Tampilkan postingan dengan label Panjaitan 01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panjaitan 01. Tampilkan semua postingan
Rabu, 05 September 2012
Selasa, 08 Mei 2012
Senin, 30 April 2012
Bonataon Punguan Panjaitan Se- Jabodetabek
Label: Renungan
Batak 02,
Berita 01,
Panjaitan 01
Selasa, 20 Maret 2012
Jumat, 15 Juli 2011
Jumat, 12 November 2010
Silsilah Dan Asal Usul Marga-Marga Batak dari Si Raja Batak
Wednesday, 4. March 2009, 06:17:04
Horas...Somba marhula hula, Manat mardongan tubu, Elek marboru..
Berikut adalah silsilah marga-marga batak yang berasal dari Si Raja Batak yang disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987. Silsilah Raja Batak ini dicoba diterjemahkan dalam bentuk postingan biasa, semoga tidak membingungkan bagi pembaca yang kebetulan ingin mencari asal mula marganya SI RAJA BATAK dan keturunannya.
SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu :
1. GURU TATEA BULAN.
2. RAJA ISOMBAON.GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama SI BORU BASO BURNING, GURU TATEA BULAN memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
- Putra :
a. SI RAJA BIAK-BIAK, pergi ke daerah Aceh.
b. TUAN SARIBURAJA.
c. LIMBONG MULANA.
d. SAGALA RAJA.
e. MALAU RAJA.
- Putri :
1. SI BORU PAREME, kawin dengan TUAN SARIBURAJA.
2. SI BORU ANTING SABUNGAN, kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA, putra RAJA ISOMBAON.
3. SI BORU BIDING LAUT, juga kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA.
4. SI BORU NAN TINJO, tidak kawin (banci).
TATEA BULAN artinya "TERTAYANG BULAN" = "TERTATANG BULAN".
RAJA ISOMBAON (RAJA ISUMBAON) RAJA ISOMBAON artinya RAJA YANG DISEMBAH. Isombaon kata dasarnya somba (sembah).
Semua keturunan SI RAJA BATAK dapat dibagi atas 2 golongan besar :
a. Golongan TATEA BULAN = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga GOLONGAN HULA-HULA = MARGA LONTUNG.
b. Golongan ISOMBAON = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga GOLONGAN BORU = MARGA SUMBA.
Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera SI SINGAMANGARAJA), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan SI RAJA BATAK.
SARIBURAJA dan Marga-marga Keturunannya SARIBURAJA adalah nama putra kedua dari GURU TATEA BULAN. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama SI BORU PAREME dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis).
Mula-mula SARIBURAJA kawin dengan NAI MARGIRING LAUT, yang melahirkan putra bernama RAJA IBORBORON (BORBOR). Tetapi kemudian SI BORU PAREME menggoda abangnya SARIBURAJA, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.
Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu LIMBONG MULANA, SAGALA RAJA, dan MALAU RAJA, maka ketiga bersaudara tersebut sepakat untuk membunuh SARIBURAJA. Akibatnya SARIBURAJA menyelamatkan diri dan pergi mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan SI BORU PAREME yang sedang dalam keadaan hamil.
Ketika SI BORU PAREME hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, Tetapi di hutan tersebut SARIBURAJA kebetulan bertemu kembali dengan SI BORU PAREME.
SARIBURAJA datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan SI BORU PAREME di dalam hutan. SI BORU PAREME kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama SI RAJA LONTUNG.
Dari istrinya sang harimau, SARIBURAJA memperoleh seorang putra yang diberi nama SI RAJA BABIAT. Di kemudian hari SI RAJA BABIAT mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga BAYOANGIN, karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya.
SARIBURAJA kemudian berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus. SI RAJA LONTUNG, Putra pertama dari TUAN SARIBURAJA. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu :
- Putra :
a. TUAN SITUMORANG, keturunannya bermarga SITUMORANG.
b. SINAGA RAJA, keturunannya bermarga SINAGA.
c. PANDIANGAN, keturunannya bermarga PANDIANGAN.
d. TOGA NAINGGOLAN, keturunannya bermarga NAINGGOLAN.
e. SIMATUPANG, keturunannya bermarga SIMATUPANG.
f. ARITONANG, keturunannya bermarga ARITONANG.
g. SIREGAR, keturunannya bermarga SIREGAR.
- Putri :
a. SI BORU ANAKPANDAN, kawin dengan TOGA SIHOMBING.
b. SI BORU PANGGABEAN, kawin dengan TOGA SIMAMORA.
Karena semua putra dan putri dari SI RAJA LONTUNG berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama LONTUNG SI SIA MARINA, PASIA BORUNA SIHOMBING SIMAMORA. SI SIA
MARINA = SEMBILAN SATU IBU.
Dari keturunan SITUMORANG, lahir marga-marga cabang LUMBAN PANDE, LUMBAN NAHOR, SUHUTNIHUTA, SIRINGORINGO,
SITOHANG, RUMAPEA, PADANG, SOLIN.
Dari keturunan SINAGA, lahir marga-marga cabang SIMANJORANG, SIMANDALAHI, BARUTU. Dari keturunan PANDIANGAN, lahir
marga-marga cabang SAMOSIR, GULTOM, PAKPAHAN, SIDARI, SITINJAK, HARIANJA.
Dari keturunan NAINGGOLAN, lahir marga-marga cabang RUMAHOMBAR, PARHUSIP, BATUBARA, LUMBAN TUNGKUP, LUMBAN SIANTAR, HUTABALIAN, LUMBAN RAJA, PUSUK, BUATON, NAHULAE.
Dari keturunan SIMATUPANG lahir marga-marga cabang
TOGATOROP (SITOGATOROP), SIANTURI, SIBURIAN.
Dari keturunan ARITONANG, lahir marga-marga cabang OMPU SUNGGU, RAJAGUKGUK, SIMAREMARE.
Dari keturunan SIREGAR, lahir marga-marga cabang SILO, DONGARAN, SILALI, SIAGIAN, RITONGA, SORMIN.
SI RAJA BORBOR Putra kedua dari TUAN SARIBURAJA, dilahirkan
oleh NAI MARGIRING LAUT. Semua keturunannya disebut marga BORBOR. Cucu RAJA BORBOR yang bernama DATU TALADIBABANA (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
1. DATU DALU (SAHANGMAIMA), Keturunan DATU DALU melahirkan marga-marga berikut :
a. PASARIBU, BATUBARA, HABEAHAN, BONDAR, GORAT.
b. TINENDANG, TANGKAR.
c. MATONDANG.
d. SARUKSUK.
e. TARIHORAN.
f. PARAPAT.
g. RANGKUTI.
2. SIPAHUTAR, keturunannya bermarga SIPAHUTAR.
3. HARAHAP, keturunannya bermarga HARAHAP.
4. TANJUNG, keturunannya bermarga TANJUNG.
5. DATU PULUNGAN, keturunannya bermarga PULUNGAN.
6. SIMARGOLANG, keturunannya bermarga SIMARGOLANG.
Keturunan DATU PULUNGAN melahirkan marga-marga LUBIS dan HUTASUHUT. LIMBONG MULANA dan Marga-marga Keturunannya LIMBONG MULANA adalah putra ketiga dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga LIMBONG. Dia mempunyai 2 orang putra, yaitu PALU ONGGANG dan LANGGAT LIMBONG.
Putra dari LANGGAT LIMBONG ada 3 orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga SIHOLE dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga HABEAHAN. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu LIMBONG.
SAGALA RAJA Putra keempat dari GURU TATEA BULAN. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga SAGALA.
LAU RAJA dan Marga-marga Keturunannya LAU RAJA adalah putra kelima dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga MALAU. Dia mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. PASE RAJA, keturunannya bermarga PASE.
b. AMBARITA, keturunannya bermarga AMBARITA.
c. GURNING, keturunannya bermarga GURNING.
d. LAMBE RAJA, keturunannya bermarga LAMBE. Salah seorang keturunan LAU RAJA diberi nama MANIK RAJA, yang kemudian menjadi asal-usul lahirnya marga MANIK.
TUAN SORIMANGARAJA dan Marga-marga KeturunannyaTUAN SORIMANGARAJA adalah putra pertama dari RAJA ISOMBAON. Dari ketiga putra RAJA ISOMBAON, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
a. SI BORU ANTING MALELA (NAI RASAON), putri dari GURU TATEA BULAN.
b. SI BORU BIDING LAUT (NAI AMBATON), juga putri dari GURU TATEA BULAN.
c. SI BORU SANGGUL HAOMASAN (NAI SUANON).
SI BORU ANTING MALELA melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DJULU (OMPU RAJA NABOLON), gelar NAI AMBATON.
SI BORU BIDING LAUT melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DIJAE (RAJA MANGARERAK), gelar NAI RASAON.
SI BORU SANGGUL HAOMASAN melahirkan putra yang bernama TUAN SORBADIBANUA, gelar NAI SUANON.
NAI AMBATON (TUAN SORBA DJULU / OMPU RAJA NABOLON) Nama (gelar) putra sulung TUAN SORIMANGARAJA lahir dari istri pertamanya yang bernama NAI AMBATON. Nama sebenarnya adalah OMPU RAJA NABOLON, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga NAI AMBATON menurut nama ibu leluhurnya.NAI AMBATON mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. SIMBOLON TUA, keturunannya bermarga SIMBOLON.
b. TAMBA TUA, keturunannya bermarga TAMBA.
c. SARAGI TUA, keturunannya bermarga SARAGI.
d. MUNTE TUA, keturunannya bermarga MUNTE (MUNTE, NAI MUNTE, atau DALIMUNTE). Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung) :
a. Dari SIMBOLON : TINAMBUNAN, TUMANGGOR, MAHARAJA, TURUTAN, NAHAMPUN, PINAYUNGAN. Juga marga-marga BERAMPU dan PASI.
b. Dari TAMBA : SIALLAGAN, TOMOK, SIDABUTAR, SIJABAT, GUSAR, SIADARI, SIDABOLAK, RUMAHORBO, NAPITU.
c. Dari SARAGI : SIMALANGO, SAING, SIMARMATA, NADEAK, SIDABUNGKE.
d. Dari MUNTE : SITANGGANG, MANIHURUK, SIDAURUK, TURNIP, SITIO, SIGALINGGING.
Keterangan lain mengatakan bahwa NAI AMBATON mempunyai 2 orang putra, yaitu SIMBOLON TUA dan SIGALINGGING.
SIMBOLON TUA mempunyai 5 orang putra, yaitu SIMBOLON, TAMBA, SARAGI, MUNTE, dan NAHAMPUN. Walaupun keturunan NAI AMBATON sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan NAI AMBATON.
Catatan mengenai OMPU BADA, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung, OMPU BADA tersebut adalah keturunan NAI AMBATON pada sundut kesepuluh.Menurut keterangan dari salah seorang keturunan OMPU BADA (MPU BADA) bermarga GAJAH, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut :
a. MPU BADA ialah asal-usul dari marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, dan BARASA.
b. Keenam marga tersebut dinamai SIENEMKODIN (Enem = enam, Kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan MPU BADA pun dinamai SIENEMKODIN.
c. MPU BADA bukan keturunan NAI AMBATON, juga bukan keturunan SI RAJA BATAK dari Pusuk Buhit.
d. Lama sebelum SI RAJA BATAK bermukim di Pusuk Buhit, OMPU BADA telah ada di tanah Dairi. Keturunan MPU BADA merupakan ahli-ahli yang trampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
e. Keturunan MPU BADA menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah Dairi dan Tapanuli bagian barat.
NAI RASAON (RAJA MANGARERAK) : nama (gelar) putra kedua dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri kedua TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI RASAON. Nama sebenarnya ialah RAJA MANGARERAK, tetapi hingga sekarang semua keturunan RAJA MANGARERAK lebih sering dinamai orang NAI RASAON. RAJA MANGARERAK mempunyai 2 orang putra, yaitu RAJA MARDOPANG dan RAJA MANGATUR.
Ada 4 marga pokok dari keturunan RAJA MANGARERAK :
a. Dari RAJA MARDOPANG, menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga SITORUS, SIRAIT, dan BUTAR BUTAR.
b. Dari RAJA MANGATUR, menurut nama putranya, TOGA MANURUNG, lahir marga MANURUNG. Marga PANE adalah marga cabang dari SITORUS.
NAI SUANON (TUAN SORBADIBANUA) : nama (gelar) putra ketiga dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri ketiga TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI SUANON. Nama sebenarnya
ialah TUAN SORBADIBANUA, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai TUAN SORBADIBANUA. TUAN SORBADIBANUA mempunyai 2 orang istri dan memperoleh 8 orang putra. Dari istri pertama (putri SARIBURAJA) :
a. SI BAGOT NI POHAN, keturunannya bermarga POHAN.
b. SI PAET TUA.
c. SI LAHI SABUNGAN, keturunannya bermarga SILALAHI.
d. SI RAJA OLOAN.
e. SI RAJA HUTA LIMA. Dari istri kedua (BORU SIBASOPAET, putri Mojopahit) :
a. SI RAJA SUMBA.
b. SI RAJA SOBU.
c. TOGA NAIPOSPOS, keturunannya bermarga NAIPOSPOS. Keluarga TUAN SORBADIBANUA bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, TUAN SORBADIBANUA menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata SI RAJA HUTA LIMA terkena oleh lembing SI RAJA SOBU. Hal tersebut
mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh TUAN SORBADIBANUA. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang 3 orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki gunung Dolok Tolong sebelah barat.
Keturunan TUAN SORBADIBANUA berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan SI BAGOT NI POHAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. TAMPUBOLON, BARIMBING, SILAEN.
b. SIAHAAN, SIMANJUNTAK, HUTAGAOL, NASUTION.
c. PANJAITAN, SIAGIAN, SILITONGA, SIANIPAR, PARDOSI.
d. SIMANGUNSONG, MARPAUNG, NAPITUPULU, PARDEDE.
Keturunan SI PAET TUA melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. HUTAHAEAN, HUTAJULU, ARUAN.
b. SIBARANI, SIBUEA, SARUMPAET.
c. PANGARIBUAN, HUTAPEA
Keturunan SI LAHI SABUNGAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. SIHALOHO.
b. SITUNGKIR, SIPANGKAR, SIPAYUNG.
c. SIRUMASONDI, RUMASINGAP, DEPARI.
d. SIDABUTAR.
e. SIDABARIBA, SOLIA.
f. SIDEBANG, BOLIALA.
g. PINTUBATU, SIGIRO.
h. TAMBUN (TAMBUNAN), DOLOKSARIBU, SINURAT, NAIBORHU, NADAPDAP, PAGARAJI, SUNGE, BARUARA, LUMBAN PEA, LUMBAN GAOL.
Keturunan SI RAJA OLOAN melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. NAIBAHO, UJUNG, BINTANG, MANIK, ANGKAT, HUTADIRI, SINAMO, CAPA.
b. SIHOTANG, HASUGIAN, MATANIARI, LINGGA, MANIK.
c. BANGKARA.
d. SINAMBELA, DAIRI.
e. SIHITE, SILEANG.
f. SIMANULLANG.
Keturunan SI RAJA HUTA LIMA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. MAHA.
b. SAMBO.
c. PARDOSI, SEMBIRING MELIALA.
Keturunan SI RAJA SUMBA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. SIMAMORA, RAMBE, PURBA, MANALU, DEBATARAJA, GIRSANG, TAMBAK, SIBORO.
b. SIHOMBING, SILABAN, LUMBAN TORUAN, NABABAN, HUTASOIT, SITINDAON, BINJORI.
Keturunan SI RAJA SOBU melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. SITOMPUL.
b. HASIBUAN, HUTABARAT, PANGGABEAN, HUTAGALUNG, HUTATORUAN, SIMORANGKIR, HUTAPEA, LUMBAN TOBING, MISMIS.
Keturunan TOGA NAIPOSPOS melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. MARBUN, LUMBAN BATU, BANJARNAHOR, LUMBAN GAOL, MEHA, MUNGKUR, SARAAN.
b. SIBAGARIANG, HUTAURUK, SIMANUNGKALIT, SITUMEANG.
***DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga
dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut: "Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang; Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan", artinya: "Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput; Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji". Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
a. MARBUN dengan SIHOTANG.
b. PANJAITAN dengan MANULLANG.
c. TAMPUBOLON dengan SITOMPUL.
d. SITORUS dengan HUTAJULU - HUTAHAEAN - ARUAN.
e. NAHAMPUN dengan SITUMORANG.
CATATAN TAMBAHAN:
1. Selain PANE, marga-marga cabang lainnya dari SITORUS adalah BOLTOK dan DORI.
2. Marga-marga PANJAITAN, SILITONGA, SIANIPAR, SIAGIAN, dan PARDOSI tergabung dalan suatu punguan (perkumpulan) yang bernama TUAN DIBANGARNA.
Menurut yang saya ketahui, dahulu antar seluruh marga TUAN DIBANGARNA ini tidak boleh saling kawin. Tetapi entah kapan ada perjanjian khusus antara marga SIAGIAN dan PANJAITAN, bahwa sejak saat itu antar mereka (kedua marga itu) boleh saling kawin.
3. Marga SIMORANGKIR adalah salah satu marga cabang dari PANGGABEAN. Marga-marga cabang lainnya adalah LUMBAN RATUS dan LUMBAN SIAGIAN.
4. Marga PANJAITAN selain mempunyai ikatan janji (padan) dengan marga SIMANULLANG, juga dengan marga-marga SINAMBELA dan SIBUEA.
5. Marga SIMANJUNTAK terbagi 2, yaitu HORBOJOLO dan HORBOPUDI. Hubungan antara kedua marga cabang ini tidaklah harmonis alias bermusuhan selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang. (mereka yang masih bermusuhan sering dikecam oleh batak lainnya dan dianggap batak bodoh)
6. TAMPUBOLON mempunyai putra-putra yang bernama BARIMBING, SILAEN, dan si kembar LUMBAN ATAS & SIBULELE. Nama-nama dari mereka tersebut menjadi nama-nama marga cabang dari TAMPUBOLON (sebagaimana biasanya cara pemberian nama marga cabang pada marga-marga lainnya).
7. Pada umumnya, jika seorang mengatakan bahwa dia bermarga SIAGIAN, maka itu adalah SIAGIAN yang termasuk TUAN DIBANGARNA, jadi bukan SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari SIREGAR ataupun LUMBAN SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari PANGGABEAN. Selanjutnya biasanya marga SIAGIAN dari TUAN DIBANGARNA akan bertarombo kembali menanyakan asalnya dan nomor keturunan. Kebetulan saya marga SIAGIAN dari PARPAGALOTE.
8. Marga SIREGAR, selain terdapat di suku Batak Toba, juga terdapat di suku Batak Angkola (Mandailing). Yang di Batak Toba biasa disebut "Siregar Utara", sedangkan yang di Batak Angkola (Mandailing) biasa disebut "Siregar Selatan".
9. Marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, BARASA, NAHAMPUN, TUMANGGOR, ANGKAT, BINTANG, TINAMBUNAN, TINENDANG, BARUTU, HUTADIRI, MATANIARI, PADANG, SIHOTANG, dan SOLIN juga terdapat di suku Batak Pakpak (Dairi).
10. Di suku Batak Pakpak (Dairi) terdapat beberapa padanan marga yaitu:
a. BUNUREA disebut juga BANUREA.
b. TUMANGGOR disebut juga TUMANGGER.
c. BARUTU disebut juga BERUTU.
d. HUTADIRI disebut juga KUDADIRI.
e. MATANIARI disebut juga MATAHARI.
f. SIHOTANG disebut juga SIKETANG.
11. Marga SEMBIRING MELIALA juga terdapat di suku Batak Karo. SEMBIRING adalah marga induknya, sedangkan MELIALA adalah salah satu marga cabangnya.
12. Marga DEPARI juga terdapat di suku Batak Karo. Marga tersebut juga merupakan salah satu marga cabang dari SEMBIRING.
13. Jangan keliru (bedakan):
a. SITOHANG dengan SIHOTANG.
b. SIADARI dengan SIDARI.
c. BUTAR BUTAR dengan SIDABUTAR.
d. SARAGI (Batak Toba) tanpa huruf abjad "H" dengan SARAGIH (Batak Simalungun) ada huruf abjad "H".
14. Entah kebetulan atau barangkali memang ada kaitannya, marga LIMBONG juga terdapat di suku Toraja di pulau Sulawesi.
15. Marga PURBA juga terdapat di suku Batak Simalungun.
Mauliate godang, Horas.........
Label: Renungan
Batak 01,
Panjaitan 01
Selasa, 09 November 2010
Basaria Panjaitan, Satu-satunya Jenderal Wanita di Polri
| Basaria Panjaitan, Satu-satunya Jenderal Wanita di Polri | | | |
Rabu, 27 Oktober 2010 13:16 |
| hanya melihat wajah dan penampilannya dalam seragam Polwan, mungkin orang akan mengira Brigjen Pol Basaria Panjaitan adalah seorang yang tegas dan kaku. Kesan itu akan berbalik 180 derajat jika mengenal pribadinya. Brigjen Pol Basaria Panjaitan kini bertugas sebagai pengajar (widyaiswara) Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespim) di Lembang. Sekilas dipandang, dia memang terlihat dingin. Padahal, kalau sudah berinteraksi, tutur kata Basaria lembut dan halus. Dia juga murah senyum. "Memang harus pas porsinya. Kalau dalam kerja harus profesional, harus tahu kapan lembut, kapan tegas," kata satu-satunya jenderal wanita di lingkungan Polri itu. Sebelum Basaria, memang ada Brigjen Pol Ruminah yang terakhir menjabat sebagai Kapolda Banten. Namun, kini Ruminah sudah pensiun. "Bertugas di Lembang ini, tempatnya enak. Bisa fokus," katanya. Di lingkungan Polwan, nama Basaria tidak asing lagi. Rekam jejaknya di dunia reserse juga membuatnya sangat disegani bahkan oleh koleganya yang laki-laki. Basaria lama sebagai reserse narkoba. Dia juga pernah menjabat sebagai Kasatnarkoba di Polda NTT dan menjadi direktur reserse kriminal Polda Kepulauan Riau 2007. Saat menjadi Direskrim Polda Kepri, Basaria sukses membongkar jaringan penyelundupan mobil-mobil mewah yang melibatkan aparat. Saat itu dia mengendalikan operasi antimafia mobil itu dari Batam. Pulau seluas 41.000 hektare tersebut diduga dipenuhi mobil curian hasil perdagangan sindikat internasional. Tak mengherankan, di jalanan tak sulit ditemukan mobil-mobil berkelas seperti Nissan X-Trail, Nissan Murano, Mercedes Type C dan S, Toyota Harrier, Toyota Cygnus, dan Lexus. Mobil-mobil bodong itu dipasok dari berbagai wilayah di Malaysia, lalu dilarikan melalui jalur darat ke wilayah Singapura. Dari Singapura, mobil-mobil tersebut "diputihkan" dengan dokumen palsu sebelum dikapalkan ke Batam dan berbagai negara tujuan lain, seperti Vietnam, Kamboja, dan India. Di Batam, ruang-ruang pamer yang tersebar di berbagai sudut kota berlomba menawarkan mobil-mobil mewah dengan harga miring yang dilengkapi surat resmi. Nomor-nomor mesinnya cocok dengan STNK maupun BPKB. Nah, saat Basaria menjabat, dia berani menangkapi cukong-cukong yang diduga menjadi pemasok mobil itu. Sejumlah aparat dari instansi terkait yang diduga memuluskan mafia tersebut juga diperiksa. Seorang mantan anak buah Basaria di lingkungan reserse menceritakan, kelembutan Basaria justru menakutkan mafia dan penjahat. "Mereka khawatir karena Bu Ria (panggilan Basaria) tak pandang bulu, kalau salah ya diproses, siapa pun dia, tidak bisa diajak lobi-lobi," kata perwira lelaki yang sekarang bertugas di lingkup antiteror Polri itu. Dia menuturkan, kelembutan Basaria dalam memberikan komando membuat anak buahnya bekerja tanpa tekanan dan bisa maksimal. "Kalau sudah diperintahkan A, bagaimanapun caranya A itu harus sukses," kenangnya. Setelah sukses dari Batam, Basaria ditarik ke Mabes Polri. Dia menjadi penyidik utama Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim. Lalu, Basaria dipercaya sebagai kepala Pusat Provos Polri yang dikenal sebagai satuan angker karena punya kewenangan menindak polisi "nakal". Saat menjabat sebagai Kapusprovos, Basaria mempunyai tugas yang tidak ringan. Yakni, memeriksa tindakan tidak disiplin kerja yang diduga dilakukan Komjen Susno Duadji. Setelah itu, dia menjadi kepala Biro Logistik Polri dan sekarang menjadi pengajar di Sespim, Lembang, Jawa Barat. "Prinsip saya, di mana pun ditempatkan harus sungguh-sungguh. Menjadi wanita itu bukan halangan untuk meraih puncak prestasi," tuturnya. Awal karir perempuan kelahiran 1957 itu dimulai ketika dia meraih gelar"sarjana hukum dari Universitas Jayabaya pada 1984. Saat itu tak ada di benaknya akan menjadi seorang polisi. Orang tuanya serta tujuh saudaranya juga tidak menjadi polisi. "Saya ini orangnya tipe pekerja. Saat itu saya hanya berpikir, selesai kuliah harus bekerja," kata bungsu di antara delapan bersaudara tersebut. Ketika Polri mengumumkan penerimaan Polwan dari sarjana, pada saat itulah Basaria mendaftar Sekolah Calon Perwira (Sepa) Polri di Sukabumi dan diterima. Lulus sebagai Polwan berpangkat Ipda, Basaria langsung ditugaskan di reserse narkoba Polda Bali. "Kalau dihitung-hitung, memang saya banyak di reserse narkoba," katanya. Saat ditanya tentang harapan terhadap Kapolri yang baru Jenderal Timur Pradopo, Basaria yakin bahwa Timur akan memberikan porsi tugas yang setara antara polisi lelaki dan polwan. "Beliau dikenal sangat baik terhadap polwan. Karena itu, polwan di mana pun, saya harap, jangan kecewakan kepercayaan beliau," tegasnya. Basaria optimistis peran polwan pada masa depan semakin menonjol di lingkungan kepolisian. "Prinsipnya, kalau sama-sama mampu (dibanding polisi lelaki) jalani saja. Tunjukkan bahwa gender bukan halangan melayani masyarakat," katanya. (*/jpnn) |
Label: Renungan
Panjaitan 01
Minggu, 07 November 2010
Nah,.. begini ceritanya “Buku Sintong Panjaitan”
Nah,.. begini ceritanya “Buku Sintong Panjaitan”
Maret 13, 2009
Media Online Bersama Toba dot Com - Buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ karya Sintong Panjaitan mendapat sambutan positif dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras. Informasi yang diberikan Sintong, bisa digunakan sebagai informasi tambahan dalam menguak kasus orang hilang.Menurut Letjen Purn Sintong Panjaitan, Luhut Panjaitan layak dapat bintang. Sebab Luhut adalah perwira yang menggagalkan upaya penculikan para jenderal yang hendak dilakukan Kapten Prabowo Subianto pada Maret 1983, sebagai upaya counter coup.
Kala itu, Mayor Luhut Pandjaitan adalah Komandan Den 81/Antiteror, sedangkan Prabowo adalah wakil Luhut dengan pangkat kapten. Suatu pagi, Luhut datang ke markasnya di Cijantung dan kaget karena pasukan dalam keadaan siaga. Ternyata pasukan siaga atas perintah Prabowo yang mendengar LB Moerdani akan melakukan kudeta.
Luhut lalu membubarkan pasukan dan menegaskan tak ada kudeta.
Dalam buku Sintong Panjaitan berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, disebutkan, seandainya Luhut terlambat datang ke Mako Den 81/Antiteror pada pagi hari itu, dapat dipastikan penculikan para perwira tinggi ABRI terlaksana.
Seandainya rencana penculikan itu berhasil dilakukan, hal itu berpeluang membatalkan pelaksanaan Sidang Umum MPR.
“Sebenarnya Luhut pantas mendapat ‘bintang’ karena dia telah berhasil menggagalkan rencana penculikan para perwira tinggi ABRI yang berdampak nasional,” komentar Sintong Panjaitan di halaman 463.
Namun faktanya karier Luhut mentok. Zaman Soeharto dia hanya sampai letnan jenderal dan tak pernah menjabat panglima. Baru setelah Soeharto lengser, Luhut mendapat anugerah bintang menjadi jenderal dan diangkat sebagai Dubes Singapura lalu Menperindag era Presiden Gus Dur.
Dalam buku itu tertulis bahwa Luhut juga sempat dituduh hendak melakukan kudeta pada Soeharto sehubungan dengan pembangunan proyek intelijen teknik Den 81. “Matilah aku…Waduh! Jadi rempeyeklah aku,” kelakar Luhut.
Luhut juga dituduh sebagai anak emas Benny Moerdani sehingga lantas disingkirkan. Luhut dilaporkan macam-macam kepada Soeharto sehingga ia menjadi pemegang kartu mati.
Gus Dur, Marzuki Darusman, Agum Hadiri Launching Buku Sintong
Peluncuran buku memoir Letjen (Purn) Sintong Panjaitan ternyata bak magnet bagi orang-orang penting di Indonesia. Sejumlah tokoh nasional pun terlihat datang ke acara yang digelar di Balai Sudirman, Jl Soepomo, Jakarta Selatan, itu.
Rabu (11/3/2009), tokoh pertama yang hadir adalah mantan Presiden Abdurrahman Wahid.
Pria yang akrab dipanggil Gus Dur itu tiba di lokasi sekitar pukul 18.30 WIB. Dikawal para ajudannya, kedatangan Gus Dur langsung disambut Sintong di pintu masuk acara.
“Saya Sintong Panjaitan,” kata Sintong sambil menjabat lengan Gus Dur
“Oh ya,” sambut Gus Dur.
Usai memberikan sambutan khusus, Sintong lalu mengantar Gus Dur menuju kursi kehormatan di barisan terdepan.
Tokoh selanjutnya yang datang adalah mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman. Kedatangannya disusul mantan ketua Koni Agum Gumelar yang tiba 5 menit kemudian.
Selain tamu-tamu yang hadir, sejumlah tokoh nasional terlihat mengirimkan karangan bunga. Tampak karangan bunga dari Menneg Pora Adhyaksa Dault, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Kepala Bappenas/Menteri PPN Paskah Suzetta.
Informasi yang diterima, acara launching buku yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” itu, juga dihadiri sejumlah duta besar juga dikabarkan akan hadir.
Hembuskan Isu Kudeta, Harusnya Prabowo Diberi Tindakan
Menurut Letjen Purn Sintong Panjaitan, tuduhan bahwa Jenderal LB Moerdani akan melakukan coup d’etat hanya dilakukan oleh orang sakit. Tuduhan itu tidak nyata, tapi diciptakan.
Dalam bukunya yang berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, Sintong menyatakan bahwa tuduhan itu itu dilontarkan oleh seorang kapten (Kapten Prabowo Subianto-red) yang tidak mempunyai perangkat untuk menyelidiki kebenarannya.
“Seharusnya terhadap Prabowo yang melontarkan tuduhan itu harus diambil tindakan,” ujar
Sintong di halaman 466.
Dalam halaman 36 buku tersebut, Sintong mengatakan bahwa Wiranto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Hankam/Panglima ABRI telah gagal menangani pengamanan peristiwa 21 Mei 1998. Kegagalan itu merupakan blunder terburuk dalam sejarah ABRI sejak tahun 1945.
Sedangkan dalam halaman 34 dia mengungkapkan keheranannya mengapa tiada seorang pun dari para perwira tinggi ABRI yang mengambil tindakan pengamanan dalam peristiwa Mei 98 tersebut. Padahal waktu itu 90 persen kekuatan Kostrad di bawah komanda Letjen Prabowo Subianto berada di Jakarta.
“Tentara ada di mana-mana dan dapat digerakkan ke mana pun diperlukan. Tetapi mereka tidak mendapat perintah,” demikian bunyi paragraf pertama pada halaman 35 buku setebal 520 halaman tersebut.
Label: Renungan
Panjaitan 01
Donald Izacus Panjaitan
Donald Izacus Panjaitan
From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
Donald Izacus Panjaitan (9 June 1925 - 1 October 1965) was an Indonesian general who was killed during a kidnap attempt by members of the 30 September Movement.Contents[hide] |
[edit] Early life
D.I. Pandjaitan was born in Sitorang, Balige in the Tapanuli region of North Sumatra. After completing elementary and high school, with the arrival of the Invading Japanese, he underwent Japanese Giyugun military education. He was then posted to Pekanbaru, and was there when Indonesian independence was declared on 17 August 1945. [1][2][3][edit] Career with the Indonesian military
In November 1945, Pandjaitan, together with other youths, helped set up a local branch of the People's Security Army (TKR), initially serving as a battalion commander. In March 1948, he was appointed commander of the commander for organization and education of XI/Banteng Division at Bukittinggi, West Sumatra. Not long after, he became fourth deputy commander (supplies) for the Sumatran Army Command, then when the Dutch launched their second "police action" against the republic, he was put in charge of supplies for the Emergency Government of the Republic of Indonesia[3].After the Dutch recognition of Indonesian sovereignty in 1949, Panjaitan was posted to the headquarters of the Sumatran Division in Medan, and on 2 January 1950 became head of the operational staff of the I/Bukit Barisan Division. He was then transferred to Palembang, South Sumatra and appointed deputy commander of the II/Sriwijaya Division. From October 1952 to July 1957, he served as the military attache to the Indonesian embassy in Bonn, West Germany. Upon his return to Indonesia, he joined the Army General Staff. He attended a course at the US Army Command and General Staff College at Fort Leavenworth from December 1963 to June 1964. He then took up his final post as fourth assistant to the Army chief of staff[1][3].
[edit] Death
In the early hours of 1 October 1965, a group of members of the 30 September Movement left Lubang Buaya on the outskirts of Jakarta. They forced the gates of Panjaitan's house on Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, South Jakarta, shot and killed one of his servants sleeping on the ground floor of the two-story house and called for Panjaitan to come downstairs. After the attackers threatened his family, Panjaitan came down. He then tried to escape and was shot dead.[4][5]. His body was put in a truck and taken back to the movement's headquarters at Lubang Buaya. Later, his body and those of his slain colleagues was hidden in a disused well. The bodies recovered on October 4, and all were given a state funeral the following day. Panjaitan was awareded a posthumous promotion to Major General and made a Hero of the Revolution[6].[edit] References
- Anderson, Benedict R O'G & McVey, Ruth (1971), A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, Modern Indonesian project Southeast Asian Program, Cornell University, Ithaca, NY
- Bachtiar, Harsja W. (1988), Siapa Dia?: Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Who is S/He?: Senior Officers of the Indonesian Army), Penerbit Djambatan, Jakarta, ISBN 979-428-100-X
- Mutiara Sumber Widya (publisher)(1999) Album Pahlawan Bangsa (Album of National Heroes), Jakarta
- Sekretariat Negara Republik Indonesia (1975) 30 Tahun Indonesia Merdeka: Jilid 3 (1965-1973) (30 Years of Indonesian Independence: Volume 3 (1965-1973)
- Secretariat Negara Republik Indonesia (1994) Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya (The 30 September Movement/Communist Party of Indonesia: Bankground, Actions and its Annihilation) ISBN 979-08300-025
- Sudarmanto, Y.B. (1996) Jejak-Jejak Pahlawan dari Sultan Agung hingga Syekh Yusuf (The Footsteps of Heroes from Sultan Agung to Syekh Yusuf), Penerbit Grasindo, Jakarta ISBN 979-553-111-5
[edit] Notes
Label: Renungan
Panjaitan 01
Duaman Panjaitan
Duaman Panjaitan
Pekerjaan ini menuntutnya untuk bepergian ke daerah-daerah terpencil sekalipun. Satu hal yang menarik bagi Duaman, setiap kali berkunjung ke daerah-daerah, dia selalu bertemu orang Batak. Termasuk saat mengunjungi Bengkalis, di pesisir Sumatera yang ditempuh dengan menggunakan perahu motor selama berjam-jam.
Saat itu, perahu motor yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar. Setelah berjam-jam menelusuri pinggiran Bengkalis, akhirnya mereka melihat perahu. Setelah mencari-cari siapa pemiliknya ternyata pemiliknya orang Batak. “Saya tidak menyangka orang Batak ternyata ada di mana saja,” katanya melepas senyum.
Duaman yang seorang pengusaha minyak ini ternyata lebih dikenal sebagai pengamat budaya Batak. Rasa cintanya pada budaya Batak terlihat jelas saat ia mengasuh rubrik budaya Dalihan Na Tolu di harian BATAKPOS. Selain itu Duaman sebagai pembicara dalam seminar atau dalam acara-acara masyarakat Batak.
Oktober lalu, Duaman masih sempat tampil sebagai pembicara di Kalimantan, Batam dan daerah lain menyangkut masalah habatahon (kebatakan) Lebih dari itu, dia juga seorang aktivis dan cukup terkenal dalam berbagai kegiatan gereja. Ia juga mendirikan tabloid Horas yang kini berubah menjadi Majalah Horas. Dan tentu saja sebagai penasihat di harian BATAKPOS.
Banyak filosofi yang selalu dipaparkan Duaman kepada siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Salah satunya adalah, jangan buat perdebatan atau pertengkaran menjadi permusuhan dan ini selalu dikatakannya kepada karyawan BATAKPOS. Sebagai aktivis gereja, ketika menolong seseorang, dia mengatakan, kalau tangan kanan memberi, jangan sampai diketahui oleh tangan kiri. Itu selalu diterapkan dalam hidupnya.
Semua karyawan BATAKPOS pasti akrab dengan Duaman. Mulai dari OB (office boy) hingga pemilik BATAKPOS. Karena dia memang terkenal ramah dan mudah tertawa. Tak salah kalau dia adalah sosok yang sangat mengayomi. Di bidang sosial, Duaman Pandjaitan juga tak pernah ketinggalan. Ia pernah terpilih sebagai Ketua Umum Panjaitan Se-Jabodetabek. Jabatan ini di Panjaitan termasuk salah satu jabatan yang terpandang karena kelompok marga ini sudah terkenal, selain komunitasnya banyak, kelompok marga ini juga banyak yang berhasil.
Tidak hanya itu saja, dia juga termasuk salah satu pendukung berbagai punguan (perkumpulan) dalam masyarakat Batak di antaranya, Ketua Dewan Penasehat Kerukunan Masyarakat Batak dan fungsionaris di Marsirarion. Salah satu yang cukup menonjol dari Duaman Panjaitan adalah, bersama dengan terman-temannya berjuang dan berani mereformasi bagian-bagian dari adat masyarakat Batak tanpa mengurangi makna dari adat tersebut. Salah satunya adalah pengurangan pemberian ulos.
Yang pertama melakukan ini adalah marga Panjaitan yang tadinya pemberian ulos bisa sampai puluhan, di marga ini yang berlaku hanya 11 saja. Dan ini sudah banyak diikuti oleh marga-marga lain masyarakat Batak terutama yang ada di perantauan.
Label: Renungan
Panjaitan 01
Langganan:
Postingan (Atom)
























