Tampilkan postingan dengan label Kotbah 03. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kotbah 03. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2013

1 Rajaraja 13 : 11 – 19



SIAP MENGHADAPI PENCOBAAN 

          Tidak sedikit pelayan Tuhan yang gagal di tengah jalan dalam melaksanakan tugas pelayanannya. Ada yang jatuh ke dalam dosa, Ada yang meninggalkan pelayanan di tengah-tengah pekerjaan Tuhan. Semuanya ini karena ketidaksiapan diri dalam menghadapi pencobaan yang ada di dunia ini. Meski demikian, Tuhan tetap bisa memakai mereka untuk mencapai maksud~Nya. Justru ini menjadi peringatan agar hamba Tuhan melayani dan hidup benar di hadapan Allah. 

          Kisah abdi Allah ini sungguh tragis. Ia sudah selesai menunaikan tugas utama, yaitu menegur Yerobeam atas dosa-dosanya. Ia tahu bahwa Tuhan memerintahkannya untuk tidak makan roti dan minum air dalam perjalanan tugas. Namun, karena tipuan seorang nabi tua, ia melanggar perintah Tuhan itu. Hukuman pun dijatuhkan, abdi Allah itu dibunuh oleh seekor singa. Kita tidak tahu motivasi si nabi tua membohongi abdi Allah itu. Mungkin ia iri hati melihat si abdi Allah yang berasal dari Selatan masuk ke wilayahnya tanpa permisi untuk bernubuat. Mungkin ia seorang yang "mendukung" pemerintahan Yerobeam sehingga tidak senang melihat abdi Allah ini mencela rajanya. Apapun alasannya, akhirnya ia sadar bahwa penipuannya berakibat fatal bagi abdi Allah itu

          Kematian abdi Allah itu tidak menghalangi Firman Tuhan dinyatakan. Peristiwa aneh setelah abdi Allah itu diterkam singa (ayat 24) yaitu singa dan keledai menjagai mayat abdi Allah itu pastilah menimbulkan kegemparan di kalangan rakyat. Tuhan memakai peristiwa itu untuk menyadarkan si nabi tua, yang mungkin selama ini sudah kehilangan kepekaan akan Firman Allah dan kehilangan keberanian iman (ia tidak pernah mencela Yerobeam). Ini membuktikan Allah berdaulat dalam segala keadaan, menggenapi janji~Nya, atau menghukum yang melanggar. Kalau Ia tidak segan menghukum abdi-Nya yang lalai, apalagi terhadap orang yang mengkhianati-Nya (Yerobeam). Pasti nubuat mengenai penghukuman Yerobeam akan tergenapi 

Hidup atau mati, Tuhan bisa memakai kita menjadi saluran Firman~Nya. Persoalannya apakah hidup kita layak untuk menjadi berkat, menyatakan keadilan, dan kasih~Nya. Amin (KAP)


Kamis, 10 Januari 2013

1 Rajaraja 13 : 1 – 10



ABDI YANG MENDUA HATI



          Kasih dan keadilan bisa dikatakan seperti minyak dan air yang tidak dapat disatukan dalam kehidupan manusia. Di mana kasih berbicara keadilan yang diamputasi. Tampaknya kedua nilai itu saling bertentangan. Namun di dalam Allah, kedua nilai itu menyatu tanpa salah satunya mengalami distorsi (penyimpangan) makna. Insiden yang terjadi dalam nas ini merupakan suatu bukti bahwa kedua nilai itu dapat dinyatakan oleh Allah secara bersamaan tanpa distorsi nilai. Allah begitu membenci dosa Yerobeam. Allah secara tegas melarang abdi~Nya untuk makan atau minum apa pun di tempat Yerobeam. Sikap ini menunjukkan keadilan Allah bahwa yang berdosa tidak akan menerima konsekuensinya. 


          Allah pun memanifestasikan kasih~Nya dengan mengirim abdi~Nya dari Yehuda dan memberikan tanda-tanda seperti mezbah yang pecah dan tangan Yerobeam yang menjadi kejang (ayat 4-5). Sebenarnya Yehuda bisa saja melakukan persiapan untuk menyerang Yerobeam, tetapi sekarang Allah justru mengirim abdi~Nya dari Yehuda untuk memperingatkan Yerobeam agar bertobat. Itu semua dilakukan sesudah Yerobeam melakukan dosa yang begitu menjijikkan di hadapan Allah. Tetapi Abdi Allah itu mendua hati dengan mendengar permohonan belas kasihan dari raja Yerobeam untuk memohon belas kasihan Tuhan Allah sehingga tangan raja itu dapat kembali pulih menjadi seperti semula (ayat 6). 


Dalam nas ini Allah secara obyektif telah menempatkan setiap nilai pada porsinya, dan tetap melihat manusia sebagai makhluk ciptaan~Nya yang Ia kasihi dan tidak membiarkan adanya nafsu, emosi, dan unsur subyektifitas yang menjadi penghalang bagi membaurnya kedua nilai itu sehingga keduanya menjadi bias. Dalam diri manusia, unsur emosi dan subyektifitas selalu berperan paling dominan dalam mengambil sikap terhadap orang yang melakukan dosa, sehingga berakibat salah satu nilai itu harus dikorbankan. 


Untuk dapat kita renungan sebagai pengikut Kristus bahwa setiap orang adalah makhluk ciptaan Allah yang juga sebagai obyek kasih Allah, jadi mari kita selaraskan tindakan kasih dan keadilan bagi siapa pun. Amin (KAP)

1 Rajaraja 12 : 25 - 33


IBADAH BARU OLEH YEROBEAM


Peribahasa “lupa kacang akan kulitnya” adalah sangat tepat untuk menggambarkan perjalanan karir Yerobeam sebagai raja. Belum lama ia memegang tampuk pimpinan, ia sudah mengabaikan siapa yang mendudukkan dia sebagai raja, dan melanggar syarat yang harus senantiasa dia penuhi serta batas wewenang yang ia punyai agar takhtanya tetap kokoh. Ia menggantikan Allah dengan ilah-ilah lain dan membuat kuil-kuil di bukit pengorbanan. Bahkan ia mengangkat imam-imam dari rakyat biasa. Berarti ia menjadikan dirinya sebagai pusat dari seluruh sendi kehidupan kerajaan Israel. 

Apabila ditinjau dari tujuannya untuk memperkokoh kerajaannya dan menyatukan umatnya, tindakan Yerobeam sangat tepat dan merupakan bukti bahwa ia mempunyai pandangan yang luas dan jauh ke depan. Namun bila ditinjau dari bagaimana cara ia mencapai tujuan tersebut, Yerobeam sudah melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal dan komprehensif. Ia mempertahankan kekuasaan sosial dan politik dengan memanipulasi kerohanian bangsanya. Rakyatnya tidak hanya dibawa pada jalan yang berdosa, namun dosa mereka pun adalah dosa yang terstruktur dan terkontrol oleh lembaga politik yang sah. Betapa mengerikan apa yang dilakukan oleh Yerobeam

Latar belakang Yerobeam adalah anak seorang pegawai istana biasa. Jika ia sekarang menjadi raja, itu bukti bahwa Allah sungguh berdaulat atas dia (baca Rajaja 11 : 31) Allah pun sudah berjanji bahwa keluarganya akan dibangunkan seperti keluarga Daud jika ia setia kepada~Nya. Mengapa ia harus kuatir bahwa rakyatnya akan meninggalkannya, saat mereka harus pergi ke Yerusalem secara berkala untuk beribadah ? (ayat 27) Tidakkah ia sudah mendengar dan melihat bahwa Allah akan memecahkan kerajaan Israel menjadi dua, karena ketidaktaatan Salomo ? Mengapa ia tetap melanggar perjanjian yang pernah dibuat Allah untuknya ? Jawaban dari semua pertanyaan itu adalah seluruh peristiwa menakjubkan yang baru saja ia alami, ternyata tidak membuat iman dan pengenalannya terhadap Allah menjadi mendalam dan berpusat kepada~Nya.

Ternyata saudara sekalian, berkat dan anugerah Allah yang begitu melimpah tidak selalu berdampak positif. Bila seseorang tidak meletakkan berkat Allah dalam perspektif rencana Allah bagi hidupnya, akan menjadi penyesat yang sangat berbahaya baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Amin (KAP)


Senin, 05 November 2012

Mazmur 131 : 1 – 3


BERHARAP KEPADA TUHAN

Daud adalah orang yang rendah hati, dia tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk menyombongkan diri atas berkenannya Allah kepadanya. Dia adalah orang yang Allah pilih, kedekatannya dengan Allah menjadikan dia orang yang diberkati, dia bisa mengalahkan Goliat dan bisa mengalahkan berlaksa – laksa orang dalam peperangan, bisa mengejar hal – hal yang tinggi, tetapi dalam nas ini dia menyatakan sebaliknya “Tuhan aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal – hal yang terlalu besar atau hal – hal yang terlalu ajaib bagiku (ayat 1).

Bagaimana dengan manusia di jaman sekarang ? Kita seringkali berdebat dengan Allah ketika menemukan kesulitan dalam perjalanan hidup. Hal ini menunjukkan bagaimana kualitas pandangan kita terhadap Allah. Penghormatan itu sangat ditentukan oleh bagaimana kita bersikap. Iman kita dapat diketahui dari cetusan-cetusan hati dan sikap kita. Ketika beriman kepada Tuhan maka akan ada banyak hal yang hendak Tuhan singkapkan. Daud sangat berpotensi untuk sombong maka Tuhan tekukkan lututnya terlebih dahulu sehingga Daud tahu bagaimana merendahkan diri di hadapan Allah. Janganlah kita menjadi orang yang semakin tahu Firman Tuhan justru menjadi orang yang melawan Allah. Problema iman kita adalah ketika merasa dekat dengan Allah justru menjadi merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa dari Allah.


Daud berkata aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku (ayat 2), hal ini untuk menggambarkan relasinya dengan Allah yang seperti anak yang disapih. Bagi orang Israel, anak disapih pada usia 2 atau 3 tahun. Anak yang disapih pasti mengalami tangisan, gejolak karena harus putus dengan sumber hidupnya. Bagi seorang anak, ibunya adalah sumber ketersediaan segalanya baginya. Pada saat menyusu, seorang anak mendengar irama detakan jantung ibunya yang dapat menenangkan dia. Anak yang menyusu adalah sedang belajar mencintai demi untuk mendapatkan sesuatu. Tetapi begitu disapih, anak harus belajar untuk tetap mencintai, mempercayai dan tetap tidak beranjak dari ibunya. Daud juga mengajak kita untuk berharap kepada Tuhan dari sekarang sampai selama-lamanya (ayat 3). Dia menganggap Allah sebagai Allah anugerah karena masih diberi kesempatan untuk tetap berharap kepada~Nya. Amin (KAP) 


Sabtu, 06 Oktober 2012

Imamat 7 : 22 – 8 : 17



LEMAK DAN DARAH

Kalau ditanya kepada orang batak makanan favorit tentunya sebahagian besar mengatakan adalah sang-sang atau padar (panggang darah). Jawaban ini tentu mengarah kepada makanan yang diberi darah dalam mengolah masakan tersebut. Bahkan dalam pesta adat tanpa mempersiapkan makanan ini maka akan terasa hambar acara yang ditampilkan oleh tuan rumah, apalagi tanpa namargoar tentu pestanya akan menjadi tidak sempurna dalam adat yang berjalan. Bagimana kalau dikaitkan dengan nas ini ? apakah makan lemak dan darah dibenarkan. Dalam perjanjian lama Tuhan berfirman kepada Musa katakanlah kepada orang Israel: segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing janganlah kamu makan (ayat 22-23). Selanjutnya dalam nas ini dikatakan bahwa orang yang melanggar larangan ini apalagi memakan makanan yang dipergunakan untuk mempersembahkan korban api-apian bagi Tuhan maka nyawa orang yang memakan itu haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya (ayat 25-27).

Pada saat datang orang Farisi dan ahli taurat kepada Yesus dan berkata bahwa murid Yesus telah melanggar adat istiadat nenek moyang mereka, namun jawab Yesus “hai orang –orang munafik ! benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”. Lalau Yesus memanggil orang banyak dan berkata “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:7-11). Pengertian ini ditegaskan lagi oleh Yesus bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang ke jamban, tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Sungguh mendalam pengertian yang disampaikan oleh Tuhan Yesus,  namun masih saja orang berupaya mencari kebenaran yang tidak didasarkan pada alkitab tetapi hanya dalam pengertiannya sendiri. Kiranya kita yang membaca renungan ini semakin dewasa iman dan kepercayaan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk menyempurnakan Firman Tuhan yang telah ditaburkan sebagai Firman yang hidup. Puji Tuhan selamanya. Amin (KAP)

Selasa, 26 Juni 2012

Yosua 10 : 1 - 28


JANGAN TAKUT !!  ALLAH MENOLONG UMAT~NYA

Sekalipun Bangsa Israel melakukan kesalahan dengan mengikat perjanjian dengan bangsa Gibeon (Yosua 9:14) Namun Allah tetap menolong umat~Nya membela mereka. Seringkali kegagalan, yang menyebabkan kita tidak sampai pada kehendak Allah yang sempurna, dipakai~Nya sebagai kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan dan kasih~Nya kepada kita. Kalau saja Yosua mengabaikan Firman Tuhan yang disampaikan kepadanya “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyerahkan mereka kepadamu. Tidak seorangpun dari mereka yang akan dapat bertahan menghadapi engkau.” (ayat 8) tentu saja kemenangannya tidak akan dirasakan. Justru Yosua berdoa untuk suatu mujizat, dan Allah mengabulkan doanya (ayat 12). Orang percaya tidak boleh ragu-ragu berdoa memohon agar Tuhan akan bekerja secara luar biasa untuk menolong mereka. Umat Allah hidup di dalam dunia yang bermusuhan dan jahat dan dihadapkan dengan berbagai tantangan dan kesulitan sehingga mujizat kadang-kadang diperlukan agar rencana dan tujuan~Nya bagi mereka digenapi.

Cara tepat yang dipakai Allah untuk memperpanjang siang hari itu sungguh luar biasa. Allah dapat memperlambat perputaran bumi, memiringkan bumi pada porosnya seperti di utara di mana matahari tidak terbenam, atau menyebabkan sinar matahari membias. Cara apa pun yang dilakukan oleh~Nya, perpanjangan hari itu merupakan jawaban yang luar biasa atas suatu doa. Allah yang menciptakan bumi dan benda-benda angkasa dengan fungsi-fungsi masing-masing dapat juga menahan gerakan alami semua itu untuk mencapai maksud-Nya (Yesaya 38 : 7–8). Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa Tuhan mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel adalah Tuhan (Ayat 12-14).

Dari penjelasan di atas dapat di ketahui bahwa ada 4 peristiwa penting dalam nas ini yaitu (1). Jangan takut menghadapi musuh yang banyak, (2). Berdoa/ berbicara kepada Tuhan untuk meminta pertolongan, (3). Mataharipun berhenti berputar atas permintaan dalam doa itu. (4). Pertempuranpun dimenangkan oleh pasukan Yosua. Tentu melawan bangsa – bangsa yang besar ini tidaklah mudah begitu jika tanpa penyertaan Tuhan, Lima Raja berkumpul dan bersatu menyerang namun Yosua bersama tentaranya yang gagah perkasa tetap bergerak maju dan menyerang, bahkan Tuhan melemparkan batu-batu besar dari langit untuk menghancurkan mereka dengan hujan batu. Kalau sudah Tuhan berkenan maka jangan takut, Allah menolong umat~Nya. Amin. (KAP)

Kamis, 26 April 2012

Kisah Paras Rasul 2 : 37 – 42


BERTOBATLAH DAN MEMBERI DIRIMU DIBAPTIS

Pertobatan, pengampunan dosa, dan baptisan merupakan syarat-syarat mula-mula untuk menerima karunia Roh Kudus. Akan tetapi, tuntutan Petrus bahwa para pendengarnya harus dibaptiskan dahulu di dalam air sebelum menerima janji Roh Kudus jangan dipandang sebagai syarat mutlak untuk kepenuhan Roh, demikian pula baptisan dalam Roh bukan akibat langsung dari baptisan dalam air. Dalam situasi ini, Petrus menuntut baptisan air sebelum menerima janji itu karena dalam pemikiran para pendengar Yahudi, upacara baptisan dianggap sebagai termasuk dalam keputusan pertobatan. Akan tetapi, baptisan air tidak mendahului baptisan Roh dalam peristiwa yang dicatat dalam Pasal 9 : 17-18 (Rasul Paulus) dan pasal 10 : 44-48 (keluarga Kornelius). Setiap orang percaya setelah bertobat karena dosanya dan dengan iman menerima Yesus Kristus, harus menerima secara pribadi baptisan Roh Kudus. Di dalam nas ini karunia Roh Kudus jelas didambakan, dicari, dan diterima untuk diri sendiri; satu-satunya perkecualian diterima Perjanjian Baru mungkin terdapat dalam kasus Kornelius. Oleh karena itu, baptisan dalam Roh jangan dianggap sebagai karunia yang diberikan secara otomatis kepada seseorang yang percaya kepada Kristus.

Seruan pertobatan ada juga dituliskan dalam nas lain seperti Markus 1 : 15, Matius 3 :2, Markus 6 : 12, Lukas 5 : 32, Lukas 13 : 3 semuanya sangat memberi pedoman hidup untuk segera bertobat, karena pertobatan itu adalah suatu sikap untuk kembali kepada jalan kebenaran dan hidup. Karena memang itu adalah langkah awal untuk melakukan hubungan baik dengan Allah sehingga adanya suatu proses pendewasaan iman menjadi lebih baik dari sebelumnya. Begitu pula dengan baptisan, jelas dikatakan bahwa “satu Tuhan satu iman, satu baptisan” (Efesus 4 :5). Jadi pertobatan bagi yang sudah dibaptis tidak perlu melakukan baptisan ulang karena hanya satu kali dalam baptisan itu sendiri. Untuk itu marilah kita yang sudah dibaptis menjadikan pertobatan itu bagian dari pembaptisan yang sudah kita terima sebelumnya.

Tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan tanpa berbalik kepada Allah dengan pertobatan untuk memutuskan semua hubungan persekutuan jahat, meninggalkan dunia yang fasik, serta bersatu dengan Kristus dan umat~Nya dan memberi diri kepada pekerjaan Allah. Amin (KAP)


Rabu, 25 April 2012

Roma 8 : 22 – 27


PENGHARAPAN

Paulus dalam nas ini mengatakan ada 3 jenis keluhan yaitu keluhan ciptaan (ayat 22), orang percaya (ayat 23) Dan Roh Kudus (ayat 26). Ciptaan Allah dikiaskan sebagai seorang ibu yang bersalin. Memang gambaran itu sangat tepat, karena penderitaan yang dialami sangat susah, tetapi ada tujuan dan harapan yang indah, sama seperti pengalaman seorang ibu yang mau melahirkan. Lebih lanjut mengenai rintihan yang ke dua, yaitu rintihan orang percaya yang hidup menurut Roh Allah adalah kehadiran Roh Kudus dalam kita dan juga karya Roh Kudus dalam diri kita yang diuraikan dalam nas ini  menyebut bahwa Allah menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh karena Roh~Nya yang diam di dalam kita. Sekarang secara tidak lengkap Roh Allah melayani kita, atau "memimpin" kita, sehingga tubuh jasmani kita dipakai untuk menyatakan hidup Allah, tetapi mengingat apa yang dikatakan dalam ayat 26 rupanya pelayanan Roh zaman ini tidak menutup semua "kelemahan-kelemahan kita". Kalau tubuh jasmani kita sudah dibangkitkan, maka kita akan menyatakan hidup Allah secara sempurna. Dalam hidup kita harus puas dengan buah sulung Roh. Tetapi secara praktis, hasil tersebut tidak memuaskan, sehingga kita juga merintih dalam hati.

Orang percaya yang hidup menurut Roh Allah memang "merintih", karena tidak puas dengan kerohanian dirinya sendiri, tetapi keadaan tidak puas tersebut diimbangi dengan unsur pengharapan yang dimiliki. Tetapi Paulus mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya pengharapan merupakan sesuatu yang belum dilihat, atau belum dialami. Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun (ayat 25). Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya berdoa; tetapi roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan – keluhan yang tidak terucapkan. 

Bukan hanya itu saja, tetapi kita juga bermegah dalam kesengsaraan karena kita tahu bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan. "Paulus tidak menawarkan kehidupan Kristen yang bebas penderitaan. Dia menawarkan kehidupan Kristen yang susah, di mana kita merintih, tetapi rintihan kita disertai dengan pengharapan, dan pengharapan kita disertai dengan ketekunan. Jadi kesabaran menghasilkan suatu watak yang kuat dalam diri kita serta menolong kita supaya senantiasa lebih mempercayai Allah setiap kali kita bersabar, sampai akhirnya pengharapan dan iman kita menjadi kuat dan teguh. Amin (KAP)

Sabtu, 21 April 2012

Bilangan 15 : 1 - 31

PERSEMBAHKAN YANG TERBAIK BAGI TUHAN

Pada waktu Tuhan berfirman kepada Musa untuk disampaikan kepada orang Israel ada 2 hal yang penting yaitu (1). Korban api-apian (ayat 1-21) dan (2). Dosa yang tidak disengaja (ayat 22-31).  Untuk hal yang pertama adalah persembahan korban api-apian bagi Tuhan bertujuan menghasilkan bau yang menyenangkan hati Tuhan baik korban bakaran atau korban sembelihan, baik untuk membayar suatu nazar khusus atau sebagai persembahan sukarela atau pada waktu perayaan-perayaan (ayat 3). Sedangkan untuk hal kedua adalah berkaitan dengan dosa yang dilakukan tidak sengaja yang melalaikan salah satu dari perintah Tuhan yang telah di Firmankan kepada Musa maka akibatnya harus melakukan pengampunan dosa dengan melakukan korban persembahan untuk menghapus dosa, imam harus mengadakan perdamaian bagi segenap umat Israel sehingga mereka beroleh pengampunan (ayat  25). Namun Sebaliknya jika perbuatan itu dilakukan dengan sengaja baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista Tuhan, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya. Sebab ia telah memandang hina terhadap Tuhan dan merombak perintah~Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahan akan tertimpa atasnya (ayat 30-31)

Bagaimana dengan nas ini dimasa sekarang ? tentu korban persembahan yang terbaik adalah tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan dihadapan Allah dan dan dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan dihadapan Allah  (Roma 12 : 1-2). Oleh sebab itu marilah kita, oleh Dia senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kita lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban – korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah (Ibrani 13 : 15-16).

Demikian pula dalam hidup kita sehari – hari juga ada perbuatan yang dilakukan tanpa sengaja yang melanggar hukum positif, adapun kesalahan ini biasanya dibedakan hukumannya dengan perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Kalau perbuatan sengaja hukumannya lebih besar dibandingkan dengan perbuatan tidak sengaja dan perbuatan tidak sengaja itu cendrung disebut dengan pelanggaran bukan kelompok kejahatan. Jelasnya memang perbuatan sengaja sudah pasti hukuman lebih berat daripada perbuatan tidak sengaja. Hal ini berbanding lurus dengan nas ini makanya ada peluang untuk pengampunan dosa dari ketidaksengajaan, sedangkan perbuatan yang sengaja harus dimusnahkan atau dilenyapkan dari muka bumi. Amin (KAP)