Tampilkan postingan dengan label Batak 02. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batak 02. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

5 Perkawinan Yang Dilarang Adat Batak Toba

Perkawinan bagi masyarakat Batak khususnya orang Toba adalah hal yang wajib untuk dilaksanakan, dengan menjalankan sejumlah ritual perkawinan adat Batak. Meski memiliki keunikan dan ragam keistimewaan yang terkandung dalam acara tersebut, jika kita bandingkan dengan upacara perkawinan di daerah lainnya di Indonesia.

Dalam perkawaninan adat Batak Toba juga ada aturan-aturan tertentu yang harus ditaati, dan hukumannya sangat tegas yang dianut oleh orang Batak sejak dulu kala. Dibeberapa daerah dan aturan yang berlaku yang dilaksankan oleh penatua masing-masing daerah berbeda-beda, ada yang dibakar hidup-hidup, dipasung, dan buang atau diusi dari kampung serta dicoret dari tatanan silsilah keluarga. Meskipun era saat ini beberapa aturan yang diberlakukan sejak dahulu kala, sebagian orang Batak kini sudah ada melanggarnya.

Berikut ini 5 Larangan dalam Perkawinan Adat Batak Toba

1. Namarpandan

Namarpadan/ padan atau ikrar janji yang sudah ditetapkan oleh marga-marga tertentu, dimana antara laki-laki dan perempuan tidak bisa saling menikah yang padan marga. Misalnya marga-marga berikut ini:

1.Hutabarat & Silaban Sitio

2.Manullang & Panjaitan

3.Sinambela & Panjaitan

4.Sibuea & Panjaitan

5.Sitorus & Hutajulu (termasuk Hutahaean, Aruan)

6.Sitorus Pane & Nababan

7.Naibaho & Lumbantoruan

8.Silalahi & Tampubolon

9.Sihotang & Toga Marbun (termasuk Lumbanbatu, Lumbangaol, Banjarnahor)

10.Manalu & Banjarnahor

11.Simanungkalit & Banjarnahor

12.Simamora Debataraja & Manurung

13.Simamora Debataraja & Lumbangaol

14.Nainggolan & Siregar

15.Tampubolon & Sitompul

16. Pangaribuan & Hutapea

17. Purba & Lumbanbatu

18. Pasaribu & Damanik

19.Sinaga Bonor Suhutnihuta & Situmorang Suhutnihuta

20.Sinaga Bonor Suhutnihuta & Pandeangan Suhutnihuta

2. Namarito

Namarito (ito), atau bersaudara laki-laki dan perempuan khusunya oleh marga yang dinyatakan sama sangat dilarang untuk saling menikahi. Umpanya seprti parsadaan Parna (kumpulan Parna), sebanyak 66 marga yang terdapat dalam persatuan PARNA. Masih ingat dengan legenda Batak “Tungkot Tunggal Panaluan“? Ya, disana diceritakan tentang pantangan bagi orangtua yang memiliki anak “Linduak” kembar laki-laki dan perempuan. Anak “Linduak” adalah aib bagi orang Batak, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kedua anak kembar tersebut dipisahkan dan dirahasiakan tentang kebeadaan mereka, agar tidak terjadi perkawinan saudara kandung sendiri.

3. Dua Punggu Saparihotan

Dua Punggu Saparihotan artinya adalah tidak diperkenankan melangsungkan perkawinan antara saudara abang atau adik laki-laki marga A dengan saudara kakak atau adik perempuan istri dari marga A tersebut. Artinya kakak beradik laki-laki memiliki istri yang ber-kakak/ adik kandung, atau 2 orang kakak beradik kandung memiliki mertua yang sama.


4. Pariban Na So Boi Olion

Ternyata ada Pariban yang tidak bisa saling menikah, siapa dia sebenarnya? Bagi orang Batak aturan/ ruhut adat Batak ada dua jenis untuk kategori Pariban Na So Boi Olion, yang pertama adalah Pariban kandung hanya dibenarkan “Jadian” atau menikah dengan satu Pariban saja. Misalnya 2 orang laki-laki bersaudara kandung memiliki 5 orang perempuan Pariban kandung, yang dibenarkan untuk dinikahi adalah hanya salah satu dari mereka, tidak bisa keduanya menikahi pariban-paribannya. Yang kedua adalah Pariban kandung/ atau tidak yang berasal dari marga anak perempuan dari marga dari ibu dari ibu kandung kita sendiri. Jika ibu yang melahirkan ibu kita ber marga A, perempuan bermarga A baik keluarga dekat atau tidak, tidak diperbolehkan saling menikah.



5. Marboru Namboru/ Nioli Anak Ni Tulang

Larangan berikutnya adalah jika laki-laki menikahi boru (anak perempuan ) dari Namboru kandung dan sebaliknya, jika seorang perempuan tidak bisa menikahi anak laki-laki dari Tulang kandungnya.

Jumat, 13 September 2013

Pesta Danau Toba Tanggung Jawab Bupati

MEDAN, KOMPAS.com--Bupati Samosir Mangindar Simbolon mengatakan, penyelenggaraan "Pesta Danau Toba" akan menjadi tanggung jawab bupati sekawasan potensi pariwisata itu untuk meningkatkan dan memaksimalkan partisipasi masyarakat.

Di sela-sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan Sumatera Utara di Medan, Senin, Mangindar mengatakan, tanggung jawab yang diberikan itu merupakan hasil kesepakatan dengan Pemprov Sumut.
Berdasarkan evaluasi dan kajian selama ini, penyelenggaraan Pesta Danau Toba tersebut dinilai kurang maksimal karena tanggung jawabnya bukan diserahkan kepada para bupati di kawasan tersebut.
Setelah hasil evaluasi dan kajian tersebut disampaikan, Pemprov Sumut menyepakati agar kegiatan yang menampilkan berbagai potensi wisata di kawasan Danau Toba itu dilaksanakan kepala daerah sekawasan. "Mungkin Pemprov sumut menyadari adanya kelemahan-kelemahan dalam penyelenggaraan selama ini," katanya.

Sesuai hasil kesepakatan bersama, penyelenggaraan Pesta Danau Toba untuk tahun 2012 akan diketuai Bupati Simalungun JR Saragih.
Sedangkan Bupati Samosir Mangindar Simbolon dipercaya untuk mengetuai penyelenggaraan tersebut pada tahun 2013, serta menyerahkan tanggung jawab selanjutnya kepada kepala daerah lainnya di kawasan Danau Toba.

"Untuk 2014, mungkin Bupati Karo (Kena Ukur Surbakti), mungkin juga Bupati Toba Samosir (Kasmin Simanjuntak)," kata Mangindar.

Menurut dia, jika penyelenggaraan Pesta Danau Toba diserahkan dan menjadi tanggung jawab bupati, mungkin kegiatannya dapat dirancang lebih maksimal sebagai pesta budaya rakyat.

Pihaknya berkeyakinan keterlibatan berbagai elemen masyarakat akan lebih banyak karena bupati sekawasan Danau Toba lebih dekat dengan masyarakatnya sehingga mudah untuk terlibat. "Jadi, diharapkan gaungnya akan lebih besar, keterlibatan masyarakat juga lebih tinggi," katanya.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, para bupati di kawasan Danau Toba akan mendukung sepenuhnya pemkab mana pun yang ditunjuk untuk mengetuai kegiatan tahunan tersebut. "Penyelenggaraan di masa libur itu akan dibuat menjadi jadwal tetap. Jadi, warga bisa membuat rencana," katanya.

Sedangkan untuk meningkatkan kunjungan masyarakat, penyelenggaraan Pesta Danau Toba tersebut disepakati untuk dilaksanakan pada saat libur sekolah, yakni bulan Juni dan Juli.
Sebagai salah satu kabupaten yang masuk kawasan Danau Toba, upaya yang akan dilakukan Pemkab Samosir untuk menyemarakkan Pesta Danau Toba adalah kegiatan paralayang bertaraf internasional. "Nanti, akan diadakan kegiatan paralayang tingkat internasional yang dipusatkan di Samosir," katanya.

Gendang Batak, Salah Satu Alat Musik Terlangka di Dunia

 
SAMOSIR, KOMPAS.com — Salah satu agenda menarik dalam perhelatan Festival Danau Toba (FDT) 2013 di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, adalah Lake Toba's World Drum Festival. Festival ini digelar Selasa (10/9/2013) di Bukit Beta, Desa Tuktuk Siadong, Kecamatan Ambarita, Kabupaten Samosir, yang dikoordinasi Rizaldi Siagian.

Para peserta kegiatan ini bukan cuma dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Peserta dalam negeri di antaranya Pargonsi atau para pemusik gendang bermelodi yang ada di kawasan Danau Toba; Gendang Belek dari Lombok; Kuntulan dari Banyuwangi; Dol dari Bengkulu, Gandang Tasa dari Sumatera Barat; Balawan dari Bali ; dan Made Wiyanta dari Bali.

Peserta dari luar negeri di antaranya Saingwaing dari Myanmar; Badema dari Africa; Taiko dari Jepang; Michael dari Dalas Amerika; Jamal and Bridge Ensemble; dan Poolvalur Sriji.

Rizaldi Siagian di sela kegiatan menyebutkan, etnomusikologi dalam mempelajari ekspresi kebudayaan musikal suatu tradisi adalah teknik memainkan dan konstruksi instrumen musik dalam fungsi menyajikan atau menghasilkan produk musikal.

Kata dia, dalam tradisi memainkan gendang, umumnya alat musik ini berfungsi sebagai pengiring melodi atau lagu yang dimainkan oleh alat musik lain atau vokal melalui berbagai bentuk dan pola ritmis yang diciptakan. Namun, ada pula gendang yang fungsinya adalah memainkan melodi (membawa lagu) di dalam suatu komposisi musik. Gendang seperti ini disebut dengan drum chime (gendang pembawa melodi).   

"Menurut catatan para ahli, sejauh ini tradisi gendang jenis ini hanya terdapat di tiga tempat, satu di Uganda (Afrika Timur) dengan nama entenga, sedangkan dua lagi berada di Asia Tenggara, yaitu di Myanmar dengan nama hsaing waing, dan di Indonesia, persisnya di tengah-tengah masyarakat Batak yang hidup di tepian Danau Toba," jelas Rizaldi.

Yang menarik, lanjut Rizaldi, di kawasan Danau Toba variannya banyak dan masing-masing dipelihara oleh lima sub-etnik Batak (Toba, Simalungun, Pakpak/Dairi, Karo, dan Mandailing).

Drum chime yang terdapat di Toba disebut taganing; di Simalungun disebut gondrang sipitu-pitu; di Pakpak/Dairi disebut genderang merkata Si siba; di Karo disebut gendang indung dan gendang anak; dan di Mandailing disebut gordang sambilan dan gordang lima. 

Dia membeberkan, dalam sejarah tradisi, drum chime di Afrika Timur pernah mengalami kepunahan, dan menurut The New Grove Dictionary Music and Musician, baru direvitalisasi pada tahun 1993 yang lalu. Di tanah Batak, terutama di paruh akhir abad dua puluh, keberadaan taganing pernah dianggap sebagai "tradisi haram" sehingga tidak diperkenan untuk ditampilkan di gereja; sementara itu tradisi gordang sambilan di Mandailing sempat menghilang dari kegiatan masyarakat karena dianggap "haram" juga.

Tradisi gordang lima, oleh karena fungsinya untuk upacara-upacara terkait kepercayaan asli dan status pemimpin spiritualnya (yang sering dituduh dukun), saat ini sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat Mandailing.

Atas dasar keunikan dan pentingnya tradisi ini, kata Rizaldi, dalam konteks kehidupan kekinian dan fenomena globalisasi, maka gagasan untuk menyelenggarakan Lake Toba's World Drum Festival menjadi masuk akal dan sangat layak dilakukan di kawasan Danau Toba.

Dengan cara ini diharapkan program pengembangan pariwisata budaya di kawasan Danau Toba ini bisa sekaligus menjadi sumbangan yang penting bagi pelestarian pusaka tradisi gendang dunia yang memainkan melodi ini.

"Kita berharap di masa depan kawasan Danau Toba bisa menjadi 'rumah' bagi tradisi gendang dunia, sekaligus menjadi tempat para maestro berbagi pengalaman kebudayaan musikal yang sangat penting dalam konteks globalisasi sekarang ini," harap Rizaldi.

Minggu, 03 Februari 2013

Melacak Jejak Batak di Jakarta

Melacak Jejak Batak di Jakarta
Minggu, 3 Februari 2013 | 09:13 WIB
Dibaca: 7868
|
Share:

Melacak Jejak Batak di Jakarta
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO 
Warga melintas di depan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kernolong, di Jalan Kramat, Jakarta, Minggu (20/1). Gereja tersebut merupakan gereja HKBP tertua di Jakarta.
TERKAIT:
Demi kehormatan dan kesuksesan, orang Batak lalu mengembara. Di perantauan, mereka membuat jejak berupa perkampungan Batak, gereja, dan deretan ”lapo” atau kedai Batak.

Lapo-lapo itu berderet memanjang. Aneka menu khas Batak tertulis jelas di papan nama lapo, mulai dari ikan mas arsik, sambal teri, hingga saksang, dan panggang. Terselip di antara deretan lapo, warung mi siantar dan pedagang pisang barangan khas Medan.

Itulah sejumput suasana Sumatera Utara yang hadir di sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur. ”Datanglah hari Minggu, sepanjang jalan ini penuh mobil. Orang yang baru pulang dari gereja mampir makan. Wuih, penuh asap dan harum panggangan,” ujar G Marpaung (70), yang tinggal di daerah itu.

Di belakang deretan lapo-lapo itu, suasana Tanah Batak lebih kental lagi. Di sana ada perkampungan orang Batak yang disebut Kampung Mayasari (karena di situ pernah ada pul bus Mayasari Bhakti). Penghuninya adalah orang Batak Toba, Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Angkola.

Tidak mengherankan, lagu-lagu pop Batak senantiasa terdengar dari kampung itu. Gereja Batak bertebaran di sejumlah sudut. Saking banyaknya gereja, baru 200-an meter melangkah sudah tiga gereja terlewati.

”Warga RW 008 di sini 99,9 persen orang Batak,” kata Marpaung, yang tinggal di kampung itu sejak tahun 1969.

Kampung Mayasari merupakan salah satu jejak diaspora orang Batak di Jakarta. Di luar itu, ada kantong-kantong permukiman orang Batak lainnya di Jakarta dan sekitarnya, yakni di Pulo Mas, Kernolong, Peninggaran, Pramuka, Senen, Taman Mini Indonesia Indah, hingga Tambun (Bekasi).

”Mulanya hanya satu keluarga, nanti bertambah. Kalau sudah ada rumah makan Batak, berarti sudah banyak orang Batak di situ,” kata B Ginting (50), yang pernah tinggal di Kampung Mayasari.

Lapo dan terminal

Martogi Sitohang (42), seniman Batak, secara berseloroh menambahkan, cukup satu orang Batak tinggal di satu tempat. ”Nanti dia akan mencari saudaranya atau dicari keluarganya. Kalau sudah bertemu, mereka berkumpul,” katanya.

Mereka tidak perlu takut tercecer di perantauan. Datang saja ke gereja, lapo, dan terminal pasti bertemu dengan saudara. ”Cukup memberi salam, menyebutkan marga, kampung, dan nomor urut silsilah. Contohnya nih, Sihombing nomor 15, setelah dicocok-cocokkan masih saudara, pintu rumah Sihombing pun pasti terbuka,” kata Martogi.

Makna kekerabatan buat orang Batak itu memang sangat luas. Kekerabatan tidak hanya tercipta karena pertalian darah, tetapi juga karena pertalian marga dan perkawinan. Martogi mengenang ketika pertama kali merantau ke Jakarta ia mencari saudara di gereja dan lapo. Saudara yang ditemukan di perantauan itulah yang membantunya mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, ia memberikan kabar ke kampung bahwa ia telah bertemu tulang-nya (paman).

Jika si perantau berhasil, biasanya saudara atau teman sekampung akan datang menyusul. Dan, si perantau yang sukses wajib membantu. Itu sebabnya, orang Batak di perantauan terbiasa menampung pendatang Batak di rumahnya. ”Saudara saya dan istri begitu datang ke Jakarta semua tinggal dulu di rumah saya. Setelah mereka mapan, mereka bisa membangun rumah sendiri di tempat lain,” ujar G Marpaung.

Ke Jakarta

Dengan cara itu, orang Batak di perantauan cepat berkembang. Lance Castle dalam The Ethnic Profile of Djakarta menyebutkan, orang Batak pertama kali merantau ke Jakarta tahun 1907. Jejak perantau pertama di Jakarta berupa kebaktian berbahasa Batak pada 20 September 1919. Mereka lalu membangun Gereja HKBP Kernolong Resort Jakarta yang tercatat sebagai gereja Batak tertua di Jakarta.

Hingga kini, gereja di Gang Kernolong, Jakarta Pusat, itu masih digunakan jemaat Batak. Praeses HKBP Distrik DKI Jakarta Pendeta Colan WZ Pakpahan mengatakan, gereja-gereja HKBP lain di Jakarta dapat dikatakan pemekaran dari Kernolong. ”Dulu, banyak sekali orang Batak tinggal di Kernolong. Sekarang, sebagian pindah ke daerah lain di Jakarta,” ujarnya.

Tahun 1930, ada sekitar 1.300 orang Batak di Jakarta. Tahun 1963, jumlahnya berlipat menjadi 22.000 orang. Hasil sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010 mencatat, jumlah orang Batak di Jakarta mencapai 326.332 orang. Kalau ditambah orang Batak di Bogor, Tangerang, dan Bekasi jumlahnya mencengangkan.

Menurut Castle, etnis Batak termasuk kaum perantau terbesar di Indonesia. Tahun 1930, sebanyak 15,3 persen orang Batak tinggal di luar kampung halamannya. Migrasi besar-besaran terutama terjadi setelah revolusi tahun 1945-1949. Mereka menangkap peluang pendidikan dan kehidupan modern. Awalnya, mereka merantau di daerah pesisir Sumatera. Selanjutnya, mereka menargetkan Jakarta.

Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Bungaran Antonius Simanjuntak menengarai, migrasi orang Batak keluar kampungnya didorong pandangan hagabeon (sukses berketurunan), hasangapon (kehormatan), dan hamoraon (kekayaan). Nah, Jakarta dipandang menjanjikan itu semua.

”Begitu orang Batak sukses pulang kampung, cepat-cepatlah anak muda di kampung ikut merantau atau orangtua mengirim anaknya bersekolah supaya bisa jadi seperti orang itu. Satu sukses jadi pengacara, banyak yang ingin jadi pengacara,” katanya.

Budayawan Batak Togarma Naibaho (57) mengatakan, orang Batak umumnya memang merantau untuk sekolah dan bekerja. Pendidikan anak menjadi ukuran keberhasilan orangtua. Kasarnya, orangtua Batak rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, mulai dari jual kerbau sampai kebun. Tidak heran jika pendidikan orang Batak rata-rata tinggi. ”Tahun 1970-an, pendidikan perantau Batak di Jakarta rata-rata sudah SMA,” ujar Togarma.

Sesuai dengan ucapan Togarma, Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra menuliskan, orang Batak Toba, Mandailing, dan Karo termasuk orang Indonesia berpendidikan terbaik pada abad ke-19, selain Minangkabau, Minahasa, dan Toraja.

Dengan pendidikan tinggi, orang Batak bisa masuk ke berbagai posisi. Presiden Soekarno, misalnya, banyak melibatkan orang Batak dalam pembangunan. Salah seorang di antaranya adalah Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal. Di zaman Gubernur Ali Sadikin, orang Batak dipercaya menjadi pimpinan di pos-pos pemerintahan. Belakangan, Ali Sadikin merekrut banyak sopir taksi, bus PPD, dan guru dari Tanah Batak.

Dan... berkumpullah orang Batak di Jakarta! (Indira Permanasari dan Budi Suwarna)


 

Selasa, 08 Mei 2012

Renovasi Tugu Raja Panjaitan telah Tuntas tgl 05 Mei 2012

Dikutip dari Tulisan :
St Rj Hasoge Panjaitan

Pada jaman dahulu hiduplah keluarga Raja Panjaitan tinggal di Onan Raja Balige, Panjaitan adalah anak Tuan di Bangarna. Raja Panjaitan telah membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat berupa adat - istiadat budaya yang diajarkan oleh neneknya Raja si Bagot ni Pohan yang hingga saat ini masih berlaku dan diikuti oleh keturunan Raja si Bagot ni Pohan.
Dari Onan Raja Balige berpencarlah keturunan Raja Panjaitan untuk membuka perkampungan dan pertanian seperti ke Matio, Sitorang, Meranti, Pintu Batu, Tor na Godang, Siabal-abal, Sipahutar sampai ke berbagai daerah bahkan ke penjuru dunia.

Sebelum Indonesia merdeka, bahwa bagi Bangsa Batak yang tinggal di Tanah Batak ada sebutan Bius untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, bius yang ada di Hasundutan dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja I - XII bermarga Sinambela bermarkas di Bakkara sedangkan bius di Timur raya (Habinsaran) tanah Batak dipimpin Raja Si Jorat Paraliman I - IX bermarga Panjaitan bermarkas di Lumban Sitorang, Bius yang dipimpin Raja sijorat paraliman ada 4 bius yaitu (1).Bius sitorang, (2).Bius Parsambilan, (3).Bius Sigumpar, (4).Bius Siantar Narumonda, ke 4 bius ini disebut Raja Maropat yang dengan lantangnya berjuang melawan penjajahan, Raja si Jorat Paraliman ke XIII pun wafat di medan perang dan yang terakhir benteng pertahanan Raja si Jorat Paraliman diserang kemudian ditaklukkan dikuasai Belanda adalah di Meranti dan yang memimpin peperangan disana adalah Raja Panajam Panjaitan, kemudian Raja Panajam mundur ke Batu moror disana beliau ditangkap ditawan oleh penjajah ke Tanjung Balai Asahan.
Untuk mengenang sejarah perjuangan Raja Panjaitan dimana para keturunannya membangun Tugu Raja Panjaitan dan terbentuklah Panitia Pendiri Tugu Raja Panjaitan pada tgl 18 April 1965 terdiri dari :
I. PELINDUNG
   1. Brigjen D Ishak Panjaitan
   2. Kol Prof Dr Geri panjaitan
   3. Let.Kol Mangaraja Lalo Panjaitan II 
II. PENASEHAT
   1. R Johannes Panjaitan Kepala Kampung Sitorang
       IV
   2. Djamangarti Panjaitan, 
   3. Mangantar Panjaitan Kep Negri Parsoburan 
   4. Panjaitan 
   5. Kristian panjaitan Kepala negri Pohan siborong-
       borong, 
   6. Johan Panjaitan Kepala penjara Balige 
   7. Djihar Panjaitan Kepala SD Parhitean 
   8. Pdt Kenan Panjaitan 
   9. Luther Panjaitan kepala Kampung lumban lobu
  10. Herman Panjaitan 
  11. Abner Panjaitan 

III. KETUA KEHORMATAN
      Samuel panjaitan

IV. KETUA UMUM
     Raja Mulia Panjaitan kepala Negeri Sitorang

    WAKIL KETUA UMUM
    1. Sumuhar Hasan Basri panjaita
    2. Conelius Panjaitan Dir SMP Negri 1 Balige

V. SEKRETARIS 
    1. Basar panjaitan gr SMP Negri 2 Balige
    2. Saidi panjaitan gr SD Negri Matio
    3. Amborsius panjaitan

VI. BENDAHARA 
     Sopar Panjaitan,

VII. KOMISARIS
      1. Tombang Panjaitan Wedana siabal-abal
      2. R Marinus panjaitan Peg Bina Marga Tarutung
      3. Lodewik Panjaitan peg penjara Balige
      4. Limbong Panjaitan
      5. Gasang Panjaitan
      6. Rade Panjaitan
      7. Manuasa Panjaitan gr STM negri Balige

VIII, Sornop Panjaitan.

IX. SEKSI KEUANGAN
     1. Johan Panjaitan
     2. Limbong Panjaitan
     3. Manuasa Panjaitan
     4. Basu Panjaitan
     5. Saut panjaitan

X. SEKSI KEBUDAYAAN
    1. Sornop Panjaitan
    2. Herman Panjaitan
    3. Karal Panjaitan
    5. Kilian Panjaitan

XI. PENGAWAS
     1. Am Runggu Panjaitan
     2. Willem Panjaitan SH
     3. Am Daulat panjaitan

dan karena berbagai hal maka Panitia disempurnakan lagi pd tgl 06 juli 1965 sebagai berikut :

I. KETUA PELAKSANA HARIAN 
   Cornelius Panjaitan

II. SEKRETARIS
    Belsasar Panjaitan, 

III. BENDAHARA
      Sopar Panjaitan, 

IV. PEMBANTU HARIAN
     1. Fridolin Panjaitan,
     2. Gr E Panjaitan,
     3. dll


Dan pada tgl 06 september 1965 dilaksanakanlah peletakan batu pertama dan perutusan yaitu :
1. Karal Panjaitan mewakili seluruh Marga Panjaitan, 2. Majakub Sibuea utusan Marga Sibuea, 
3. Bosi Silitonga utusan Maraga Silitonga, 
4. Johannes Siagian mewakili Marga siagian, 
5. Alexander Tampubolon mewakili Tuan suhubil,
6. Mangaraja Asal Siahaan mewakili Tuan Somanimbil 7. Suhu Pardede mewakili Sonak Malela,
8. Darius Hasibuan mewakili hula-hula, 
9. Amintas Nainggolan mewakili Boru ni Panjaitan 

Namun mereka gagal melakukan pengerjaan lanjutan karena peristiwa G30S PKI kemudian untuk meneruskan pembangunan dibentuklah kembali Panitia Pelaksana Peresmian Tugu raja panjaitan pada bulan Agustus 1971 yang terdiri dari : 

I. KETUA UMUM 
   HL Panjaitan

II. KETUA PELAKSANA 
   Raja Musa Panjaitan dan 

   Wakilnya
   1. Cornelius Panjaitan
   2. Demas panjaitan
   3. Dr Osman panjaitan

 III. SEKRETARIS UMUM
       Gr E Panjaitan

    Wakilnya 
    1. Drs batu sonak Panjaitan
    2. Drs Manangar Panjaitan
    3. Gr Saidi Panjaitan
    4. Gr Basar Panjaitan

IV. BENDAHARA UMUM 
     Sopar Panjaitan 

    Wakilnya  
    1. Freddy Muda Panjaitan
    2. Sahala Panjaitan

V. BIRO ADAT ISTIADAT & KEBAKTIAN 
    Gr Edi panjaitan

VI. BIRO TATA USAHA STATISTIK 
     Drs Batu sonak Panjaitan

VII. BIRO LOGISTIK 
       Raja Timbul Panjaitan

VIII. BIRO UMUM 
        Lundu Panjaitan SH
        seksi-seksi setiap daerah 

Panitia ini berhasil menyelesaikan pekerjaan dan meresmikan Tugu Raja Panjaitan tersebut pada tanggal 19 - 21 Agustus 1971.

Akan tetapi Pager sekeliling tugu belum ada maka dibuatlah pagarnya menurut bapak Gustaf Panjaitan bahwa pagarnya dibuat pada tahun 1994, sejak saat ini Tugu tersebut kurang terurus sehingga catnyapun mulai pudar, maka utk merenovasinya dibentuklah Panitia Renovasi Tugu Raja Panjaitan dan Pesta Bona Taon 2012 Punguan Raja panjaitan dan Boru se Indonesia yang Panitianya terdiri dari : 

I. PENASEHAT 
1. Dr Marinus panjaitan
2. St Ir Pandapotan Panjaitan
3. Drs Abdul panjaitan
4. St Drs RJ Timbul Hasogi panjaitan
5. St Daulat Panjaitan
6. Jamirin Panjaitan SE
7. TP Panjaitan SH
8. Maralo Panjaitan BSc
9. Patar Panjaitan
10. Edy Panjaitan (CV Bintang Petani) dan 
     seluruh Pengurus PRPB, Kabupaten/Kota

II. KETUA UMUM
    Juanda Panjaitan SE, 

    Wakilnya 
    1. Sahat Panjaitan ST ( Ketua DPRD Tobasa)
    2. Apul Panjaitan
    3. Drs Selamat Panjaitan
    4. Vespasianus panjaitan
    5. Ronald panjaitan
    6. Alfaret Panjaitan
    7. Lodwig Panjaitan
    8. Jamel Panjaitan

III. SEKRETARIS UMUM 
      Ir Maju Panjaitan

      Wakilnya
      1. Patuan Panjaitan
      2. Nahal Panjaitan
      3. Hormat panjaitan
      4. Parlinggoman Panjaitan
      5. Pantun panjaitan
      6. Ramot Panjaitan
      7. Togar Panjaitan

IV. BENDAHARA UMUM
     Lambertus Siregar

     Wakilnya
     1. Ngolu Napitupulu
     2. Lamria panjaitan
     3. Efendi Siregar
     4. Marsarasi Simanjuntak
     5. Permin napitupulu
     6. Barita Hutagalung
        ditambah seksi-seksi.


Panitia telah mensosialisasikan ke berbagai daerah yang ada warga Panjaitan dan Boru hal-hal apa saja yang akan dikerjakan oleh Panitia termasuk di Punguan raja panjaitan se DKI dan hasil dari sosialisasi tersebut diputuskanlah di Rapat yang diadakan di Jakarta tgl 30 Januari 2012, salah satu keputusan rapat bahwa pengerjaan renovasi harus ditenderkan dan masalah tarombo atau silsilah dianggap sudah final yang diputuskan ataupun yang digariskan para pendahulu, Maka ditenderkanlah pengerjaan dimenangkan oleh Alfaret panjaitan dengan biaya kurang lebi Rp. 135.000.000,- (Seratus tiga puluh lima juta rupiah) dan telah selesai dikerjakan dan sudah serah terima pa tanggal 06 Mei 2012 dan akan dilaksanakan pesta Syukuran pada tanggal 25 juli 2012. 

Oleh karena itu kita patut bersyukur dan marilah kita saling bahu membahu untuk memberi sumbangan dalam pelaksanaan Pesta syukuran tersebut berbiaya kurang lebih Rp. 200.000.000,- (Dua ratus juta rupiah) untuk mempermudah komunikasi kepada Wilayah maupun Kabupaten/ kota yang belum terbentuk Punguan Raja Panjaitan dan Boru maka Ketua Umum Punguan Raja Panjaitan dan Boru se Indonesia yaitu St Ir Pandapotan Panjaitan telah mengangkat TIM Penggagas Pembentukan yang terdiri dari : 
1. Drs Abdul Panjaitan
2. Sarbudin Panjaitan SH,MH
3. St Daulat Panjaitan
4. St Drs Rj Timbul Hasoge Panjaitan 

Kiranya para TIM Penggagas ini bekerja semaksimal mungkin agar para pengurus ditingkat Kabupaten/ Kota tersebut dapat di lantik di acara Pesta syukuran tersebut.