mungkin ada ukuran kecerdasan, kekayaan, kuasa dan kehormatan yang dapat menggantikan kasih karunia dan anugerah tersebut. Ketika si kaya atau miskin, si jenius atau terbelakang mental, model tampan atau si buruk rupa, penguasa atau hamba sahaya datang pada Tuhan, maka semuanya ada dalam nilainya Tuhan. Semua menjadi bermakna, semua menjadi berharga. Talenta yang dipercayakan pada setiap nafas akhirnya berbuah talenta yang lain. Allah memberikan banyak contoh pelajaran hidup bagi ciptaan termuliaNya untuk membuat talentanya berbuah. Bahkan binatangpun dimampukanNya berbicara tentang hidup yang bermakna hingga mati

Ikan salem adalah jenis ikan laut yang unik. Pada musim bertelur, ikan salem akan berbondong-bondong kembali ke tempat asal ikan ini dilahirkan, di sungai jauh di atas dataran tinggi. Perjalanan ikan salem dari laut menuju hulu sungai memerlukan pengorbanan. Banyak rintangan, bahaya alam yang keras harus dihadapinya. Perjalanan ribuan kilometer, ombak besar, arus deras, batu karang yang tajam dilaluinya di laut. Memasuki sungai, ikan salem kembali menempuh arus deras, terkaman binatang pemangsa, bukit yang terjal, dan segala macam jerat manusia. Untuk mencapai tujuan di hulu sungai yang ada di tempat tinggi, ikan salem harus berjuang melompati jeram dan air terjun, atau bendungan yang tinggi. Ikan itu harus berenang dengan kecepatan 30 kilometer per jam agar mempunyai daya lompat setinggi tiga setengah meter!.
Semua rintangan dan bahaya tidak mengurungkan niat ikan salem untuk bertelur. Tubuh yang terluka akibat benturan bebatuan sungai tidak bisa membuat surut. Satu tujuan dilakukan untuk meneruskan generasi. Sesampai di hulu sungai, dalam keadaan lelah dan terluka, ikan salem mencari tempat terbaik bagi sarangnya, meletakkan telurnya dan akhirnya mati. Apakah selesai tugasnya?, apakah hanya demikian kisah hidup salem dewasa?. Apakah ribuan bangkai salem dewasa hanya akan mengotori sungai?. Ternyata tidak!. Allah berbicara banyak walau hanya lewat ikan salem.

Dalam waktu yang singkat telur-telur itu menetas sebagai generasi penerus. Ikan salem kecil yang berjumlah jutaan itu adalah wujud harapan salem dewasa yang menjadi kenyataan. Dengan apa salem kecil ini hidup?, apa yang dimakannya hingga ia mendapat cukup tenaga, masuk ke laut dan menjadi ikan dewasa?. Ilmu pengetahuan mendapatkan bahwa begitu banyak kandungan karbon dan protein yang berasal dari bangkai salem dewasa yang mati, membusuk dan terurai ternyata telah menjadi sumber makanan yang berlimpah bagi salem kecil. Ada makna dari hidup salem dewasa yang tidak diketahuinya saat hidupnya berakhir, salem dewasa tidak tahu namun anak salem merasakannya.

Bagaimana dengan kita sebagai manusia?. Tuhan rindu berbicara lebih banyak lewat kita daripada lewat ikan salem. Dia rindu kita menjadi pribadi yang bermakna dan berharga bukan saja sewaktu kita hidup tapi setelah kita mati. Tuhan rindu setiap pribadi manusia mewariskan makanan yang tidak akan ada habisnya bagi generasi penerus. Makanan yang bernilai kekekalan, berharga pengenalan akan Allah. Makanan yang bernilai janji dan berkat Allah namun juga makanan yang berwujud nasehat, teguran dan ketertiban. Hidup yang membawa kebenaran bagi generasi selanjutnya.

Tuhan begitu rindu memakai kita manusia untuk memberi banyak makna bagi dunia. Saat hidup berakhir ada jutaan talenta dihasilkan. Tuhan sendiri menuliskan dalam firmanNya: Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa dibumi; angkatan orang benar akan diberkati.” Berjuanglah dan bermakna sampai mati, ada jutaan talenta akan berbuah.
 

RENUNGAN 0003

Bila kita jalan-jalan ke pantai wisata yang memiliki ombak yang besar, biasanya kita akan melihat para peselancar beraksi dengan papan selancarnya dengan begitu piawai meliuk-liuk di atas ombak yang besar dan terlihat seperti nya mereka mempermainkan ombak itu, kadang-kadang terlihat juga seolah-olah mereka akan ditelan ombak yang sangat besar ketika mereka berada di kolong gelombang raksasa itu.

Mungkin jarang diperhatikan oleh kita ketika peselancar itu mulai naik ke atas papan selancar, mereka biasanya dengan seksama menunggu keadaan gelombang yang datang berturut-turut, jika ada gelombang yang besar biasanya mereka akan menunggu gelombang yang kedua setelah gelombang besar, karena sering gelombang yang kedua pasti lebih besar daripada yang pertama paling besar itu. Barulah mereka mulai berselancar di atasnya.

Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita terburu-buru dan cepat puas ketika Tuhan mulai menjawab doa kita, hal demikian tidaklah salah namun jangan lupa berterima kasih dan memberikan korban syukur kepadaNya. Karena sesungguhnya ada berkat lagi yang besar yang akan Tuhan berikan, sebab dengan cara demikian akan membawa kita pada second breakthrough atau terobosan kedua dalam hidup kita.

Perhatikan cerita alkitab tentang sepuluh orang kusta yang tertulis dalam injil Lukas 17:11-19, saat Tuhan Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta dan dalam perjalanan mereka sembuh, permohonan kesembuhan mereka dijawab oleh Tuhan saat mereka dalam perjalanan pulang, namun sebatas kesembuhan itu saja yang mereka peroleh, secara fisik mereka telah sembuh tapi pertanyaannya bagaimana dengan keselamatan jiwanya? Diakhir cerita ternyata satu orang dari antara mereka balik mencari Yesus untuk berterima kasih atas kesembuhan yang diperolehnya, secara di luar dugaannya Yesus berkata; “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Ternyata ia mendapatkan keselamatan dari Tuhan sebagai bentuk apresiasi yang Tuhan berikan.
Jadi persoalan kesembuhan dan persoalan hidup yang dijawab Tuhan adalah penting bagi kehidupan kita di dunia, namun second breakthrough-nya yaitu keselamatan jiwanya yang lebih penting lagi karena bersifat kekal. Demikian pula dengan persoalan berkat yang telah kita terima saat ini, apakah kita telah menghitungnya dan memberikan ucapan syukur dan korban persembahan yang seimbang sebagaimana yang telah kita terima?

Semoga tulisan ini mengingatkan kita untuk senantiasa mengucap syukur pada Tuhan, Tentunya lebih baik dengan korban persembahan. Arti berkorban bukanlah kita memberikan sesuatu yang tidak berarti tapi berkorban artinya kita memberikannya dan pemberian itu cukup berarti dalam hidup kita atau sampai kita bilang “berasa juga” disaat kita memberikannya. Dan percayalah Tuhan pasti akan menghargai segala pengorbananmu itu sebagaimana kita menghargai orang lain yang mau berkorban bagi kita.

Kamis, 30 September 2010

RENUNGAN 0002



Apa yang saya mau perbuat dalam hidup ini ????

Pekerjaan mana yang harus saya pilih ?????

Saya harus ambil jurusan apa di sekolah ????? Atau

siapakah teman hidup saya ????

Hidup adalah serangkaian pilihan yang tidak pernah berakhir. Bagaimana caranya agar anda tahu bahwa anda sedang membuat keputusan yang tepat ? Haruskah anda bertanya pada orang-orang yang menurut anda lebih pintar ? Atau anda harus melihat berita horoskop hari ini di koran? Haruskah anda bertanya pada bintang ? Hm, bagaimana kalau anda bertanya saja pada si pencipta bintang ?
Saya punya berita bagus untuk anda hari ini. Si Pencipta bintang itu, Tuhan sendiri, sebenarnya ingin menjawab pertanyaan anda. Tepatnya, Dia ingin berbicara dengan saya dan anda.

Tuhan ingin berkomunikasi dan memiliki hubungan pribadi dengan anda. Komunikasi dua arah! Bukan hanya satu arah saja. Mengapa? Karena tidak akan ada suatu “hubungan” tanpa ada suatu dialog yang tercipta. Seperti pada manusia lain, cara anda mengenal seseorang ialah dengan berkomunikasi dengan orang tersebut. Berbicara dan mendengar. Hal ini persis sama dengan hubungan anda dengan Tuhan. Dia berbicara, anda mendengar. Anda berbicara, Dia mendengar.
Tahukah anda bahwa Tuhan sangat mencintai anda dan saya hingga Dia mengaruniakan anakNya yang tunggal, Yesus, untuk mati menggantikan dosa-dosa kita. Dengan begitu, Tuhan dan kita bisa memiliki hubungan yang indah kembali. Ibrani 10:19-20a menyatakan bahwa ada jalan yang baru bagi kita untuk masuk ke tempat kudusNya, yaitu darah Yesus sendiri.

Selain itu, kerinduan Tuhan ialah melihat anda dan saya dipenuhi oleh berkat Allah dan berhasil menggenapi rencanaNya yang mulia dalam hidup kita, agar kita bisa menjadi cerminan kasih Allah di dunia yang haus kasih ini. Yeremia 29:11 jelas menyatakan bahwa masa depan kita indah dan penuh harapan bersama dengan Tuhan.

Kejadian 3:8a menyatakan bahwa “Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan di dalam taman itu pada waktu hari sejuk "...Seperti inilah yang Tuhan mau. Berjalan dan menjalin hubungan dengan manusia. Percayalah bahwa Tuhan ingin berbicara dengan kita. Dia ingin kita juga berbicara tapi juga mendengarkanNya.

Berita bagus lainnya ialah anda dan saya bisa mendengar suara Tuhan! Alkitab sendiri menulis bahwa kita diciptakan untuk komunikasi dua arah dengan Tuhan. “Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak perlu berjalan buta. Kita dapat memiliki keyakinan bahwa kita dapat mendengar suaraNya. Roma 8:14 meyakinkan bahwa “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah”. Artinya, jika anda adalah anak Tuhan yang sudah lahir baru, anda akan dipimpin oleh Roh Allah sendiri. Mazmur 37:23-24 mempertegas hal ini.
Kesulitan untuk mendengar suara Tuhan hanyalah bahwa ada waktu yang diperlukan untuk itu. Kerendahan hati juga sangat dibutuhkan. Yeremia 29:12-13 mengatakan bahwa “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepadaKu, maka kamu akan mendengarkan Aku; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati”. Artinya, kita tidak bisa mengancam Tuhan untuk berbicara secara keras di telinga kita. Tapi kita bisa mencari dan meminta Tuhan dengan kerendahan hati, dan Tuhan berjanji untuk menemui kita.

Anda harus mengetahui bahwa ada 3 suara yang bisa anda dengar. Suara anda sendiri, suara iblis, dan suara Tuhan. Tapi jangan kuatir. Yohanes 10:4b-5 menyatakan bahwa anak Tuhan pasti mengenal suara Tuhannya dan kalaupun mereka tanpa sengaja mengikuti suara orang asing, mereka akan lari karena tidak kenal dengan suara asing tersebut. Dengan memiliki hubungan yang sangat intim dengan Tuhan dan terus berlatih mendengar suaraNya, anda akan tiba pada kepekaan untuk membedakan suara Tuhan, iblis, atau diri sendiri. Yesaya 30:21 mengatakan “Dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya, entah kamu menganan atau mengiri”.

Jadi intinya, jika anda mau mendengar, Tuhan akan berbicara dan anda bisa mendengar suaraNya. Tapi berhati-hatilah, apalagi jika anda masih muda, supaya anda bisa objektif dan mengikuti suara Tuhan. Suara anda sendiri kadang bisa berteriak sangat keras untuk didengar, apalagi jika anda sedang berada dalam tekanan atau masalah tertentu. Dan berhati-hatilah dengan suara iblis yang adalah “Bapa segala pendusta”.

Nah, bagaimana kita bisa mengenali suara Tuhan ???

Ada 7 kunci yang diberikan alkitab untuk ini :

Firman Tuhan
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16-17).

Roh Allah berbicara pada hati kita
"Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu," demikianlah firman Tuhan. "Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku” (Ibrani 8:10-11).

Suara profetik / Nubuatan
“Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (I Tesalonika 5:19-21).

Nasehat pemimpin
“Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada” (Amsal 11:14).

Konfirmasi “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan” (Matius 18:16).

Damai sejahtera Tuhan
"Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah (Kolose 3:15).

Keadaan / waktu yang tepat
“Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah” (Kisah Para Rasul 18:1-3).

Strategi pertemanan ini merupakan hasil dari keadaan yang tercipta sedemikian rupa.

Sering Allah menggunakan bahkan lebih dari 3 kunci untuk berbicara dengan manusia, apalagi didalam proses membuat keputusan yang penting dalam kehidupan.

Tapi terlebih dari semua, anda harus memulainya dengan doa. Berdoalah dan carilah Dia dengan sungguh hati, maka Dia akan menjawab anda. 

Selasa, 28 September 2010

RENUNGAN 0001


Dalam dunia penuh masalah tepat kita hidup sekarang, kadang tampak sulit bagi kita untuk mengucap syukur. Radio dan televisi kadang memuat lebih banyak berita buruk. Kejahatan, terorisme, tragedi dan bencana. Setiap hari kita bersaing dengan keadaan jaman modern yang bergerak cepat sehingga daftar masalah makin lama makin panjang.

Tetapi justru karena masalah tersebutlah maka kita butuh untuk mengucap syukur. Ketika kegelapan kian menyelimuti, kita jangan sampai menyepelekan kegitan spiritual yang satu ini. Kita butuh untuk memperbaharui komitmen kita untuk mengucap syukur.

Dalam kenyataan, mengucap syukur adalah satu tindakan yang berbau terapi yang ampuh untuk menyembuhkan hati yang sedih dan luka.

Dilain pihak, kurang mengucap syukur dapat membuat seseorang menjadi depresi, karena pikiran terfokus pada hal-hal yang negatif. Rasul Paulus juga mengingatkan kita untuk jangan sampai berfokus pada pikiran negatif, tetapi harus pada hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut kebajikan dan yang patut dipuji (Filipi 4:8). Ketika kita mempraktekkan ucapan terima kasih pada berkat- berkat Tuhan yang melimpah, kita dengan sendirinya terfokus pada hal-hal yang baik tersebut. Dan dengan demikian, Tuhan sendirilah yang akan membawa kekuatan dan kesembuhan yang kita perlukan dalam kehidupan kita.


Yang paling penting dalam ucapan syukur ialah kita harus selalu mengucap syukur. Kita harus belajar mengucap syukur setiap hari, bukan hanya pada saat kita sedang berada di gereja atau pada hari-hari tertentu saja. Mengapa? Karena selalu ada hal dalam kehidupan kita yang dapat disyukuri.


Kita memiliki berkat rohani didalam Yesus Kristus. Contohnya, kematian Yesus diatas kayu Salib telah membuat kita merdeka dari dosa (Matius 26:28). Meskipun dalam keadaan sebagai manusia yang tidak sempurna, Tuhan memberikan kita hak untuk berdiri dihadapanNya (2 Korintus 5:21). Karena kebaikan dan kasih karuniaNya, kita juga telah diangkat menjadi anak-anak Allah (Roma 8:15). Allah Bapa pencipta langit dan bumi telah mencintai kita dengan kasih tanpa syarat (Roma 5:8). Ini adalah hal-hal dasar yang harus disyukuri setiap saat.


Pada perjanjian lama, orang-orang yang merasakan kasih setia Tuhan selalu bernyanyi “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”. (1Tawarikh 16:34).


Ada pula berkat-berkat Allah yang duniawi dalam kehidupan kita. Ada hujan, ada sinar matahari, ada alam raya dengan segala isinya yang dapat kita nikmati, kemudian makanan dan juga tempat tinggal. Hal-hal ini kadang kita nikmati seenaknya. Padahal semua itu, baik kecil maupun besar, berasal dari kebaikan dan keajaiban Tuhan yang seharusnya membuat hati kita penuh dengan ucapan syukur.


Dunia yang kita hidupi bisa mendesak kita kedalam masalah yang berefek global maupun individual. Tetapi seburuk apapun keadaannya, kita harus belajar untuk mengucap syukur senantiasa. Keadaan buruk kadang membuat orang sulit mengucap syukur. Dalam keadaan seperti itu, alihkan pikiran kita pada berkat Allah yang begitu besarnya, baik rohani maupun duniawi. Niscaya hati kita akan penuh dengan ucapan syukur. Rasul Paulus mengingatkan dalam 1 Tesalonika 5 :16-18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal!”. Dalam keadaan yang paling terpuruk sekalipun, kita harus tetap mengingat bahwa kerinduan Tuhan ialah membawa kebaikan kedalam situasi yang sedang kita alami itu (Roma 8:28). Artinya, jika Tuhan secara aktif bekerja dalam kehidupan kita, maka kebaikan akan memancar dalam keadaan yang paling gelap sekalipun. Kadang situasi sulit dipakai Tuhan untuk memberikan kekuatan pada kita dan membentuk kita agar sempurna sepert Yesus. Dalam hal ini, kita harus bekerja sama dengan Tuhan agar proses pembentukan itu berjalan efektif (Roma 8:29).

Sudahkan anda besyukur hari ini?